Siap bersaing?

Apa perasaan kalian saat tahu bahwa di dunia pendidikan kita sekarang lebih banyak tenaga pengajar asing yang bekerja di sekolah kita? Sekolah yang lokasinya masih di Indonesia raya tercinta ini loh?

Biasa aja ya?

atau kalian nggak perduli mungkin?

Ya terserah sih ya, ini asli deh postingan yang saya buat hanya berdasarkan gundah-gulana saya sebagai salah satu tenaga pengajar lokal yang semakin bertanya-tanya atas keberadaan tenaga pengajar asing yang semakin membludak aja di negeri tercinta kita ini. I mean, it’s ok sih, kita memang mengakui bahwa kita masih perlu banyak belajar dari mereka, tapi bila jumlah mereka lebih banyak dari kita guru lokal, apa iya kita nggak mau resah? ada apa sama mutu pengajar lokal kita? kemana para tamatan sarjana pendidikan itu? 

Ok, sebelum kita mulai menjawab satu-persatu pertanyaan atau keresahan yang selalu ada dalam benak saya itu, saya mau cerita dulu ya tentang apa yang saya alami selama kurang lebih 11 tahun berkecimpung didunia mengajar.

Saya mulai mengajar sebagai dosen honorer di universitas tempat saya berkuliah dulu, tapi saya merasa belum cocok lah, anak s1 kok ngajar s1 (gitulah kira-kira komen nyinyir orang sekitar waktu itu) yowes, akhirnya saya yang dari dulu suka sama dunia anak-anak, mencoba melamar di sekolah-sekolah national plus/international school di Jakarta.Dapatlah ngajar di Sekolah national plus yang waktu itu lokasinya di Wisma Subud- Jak-sel. Di sekolah ini, murid-muridnya datang dari berbagai negara, dan banyak juga yang half-indonesian. So, wajar ya kalau banyak guru native speakernya. Mostly dari Australia. Karena sekolah ini berbasis kuruikulum Australia. Tapi seingat saya, waktu itu guru lokalnya juga banyak, dan menurut saya guru lokal tetap jumlahnya lebih banyak dari guru asing. Guru lokalnya memang rata-rata yang punya kualitas sih. Bukan tipe guru-guru jadul yang konvensional itu. Waktu itu saya mengajar di lembaga learning centre (anak-anak penderita autisme). 

Lalu saya pindah ke sekolah national plus lainnya di Jakarta-Barat. Di sekolah ini juga ada satu guru berkebangsaan Amerika, lalu beberapa guru dari Philippine dan ada 2 or tiga guru dari India. (Orang India dan phillipine maksudnya). Tapi tetap, waktu itu masih lebih banyak guru lokalnya. Gak tau deh sekarang.

Sekolah selanjutnya tempat saya bekerja ada di daerah Menteng. Nah disini sekolahnya kecil, cuma ada 6 kelas waktu itu. Itu artinya homeroom teachernya cuma ada 6 donk ya. Waktu itu  perbandingannya masih balance. Tiga guru lokal dan tiga guru dari Phillippine.

Lalu saya pindah ke tempat saya mengajar sekarang ini. Ditempat saya mengajar ini dulu waktu awal sekolah ini buka, cuma ada 4 orang asing (Semua dari Phillippine). dan sekarang setelah tahun ke 6 saya mengajar, coba tebak ada berapa guru asingnya? bok!!! mereka udah ada 13 orang aja donk! Gilingan kan ye! Yang bikin saya terheran-heran adalah, tahun ajaran ini ga ada satupun homeroom teacher lokal yang di hire. 

What’s wrong? 

Ok, firstly ya iyalah tentu dengan sekolah yang ber-embel-embel national plus/international school, para orang tua murid yang udah bayarnya muahaaaall banget itu pasti ekspektasinya tinggi juga donk dengan mutu pendidikan yang akan didapatkan oleh anak mereka. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas tadi, maka kita harus tau dulu apa alasan mereka menyekolahkan anak mereka disekolah internatioanal yang mahal banget itu?

Ok, alasan mereka selain punya mutu pendidikan yang tinggi dan bagus, juga fasilitas kece tentunya alasan utamanya adalah supaya anak-anak mereka dapat berbahasa Inggris secara aktif, atau dengan kata lain :

 To be able to speak English fluently. As fluent as possible. KALO BISA CAS-CIS CUS-MACAM ORANG AMERIKAAHHHH 😀 😀

Dalam tulisan saya ini, saya tidak mau menilai baik buruknya sekolah national or international, atau baik buruknya sekolah yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa apapun yang dipelajari disekolah itu.

 Dalam tulisan ini saya hanya mempertanyakan: Dimanakah para tamatan or lulusan sarjana pendidikan itu? yang nota-bene memang semestinya menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dulu untuk diterapkan di lembaga pendidikan. Tentu, lagi-lagi tulisan ini tidak akan menilai baik-buruknya punya profesi guru meski seseorang punya background sarjana pendidikan atau tidak. Tapi sejujurnya, saya cuma mau bertanya, tidak ada lagi kah stok guru lokal yang berkualitas? yang siap bersaing dengan para guru asing yang makin membanjiri negara kita ini?

Saya tahu banyak sekali sebenarnya orang-orang berpotensi yang bisa menjadi tenaga pengajar lokal di sekolah-sekolah bertaraf international, baik itu dari sarjana pendidikan atau bukan. Tapi mungkin tidak semua punya passion or minat yang sama terhadap dunia pendidikan ini. Saya pribadi adalah orang yang masih jauh dari “bagus” or “berkualitas tinggi” dalam dunia mengajar or sebagai tenaga pengajar. Tapi saya punya passion yang saya rasa cukup besar dan itu sebabnya saya masih terus belajar setiap hari. Proses belajar saya kadang melalui rekan kerja sesama guru, buku yang saya baca, atau bahkan dari blog para guru-guru kece diluar negeri sana. *ya ampunnn sering speechless liat ide-ide dan kreatifitas mereka*. Saya sering intip jenis-jenis aktivitas yang mendukung kreativitas anak dan saya sering aplikasikan pada murid saya. Ya istilah kerennya, saya nyontek ide-idenya mereka gitulah, dan kadang ya musti di modif-modif dikit menyesuaikan dengan sikon.

Apa yang mau saya sampaikan disini adalah, betapa sedikitnya peminat untuk menjadi guru. Guru yang berkualitas, guru yang punya dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Kira-kira kenapa ya?

Jiahhhh pake nanya! ya pasti karena gajinya seumprit kan Jo!

*hening sejenak*

😀

Eh tapi siapa bilang gaji guru itu  gak ada yang gede? tergantung situ negonya bagus gak? hehehehe…..ga dink becanda! ya tapi gini, jangan salah ya, banyak kok guru-guru lokal yang gajinya hampir sama dengan guru asing yang dari asia (india dan phillippine) Tapi kalau mau sama dengan mereka, ya guru lokalnya setidaknya punya kualitas dan kemampuan yang menyamai juga donk. Ya mutu mengajarnya, ya English skillnya! Beugghhh ! gede juga tantangannya ya. Tapi ya gimana donk? kita kan mau bersaing nih! Jadi kalau mau meningkat secara karir or jumlah materi yang didapatkan, udah pasti harus kerja keras juga donk dalam meningkatkan mutu dalam diri sendiri kan. Asal inget ye, kalau mau jadi kaya, yah jangan jadi guru. hihihi 😀

pic borrowed from pinterest

pic borrowed from pinterest

Di kampus tempat saya kuliah dulu, jumlah mahisiswa pendidikan adalah yang paling sedikit. Saking sedikitnya, ampe malu mau deh mau nyebutinnya. Eh tapi ngapain malu dink ya. Jadi teman sekelas dulu (yang seangkatan) hanya 12 orang saja (dah macam 12 murid yesus kan) Dan saya ingat waktu itu para dosen dari fakultas pendidikan pada bilang kalau angkatan kali ini paling banyak jumlahnya mahasiswa/i nya. Whatttt….????? 12 dibilang banyak? lah trus yang tahun-tahun sebelumnya berapa donk? yak…jangan pada pingsan ye bacanya… kakak-kakak angkatan kita terdahulu ada loh yang cuma ber-4 doank sekelas…eh tunggu dulu…belum pingsan kan? ada juga deh yang cuma berdua dan bahkan satu orang saja…..huhuhuhu ga ngebayang dah itu gimana suasana kuliahnya ya, dah macam les private aja ya. Andaikan dosennya seganteng Bradley Cooper atau Christian Bale sih mungkin ga masalah, yang ada betah-betah aja. Tapi ya situ tau sendiri ye kenyataan berkata lain. 😀

images (1)

Fakultas pendidikan ini emang paling kurang diminati sih di beberapa universitas. Tapi setau saya, di Kampus Atma Jaya (tempat saya kuliah pasca sarjana dulu) mahisiswa pendidikan nya lumayan banyak loh. Ya tapi tetep ga sebanyak jurusan Akutansi dan kedokteran dan jurusan lain. Yaiyalah ya, orang pasti mikir juga ngapain kuliah mahal-mahal eh endingnya jadi guru.

Tapi ya kalo seseorang punya passion dalam dunia mengajar, dan punya kesempatan untuk mengembangkan kualitas dalam dirinya, kenapa ga jadi tenaga pengajar aja? Yuk, kita sama-sama membangun bangsa ini khususnya dari segi pendidikan, memperbaiki dunia pendidikan indonesia yang udah makin bobrok aja. Kalau bisa sih menghapus cara-cara konvensional itu. Saya sih gemes banget pengen menghapus adanya UN (ujian nasional) Errrrrrr…dan banyak lagilah yang mau dibenahi.

Jadi kalau ada yang kebetulan baca tulisan ini dan merasa punya passion dan kemampuan untuk menjadi tenaga mengajar, ga ada salahnya bergabung menjadi salah satu tenaga pendidik untuk ikut serta memajukan bangsa ini dari segi pendidikan. Mosok seh musti import-import tenaga pengajar dari negara asing melulu? apalagi negara asingnya cuma negara tetangga deket aja.

WHICH IS IN MANY WAYS, WE ARE FAR BETTER THAN THEM! TRUST ME! TRUST ME!

Teacher-Quote_thumb[1]

So, buat yang punya adik-adik or saudara  yang sekiranya masih ragu mau ambil jurusan apa di kuliahnya, Fakultas pendidikan bisa menjadi salah satu alternatif. Iya, masa depan kalian mungkin ga akan secerah para dokter dan insinyiur or para pengacara, tapi sekiranya punya panggilan jiwa untuk mengajar, kenapa nggak kan? *ini kenapa gue kayak maksa dan promosi abis-abisan fakultas gue gini ya?* hahahhahaa ya abissss eikeh desperate bok liat tenaga pengajar asing yang makin buanyakkkk ajeeeee plek-numplek-plek dinegara kita ini. Semoga mereka di hire emang karena kualitas mengajarnya, bukan hanya karena mereka cas-cis-cus eh ternyata class managementnya aja amburadul……bisa moydarrr deh itu yang jadi owner sekolahnya. Rugi bandar bok! udahlah gajinye selangit, musti bayar dan ngurusin ijin kerja, nyediain tiket pp kenegara asalnya minimal setaon sekali, plus nyediain apartemen or tempat tinggal. HAISSSSHHH! 

Tapi ya, sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menunjukkan ketidaksukaan saya terhadap orang asing yang menjadi tenaga pengajar di sekolah kita, tapi kok ya rasanya rugi betul ya bayar mahal-mahal tapi dapat guru asing yang ga punya tanggung jawab or dedikasi terhadap pendidikan. Saya senang dengan kehadiran mereka, karena secara pribadi saya jadi bisa banyak belajar dari mereka (mereka ini yang punya kualitas aje ye, ada juga soale guru expat abal-abal).

Semoga tulisan ini menjadi bahan pengingat buat kita, bahwa dunia pendidikan kita ini masih butuh banyak dan banyak lagi orang-orang muda yang punya passion, punya dedikasi dalam dunia mengajar, supaya nantinya kita dapat bersaing dengan guru-guru asing itu dan ngusir mereka secara perlahan HAHAHAHA….ini piye toh, katanya ga masyalahhh ama guru asing…..eh sekarang pengen ngusir. hihihihi becanda ah! maksud saya gini loh, kalau misalnya semakin banyak tenaga pengajar lokal yang punya kualitas international, buat apa toh hire guru asing yang terlalu banyak? Nggak apa-apa hire guru asing beberapa, tapi harus diseleksi yang bener-bener bagus dan punya dedikasi dalam dunia pendidikan, ga cuma modal cas-cis-cus aje ye!

Uhuyyyyy!!! akhirnya lega bener deh ini udah mencurcolkan isi hati dah kegundah-gulanaan ku!

semoga tulisan ini bisa ditanggpai dengan postif ya. Kalaupun ada yang tidak setuju dengan tulisan saya diatas, please  dimaklumi saja, soale ini cuma mengeluarkan keresahan  hati aja sih. Hihihihi…

Eh sebenernya masih banyak sih aspek-aspek yang berkaitan dengan topik saya kali ini, tapi maap deh, ini aja udah panjang betulllll…ngantuk bo!!!!

So, Siap bersaing? yuk mareeeeeeeee!!!! 😀

xoxo

teacherJoeyz

Advertisements

38 thoughts on “Siap bersaing?

  1. Klo aku malah lg mupeng berat pengen jd guru mb. Tp apadaya bukan lulusan pendidikan, gak punya akta mengajar, pengalaman kerjanya malah di bidang engineering ama perbankan. Jauuuuh bgt lah dr dunia ajar mengajar.
    Tp dalam hati kecil tetep ada keinginan buat jd guru sih. Semoga nanti ada jalannya. Xixixixi.. ^^,

    • Wah keren deh kalo kamu emang punya minat jd guru….coba cari tau aja tentang skolah atau lembaga pendidikan yang bisa terima part time…iya semoga ada jalannya ya… makasih dah mampir ilmiy…

  2. Panjang komenku. I love you teachers kah dalam kamusku dan Edi. Nanti deh klo ktemu laptop ini di hape males panjang. Jangan-jangan aku komen satu postingan ihik. Kesimpulannya aku setujuuuuh sama semua semua yg kau bilang.

    • gapapa mak…sepanjang apapun pasti kubaca itu
      dan aku adalah guru yang sangat respect kepada para orangtua model2 kayak kau dna bang eddy gini….suka terharu biru gitu aku kalo ada orang tua yang jabat tanganku sambil bilang makasih udah mengajar anak saya setahun ini. dan bla-bla….ga penting itu gift-gift pemberian ortu murid yang keren2 itu(walau tetep seneng juga sih nerimanya hahaha) tapi reward paling keren waktu ngajar adalah ketika anak berhasil melewati masa pendidkan yang menyenagkan dan mereka masih merindukan kita sebagai gurunya. Juga jabat tangan dari orang tua yang appreciate gurunya. Ahhhhh pengen tak peluk jadinya!

  3. Apalagi tahun depan AFTA udah berlaku kan. Makin banyaklah tenaga asing yg bukan cuma pengajar, kerja di sini. Negara korup, sistem pendidikan pun sudah pasti korup dari atas sampai bawah. Mungkin disinilah perlu revolusi mental yg didengungkan presiden terpilih sekarang.

  4. Semoga tenaga pendidik kita lebih baik lagi ke depannya, menurut perkiraan saya.. hal ini sangat mengkhawatirkan kondisi negara kita kedepannya kalau kualitas tenaga pendidiknya, gimana coba negara kita akan lebih baik ke depan nya?

    • Bener banget. Semua pihak harus mendukung. Pemerintahnya dalam soal kesejahteraan gurunya. Lalu si guru itu sendiri dalam peningkatan skill mengajar dan english, pihak sekolah yang lebih percaya pada kualitas guru likal dan pihak ortu murid yang tidak menganggap remeh kualitas guru lokal itu sendiri. Suka gengsi kan ortu muridnya…mereka merasa keren kalo guru anak mereka expat….

    • hahaha, lupa bilang aku ji, dari antara 12 itu yang tamat sampe wisuda cuma 8 orang sajah. sisanya berguguran ditengah jalan dan beberapa pindah jurusan.hihihihi…ngenes banget kan!

      • Parah banget ya, salahin mindset orang2 yang bilang jadi guru ga bisa sejahtera (Baca kaya). salahin pemerintah juga yg ga aware dengan kehiupan para pendidik bangsa. Tsaelah berat yak bahasanya

  5. pantes di gereja2 katolik selalu ada program beasiswa utk kuliah theologi dan pendidikan di atmajaya kak.. jadi full gereja dan paroki yg bayarin, bagi murid lulusan SMA yg bersedia kuliah antara theologi atau pendidikan di atma.. mgkn karna muridnya terlalu sedikit yah 2 jurusan itu 🙂
    aku pernah ditawarin juga, cuma aku mintanya beasiswa utk jurusan akuntansi or psikologi, gereja gamau bayarin hehe
    setuju 100% sama kak Jo, tenaga kerja lokal ga kalah kualitas sama tenaga asing kok.. hanya aja sistem di indonesia yg entah mengapa sepertinya lebih menghargai tenaga asing dibanding lokal, akibatnya WNI yg berkualitas malah kerja keluar negri karna lebih dihargai disana 🙂

    • Oh pantes mahasiswa pendidikan di atma lumayan banyak hahahha……
      nah itu dia, wni yang berkualitas banyak yang keluar, secara dinegara sendiri ga dihargai kan….huhuhuh sedih ya

  6. Yah mungkin harus diperbaiki aja ya kualitas pendidikan untuk jadi guru di Indo. Terutama bahasa inggris nya emang. Beberapa kali gw liat dari postingan di socmed, guru anaknya nulis pake bhs inggris tp grammar nya acakadut. Gimana coba kalo jd guru tp ngajarin grammar nya salah? 🙂

    • Ok lah soal bahasa Inggris ini emang masih jadi PR banget. Tapi tau sendiri kan, Disini sekolah-sekolah tuh bisa aja nge-hire guru lokal yang bagus secara skill mengajar dan Englishnya, tapi sayang pihak sekolah akan mempertimbangkan salarynya. contoh kasus misalnya begini:, ada guru indo yang senior udah interview dan demo teaching, bagus. Lalu ga diterima, tiba-tiba yang di hire orang pinoy yang notabene langsung diimport dari sono, bok!!! dia aja ga pake demo teaching, darimana pihak sekolah tau kalo dia punya good teaching skill dan bisa nge handle anak? alasannya? karena salary yang diminta si guru lokal berkualitas itu sama or beda dikit aja dengan guru pinoy yang belom ketauan skill mengajarnya itu. Jadi ya judulnya, demi gengsi!
      so it’s all about the money sih 🙂

      btw, memang di negara kita tenaga pendidiknya belum siap untuk go international (jadi ya musti import2 itulah) makanya kan aku bilang, siap bersaing ga? sayangnya kita banyak yang belum siap bersaing. Dan kalau keadaan begini terus ya kita makin terjajah dinegara sendiri.

      • iya jadi lingkaran setan. karena pendidikan buat guru nya sendiri kurang. jadi kayaknya booming sekolah international di indonesia ini harusnya dibarengin dengan booming sekolah guru yang lebih berkualitas.

  7. Bagus Jo posnya. Eh aku jadi penasaran, apakah ada peraturan departemen tenaga kerja mengenai batas jumlah orang asing disatu perusahaan/organisasi di Indonesia? Seperti proteksionisme gitu. Dan memang betul ya, guru berbangsa asing bukan berarti lebih baik dari guru lokal.

    Btw, trend tentang berkurangnya orang yang minat jadi guru, khususnya guru tk & SD juga sama tuh di Belanda. Anak jaman sekarang animonya hampir ngga ada jadi pengajar.

    Sukses terus ya Jo, mengajar itu profesi yang mulia karena buat orang yang ngga tahu jadi tahu.

    • Mba yo, memang ada peraturan dari pemerintah, tadi aku baru nanya kepsek SD diskolah ku, katanya perbandingannya 20-80 (20% guru asing dan 80% guru lokal). Sayangnya para asisten guru (yang notabene sebenernya ga ngajar) juga diitung guru, jadi bisa nutupin si 80 % itu.

      Oh di Belanda juga ya? abis gaji guru ga segede gaji profesi lain kali. Jadi ngerasa sia-sia udah kuliah bayarnya sama eh masa depannya ga secerah jurusan lain. (tapi ya itu tadi, susah kalo ga dari dalem hati)

      thank you mba yo, semoga pendidkan di Indonesia semakin maju.

  8. Dear TeacherJoeyz..
    Sayah tau anda salah satu pengajar lokal yg berkualitas..kampus anda pst okeh bgt..buktinya dr 1,4 sampe 12 murid yg msk pendidikan..
    Sekolah anak sayah pst siap menerima guru macam anda..Tp jgn tnya soal salary yak…Yg penting kan dedikasi sbg pendidik..haha.. en yg pst pelayanannya utk sekolah Tuhan… 🙂

    • Hoiiiii rinaaaa hondoooooo! ini pasti gegera si debby share di fb deh postingan gue ini…elu bisa nyasar dimari…..

      kampus kita dulu kan emang memprihatinkan noy jumlah masiswa jurusan pendidikannya. Gue inget ada namanya ka asnat, angkatan laki lu, dia tadinya berdua doank satu angkatan, eh yang satu mundur ga kuliah lagi, udah deh dia tinggal dewe…..

      sekolah anak lu jauh sih diciledug! hihihi

  9. hehehe….gw..gw…gw yg ogah jadi guru padahal dah disemprul emak gw buat jadi guru dari dulu…
    kenapa? ya…karena emang cita-citanya mau jadi anchor bukan guru, walaupun ujung2nya gak jadi anchor juga.
    Eh….tapi beneran sekarang kalo ada yang mau ngajakin gw jadi guru freelance gw mau koq…gratis…
    ya…pelajarannya sesuai dengan kapasitas gw ya…
    Gw tuh suka gemes kalo denger cerita tentanga gw tentang guru di sekolah negeri. Jadi gemes banget pengen kudeta tuh sekolah negeri.

    • ya tapi bener lah tindakanmu, jangan jadi guru ah kalo emang ga dari hari…karna dijamin ga akan seneng ngejalaninnya..

      emang disekolah negeri gimana sih? *asli ga pernah tau

      • gw dari sd sampe kuliah di sekolah negeri…
        hehehe…miris lah, tapi karena mampunya dulu segitu…ya…heppy-heppy aja ngejalaninya…
        duduk empit-empitan bertiga…
        kalo kualitas guru jangan ditanya deh….banyak makan gaji buta…
        suruh nyatet sepanjang pelajaran, beli LKS, trus mereka ongkang-ongkang kaki…kadang masuk kelas kadang enggak…kalo ditanya gak tau, kalo dikritik ngamuk-ngamuk…
        hanya satu-dua guru lah yg bener-bener bertanggung jawab ngajar.
        jadi…dulu gw banyakan belajar sendiri, kerjaan gw di sekolah cuma buat tidur, main, tepe-tepe, gosip dan ngobrol…
        trus…kalo gw dah bisa gw yang ngajarin gurunya…
        tiap ujian…gw koq yang disuruh ngoreksi ujian temen-temen (hush…ini rahasia sebenernya)
        kadang ada guru yang nyebelin, suka ngajar seenaknya, bodoh amat muridnya mau pinter apa enggak atau gimana perkembangan akhlaknya.
        Mereka bahkan suka ngasih contoh yang buruk, misalnya pilih kasih sama murid (sayang sama murid yang suka nyogok misalnya)

        Gimana mereka mau bersaing coba?
        Wong mereka juga tadinya jadi guru karena terpaksa kan?
        ehh…tapi kalo guru SMU udah lumayan lah..bertanggung jawab ngajar tapi gak pinter…*sok pinter ini ceritanya…., soalnya pelajaran yang dikasih bener-bener gak menantang dan basic banget.
        Gw baru ngerasain belajar dari guru itu waktu kuliah….dosen-dosennya emang pinter-pinter and inspiring. jadi…yang biasanya gw tidur mulu di kelas, waktu kuliah gw malah seger buger dan seneng banget kuliah.

        Gak tau kalo sekarang ya…dengan kurikulum yang baru dan adanya insentif triwulan dan gaji yang udah dinaikin apa kualitasnya juga membaik *tanyakan pada rumput yang bergoyang…

  10. Taon depan setelah AFTA lebih seerem lagi dong mereka berdatangan. pasti makin banyak kan ya 😦
    udah gitu disini bule yang cuman turis kehabisan duit aja bisa loh dihire buat ngajar2 les atau di sekolah. aku belon liat sih baru denger2 doang. gak tau bener apa gak

    • ohhhh iya pernah denger juga ttg itu…cuma modal cas cis us bisa ngajar….yg penting skolahnya bisa ngejual….oh ada bulenya ya…duilehhhh kesian murid n ortunya..ketipu…dikata jd guru gampang

  11. Iya juga ya, siapa tahu penyebabnya juga adalah “supply” guru lokal yang kurang banyak ya (secara jurusannya kurang diminati relatif dibandingkan jurusan-jurusan lain gitu).

    Cuma yang agak miris adalah banyak orangtua Indonesia yang mengagung-agungkan bahasa Inggris banget ya. Ini sungguh berkebalikan dengan situasi di Belanda 🙂 . Dimana anak kecil justru didorong untuk belajar bahasa ibu (buat anak kecil non-Belanda), dan di sekolahnya belajar bahasa Belanda dan nantinya bahasa Inggris 🙂 . Bahasa Inggris memang penting sih, kan bahasa internasional, tetapi bahasa Indonesia juga nggak kalah penting dong. Apalagi sekolahnya di Indonesia gitu, hehehe 🙂 .

    • Kurang diminati memang betul ko, tapi banyak juga kok sarjana pendidikan yang ga mau ngajar, atau bahkan nganggur, Kenapa? mungkin ga siap bersaing (secara skill) ga siap terjun dalam dunia mengajar itu sendiri. Skill yang dibutuhkan bukan cuma kemampuan mengajar, tapi juga English yang excellent (nah bagian ini susah).

      Aku ngajarin anakku juga bahasa ibu dulu (indonesia) karena aku tahu, toh nanti disekolah dia belajar bahasa inggris. Anakku yang pertama sekarang sudah TK-A dia udah mulai bicara bahasa inggris walau belepotan. So kupikir, kalau dia pede berbicara dengan bahasa ibunya, niscaya dia mudah belajra bahasa asing apapun itu. (yah at least itu teori yang kupelajari dulu)

      Iya emang suka heran juga liat anak indonesia yang ortunya orang indonesia, lahir diindonesia, sekolah dan tinggal di indonesia tapi gak tauh berbahasa indonesia, dan yang paling menyedihkan adalah…mereka bangga pulak menyebutkan bahwa anak mereka ga bisa berbahasa indonesia……oh my!!!!!

  12. Ampun kalau kenyataanya di lapangan lulusan sarjanah pendidikan banyak banget joe namun entah kenapa sekolahan banyak yang ngak butuh mereka atau mungkin para lulusanya masih pilih – pilih entah lah…
    Kalau ngak butuh kenapa juga Adik aku mesti kerja di 3 sekolahan sekaligus sebagai guru honorer…

    • Nah, memang sarjana pendidikan banyak mba ria, tapi yang siap turun kelapangan mungkin ga banyak. Misalnya skill mengajar yang baik, mengerti class mangament, and have the real passion for teaching. Lalu sekarang ini kalau pengen ngajar disekolah yang bagus, maka demand dari pihak sekolah juga banyak terhadap kita gurunya.
      Saat ini sih aku lagi ngomogin sekolah international or national plus yang mana banyak banget guru asingnya…dan makin menjamur aja. COba kalau guru lokalnya bisa bersaing, pasti perlahan kedatangan mereka kenegri kita juga makin sedikit.

      • Ya itu sih mbak….yang dibilang ko Arman bener, kita kurang di Bahasa Inggrisnya 🙂
        aku juga ngaku masih banyak harus belajar bahasa Inggrisnya. Makanya nulis di Blog ini kadang2 pake English bukan buat keren2an sih tapi buat practice aja 🙂 jadi harap maklum hehehe

  13. baru baca nih mba *perasaan taruh komen soal ini dah lama ya dipostingan saya*.
    Memang agak susah ya. Yang Ko Arman bilang soal grammar… saya sendiri juga kadang merasa masih banyak ngaco… gimana dong. hiks.

  14. Pingback: Test TOEFL Versi Bahasa Indonesia | Joeyz14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s