James dan Ellen (part 1)

“Beneran nih mau tiket berenangnya bang?” tanya Ellen saat itu, menawarkan dua buah tiket masuk gratis berenang pada James. Ellen memanggilnya bang! bukan abang tukang baso, tapi karena usia yang terpaut lumayan jauh diatas Ellen, mengharuskannya untuk memanggil James demikian.

“Iyalah, mau, besok aku mau berenang sama David.” jawabnya sambil mengambil tiket berenang itu dari tangan Ellen, disertai senyum malu-malu.

Itu bukanlah kali pertama James dan Ellen berkenalan, karena mereka berdua sudah saling mengenal semenjak mereka kecil, setidaknya saat itu Ellen masih duduk dibangku SD dan James di bangku SMU. Tapi tiket berenang gratis itulah awal dari semua kisah mereka.

Ellen tidak pernah tahu bahwa laki-laki yang biasa disapanya dengan panggilan ‘bang’ itu akhirnya menjadi seseorang yang sering mengiriminya pesan singkat atau SMS. Belum ada BBM atau Whatss App waktu itu. James pun seperti melihat lampu hijau saat membaca balasan demi balasan sms dari Ellen. Handphone yang tadinya jarang tersentuh, sekarang menjadi benda yang tak ingin lepas dari mata. Menantikan balasan-balasan SMS itu.

Sepulang dari kegiatan mengajar bahasa Inggris yang diadakan setiap minggu pagi untuk anak-anak kecil digereja, James datang menjemput Ellen. Tentu menjemputnya saat semua orang sudah pulang, supaya tidak ada yang tau kalau James hendak menjemput Ellen. Sssttt…… ini adalah MISI RAHASIA PERTAMA JAMES DAN ELLEN…..

“len, kamu laper ga?” James bertanya ragu, tepat saat mereka berdua tiba diparkiran didepan gereja.

“hmmm iya bang laper, kenapa? mau ngajak makan nih?” Β Ellen menjawab sambil memamerkan senyum lebarnya.

“makan nasi padang di depan sana yuk!” ajaknya dengan bahasa tubuh yang salah tingkah.

“yuk!” Ellen mengangguk pelan dan berjalan masuk kearah mobil.

Yak, benar sekali! Restoran padang Sederhana Bintaro adalah tempat kencan pertama untuk James dan Ellen.Sungguh bukanlah tempat yang romantis sama sekali. Untung hitungannya masih Restoran, bukan warung padang yang sering terlihat di setiap sudut kota Jakarta ini.

Setelah misi rahasia pertama berhasil dan lancar, maka disusunlah misi-misi rahasia lainnya. Tentu bukan ke Restoran Padang lagi! Kali ini levelnya naik sedikit. Ke Platinum Plaza Semanggi. James yang pemalu dan hampir tak bernyali itu pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapan didalam mobil saat perjalanan menuju Plaza Semanggi.

“Ellen, kamu ama aku aja mau nggak?”

“Haaa? apaa bang? ngaco ah!” Ellen seperti disamber gledek mendengar pernyataan barusan.

“Hmmmm nggak dink…nggak jadi..becanda ah!” James berdeham dan mengalihkan perhatiannya lurus kedepan.

Kalau Ellen merasa seperti habis disamber gledek saat mendengar pernyataan dari James barusan, maka James merasa seperti habis disayat-sayat pakai silet disertai kucuran perasan jeruk nipis saat melihat reaksi dan mendengar jawaban dari Ellen atas pernyataannya.Sakitanya disini!!! *nunjuk dada*

Tiba-tiba suasana mobil menjadi sangat hening tanpa suara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. James sendiri heran kenapa kalimat itu bisa tiba-tiba keluar dari mulutnya. Ini kali kedua sepanjang umur hidupnya untuk menyatakan cinta pada wanita. Memalukan memang, mengingat usia James yang saat itu sudah 29 tahun. Ya tapi apa mau dikata, belum pernah ada yang cocok dihati. Kali ini James yakin sekali akan pilihannya. Ellen sudah dikenalnya sejak lama, walaupun baru-baru ini Β saja sering ngobrol digereja. Selama ini Ellen selalu sekolah dan kuliah diluar Jakarta, Ellen hanya bertemu sesekali digereja saat Ellen pulang ke Jakarta saat liburan sekolah atau kuliah.

Atas dasar kencan pertama di restoran padang yang terbilang sukses itu, dan juga balasan-balasan sms dari Ellen yang menyejukkan hati, maka James yakin sekali bahwa Ellen pasti tau apa maksud perkataannya barusan. OK! Fine! James memang mengakui bahwa skillnya dalam merayu atau membuat wanita klepek-klepek tak berdaya dengan kata-kata adalah sangat jauh sekali dibawah garis kemiskinan.Strateginya kurang nampol!. Tapi nasi terlanjur jadi bubur, buburnya sekalian dikasih ayam dan kecap plus emping, biar jadi bubur ayam yang enak! yoweslah James dengan nekat dan percaya diri untuk tetap melanjutkan acara kencan kedua mereka ke plaza semanggi.

“Kamu mau makan dimana len?” James bertanya sesaat mereka tiba di Mall yang lumayan lengang dihari minggu siang itu.

“hmmm dimana ya? ga mau aneh-aneh ah makannya, platinum aja ya.” Ellen mengarahkan telunjuknya pada restoran yang mainstream itu. Penuh memang, tapi masih terlihat beberapa meja kosong disana.

“Yuk!” James berjalan dan Ellen menyamakan langkahnya disamping laki-laki yang cintanya baru saja ia tolak itu.

Ellen juga bingung apa benar ia menolak cinta James? apa memang James barusan benar-benar menyatakan perasaannya? yang pasti Ellen belum siap untuk segala bentuk pernyataan cinta dari pria manapun saat ini.

“Duduk disini aja ya len” James menunjuk sebuah meja kosong ditengah.

Ellen mengangguk cepat. Tak lama kemudian mereka memesan makanan mereka. Ellen memesan menu makan siang yang berat plus jus strawberry yang segar sekali. James memesan menu makanan yang sama dengan jus Sirsak sebagai minumannya. Jus sirsak dengan sedikit es dan tanpa gula. Saat menunggu pesanan datang, James sudah salah tingkah, lalu entah ada gendoruwo datang dari mana merasuki tubuh James, hingga ia sekali lagi mengulangi pernyataan atau entahlah itu pernyataan atau pertanyaan dimobil tadi.

“Ellen, kamu ama aku aja, mau nggak?”

Ellen terdiam sesaat, tapi ia tahu bahwa ia harus membuat suasana ini senetral mungkin.

Ebusettt deh ini laki, maju terus pantang mundur! Ujar Ellen dalam hati.

“Duh bang, pertanyaannya berat banget deh!” Ellen tersenyum mencoba sesantai mungkin.

Keduanya pun terdiam. Tanpa ada satupun yang berkata-kata.

And here it is….The awkward moment happen again!Β 

Syukurlah bahwa awkard moment itu tidak berlangsung lama, karena sang pramusaji datang membawa pesanan mereka. Ellen buru-buru menyesap jus strawberrynya. Semoga Jus strawberry yang ia puja-puja itu dapat membuat otaknya kembali bekerja dengan normal, setelah perkataan dari James yang untuk kedua kalinya dikumandangkan. Ellen sungguh tidak ingin menyakiti pria baik hati yang satu ini. Ia tidak ingin James berpikiran negatif tentangnya. Namun Ellen juga bingung ingin menjawab apa atas pertanyaannya.

Ellen memutar otaknya, berpikir keras bagaimana untuk mencairkan suasana yang terlanjur aneh ini. Peryataan cinta yang dilontarkan sudah dua kali ini sungguh membuat Ellen sedikit takut, ada banyak hal dalam benaknya saat mendengar pernyataan cinta dari James. Bila pernyataan pertama saat dimobil tadi, Ellen mengira bahwa James hanya bergurau, namun pernyataan kali kedua ini pastilah serius. Diteguknya jus stroberi itu sekali lagi dan berharap ia menemukan jawaban yang tepat untuk seseorang yang sedang duduk dihadapannya saat ini, seseorang yang sedang menunggu jawaban darinya dengan jantung yang berdegup kencang.

*TO BE CONTINUED*

 

Advertisements

24 thoughts on “James dan Ellen (part 1)

    • kagak tyk….ini ga ada maksud mau bikin penasaran….ngantuknya udah ga tertahankan….hihihii daripada endingnya ngaco ntar…hehehhe

      ini lanjutannya is in the making ya mem πŸ˜€

  1. Pingback: James dan Ellen (part 2) | Joeyz14

  2. Pingback: Kita Pasti Bisa! | Joeyz14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s