James dan Ellen (part 2)

Picture taken from here

Picture taken from here

Episode sebelumnya:

James dan Ellen (part 1) >>baca disini 

Ellen memutar otaknya, berpikir keras bagaimana untuk mencairkan suasana yang terlanjur aneh ini. Pernyataan cinta yang dilontarkan sudah dua kali ini sungguh membuat Ellen sedikit takut, ada banyak hal dalam benaknya saat mendengar pernyataan cinta dari James. Bila pernyataan pertama saat dimobil tadi, Ellen mengira bahwa James hanya bergurau, namun pernyataan kali kedua ini pastilah serius. Diteguknya jus stroberi itu sekali lagi dan berharap ia menemukan jawaban yang tepat untuk seseorang yang sedang duduk dihadapannya saat ini, seseorang yang sedang menunggu jawaban darinya dengan jantung yang berdegup kencang.

“Bang, maaf banget ya aku belum bisa untuk sekarang ini”. Ellen masih mencoba mencari kata-kata lanjutan yang tepat untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat yang tidak akan menyakitkan hati pria yang ada dihadapannya saat itu.

“Maaf…..banget ya bang!” Ellen mengulangi kata maafnya sekali lagi.

James hanya bisa tersenyum kecut saat mendengar kata-kata maaf yang baru terlontar dari mulut Ellen. Namun ada banyak pertanyaan yang ia ingin sampaikan pada Ellen saat itu. Kenapa? apa penyebabnya? Kenapa Ellen tidak bisa menerima cintanya? Ada yang salahkah dengan dirinya? Ada yang salahkah pada cara penyampaian cintanya? Lalu mengapa Ellen sepertinya menikmati setiap pertemuan mereka? mengapa Ellen memberi harapan? Apa Ellen hanya ingin mempermainkannya? Atau? oh ya! James teringat pada pacar atau mantan pacar? Ah entahlah! Beberapa bulan yang lalu ketika terakhir kali James melihat kunjungan pacar Ellen di gereja. Ah….Iya!!!! Kenapa James begitu bodoh! sampai melupakan sosok Andre yang selama ini suka wara-wiri bersama Ellen di gereja setiap Andre datang dari kota asalnya di Bontang sana untuk mengunjungi kekasihnya itu.

Ah James terlalu naif, sampai lupa pada Andre. Dimata James, Ellen dan Andre terlihat begitu serasi. Andre dengan tampangnya yang lumayan, punya kepribadian menarik dan sangat ramah itu sering membuat James minder dan ingin mundur teratur setiap kali Ellen terbesit dalam pikirannya. James memang sudah menyukai Ellen sejak lama. Setidaknya sejak Ellen lulus kuliah dan rutin bertemu digereja setiap sabtu. Bahkan Ellen pernah hadir dalam mimpi James, hanya karena Ellen secara tidak sengaja pernah iseng bercanda dengan James di dalam bis carteran gereja saat mereka pulang dari retret di puncak dulu. Bagi Ellen mungkin kalimat yang ia lontarkan saat di bis itu tidak berarti apa-apa. Namun bagi James, si pria yang amat sangat pemalu itu….semua kata-kata yang dilontarkan Ellen padanya sangat membekas dihati, hingga terbawa mimpi.

“bang! ga marah kan?” Ellen bertanya ragu, sambil melambaikan tangannya dihadapan wajah James yang terlihat sedikit kusut.

“Ah, nggak kok.” James tersadar dari lamunanannya.

“Len, boleh aku tanya sesuatu?” James membetulkan duduknya.

“Iya, mau tanya apa bang?” Ellen menjadi sedikit was-was dan penasaran akan pertanyaan James. 

“hmmm…jangan marah tapi ya!” 

“Kamu sama Andre, gimana sekarang?, masih?” Ada tersirat nada keraguan pada suara James saat melontarkan pertanyaan yang sedari tadi sudah mengganggu pikirannya.

Ellen tidak begitu terkejut dengan pertanyaan James barusan. Cepat atau lambat, pertanyaan itu pasti akan dilontarkan oleh siapa saja yang tahu akan hubungannya dengan Andre. Sebelum Ellen menjawab pertanyaan itu, ia seketika teringat sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan Andre. Ya kira-kira hampir enam bulan. Mereka memang mempunyai sebuah komitmen pada tahun ke empat mereka berpacaran, saat dimana mereka harus menjalani hubungan jarak jauh setelah tiga tahun selalu bersama-sama dikampus tempat mereka berkuliah dulu. Mereka berkomitmen bahwa mereka akan bertemu maksimum tiga bulan sekali. Apa pun caranya. Entah itu Andre yang datang ke Jakarta, atau sebaliknya. Namun memang ada banyak hal penyebab retaknya hubungan Ellen dan Andre beberapa bulan terakhir ini. Komunikasi yang sudah tidak lancar, komitmen yang dilanggar, dan banyak hal yang Ellen sendiri tidak sanggup untuk menyebutkannya.

Hubungan jarak jauh ini memang terasa lebih sulit dijalani walau hanya baru satu tahun.Tapi Ellen juga tidak tahu bagaimana mengakhiri hubungannya dengan Andre. Adakah Ellen masih menyimpan rasa cinta yang mendalam untuk Andre? meski ia tahu bahwa Andre telah mengkhianati cinta mereka? Adakah rasa takut kehilangan yang disimpan Ellen dalam lubuk hatinya?

Sekarang Ellen tahu, bahwa tidak mudah memutuskan hubungan yang sudah dijalin bertahun-tahun lamanya. Ellen akan menghadapi banyak pertanyaan dari semua yang mengetahui hubungannya dengan Andre. Pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Andrenya mana len?’ atau… ‘loh kok ga bareng Andre?’ bahkan pertanyaan ‘kenapa putus sama Andre? sayang loh udah lama padahal ya’. Ahhhhhh menyebalkan rasanya hanya dengan membayangkannya saja. Juga reaksi kedua keluarga yang sudah tahu hubungan mereka. Di mata keluarga Ellen, Andre adalah sosok pria yang yang sangat menyenangkan, yang mudah beradaptasi. Semua keluarga Ellen seakan ikut jatuh cinta pada sosok manis Andre, terlebih ibunya.

Ah, entah kenapa sekarang pikiran Ellen tertuju pada Andre. Apalagi sih yang diharapakannya dari Andre? cinta? kesetiaan? komitmen? Entahlah! Ellen pun bingung bagaimana menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh James barusan. Pertanyaan yang menanyakan tentang kejelasan statusnya dengan Andre sekarang ini. Pertanyaan yang bahkan Ellen sendiri pun tak tahu jawabannya.

Beberapa bulan terakhir ini memang banyak yang mengganjal dalam hubungan Ellen dan Andre. Keduanya sudah saling tahu bahwa memang hubungan ini sudah tidak bisa dilanjutkan lagi, tapi mereka tahu bahwa mereka harus menepati janji mereka saat pertama kali berpacaran dulu, bahwa saat mereka harus putus suatu saat nanti, apapun caranya, mereka harus bertemu dulu, tidak lewat telefon, email ataupun surat. Dengan kata lain, pernyataan putus harus diutarakan secara langsung. Namun yang terjadi sekarang sangat berbeda. Ellen dan Andre tidak bisa bertemu untuk saat ini, setidaknya dalam waktu dekat ini. Tidak ada salah satupun dari mereka yang ingin mengunjungi kota tempat pasangannya tinggal.Tapi mereka tahu jelas, bahwa hubungan ini cepat atau lambat pasti harus kandas juga. Hanya menunggu waktu.

“Bang, aku ga tau gimana mau ngejawabnya, tapi yang pasti hubungan kami bukan seperti orang pacaran lagi. Meskipun begitu, aku ga mau buru-buru untuk memulai hubungan lagi. Kasih aku waktu ya bang.” Ellen akhirnya dapat menyelesaikan kalimatnya itu. Kalimat yang dari tadi coba ia rangkai agar tedengar manis dan tidak menyakitkan.

Entah apa perasaan James saat itu, tapi yang pasti Ellen tetap berusaha menetralkan suasana, agar kencan kedua mereka tidak berakhir dengan garing. James pun menikmati setiap cerita yang Ellen lontarkan sore itu, ada tawa yang selalu menghiasi pembicaraan mereka. Topik yang tiada habisnya untuk dibahas membuat keduanya lupa akan ‘akward moment’ tadi, lupa akan pembahasan serius tentang kejelasan hubungan Andre dan Ellen. Sejenak mereka juga lupa akan pernyataan cinta yang telah diucapkan James hari ini. Mereka begitu menikmati hari minggu siang itu, bahkan sampai siang berganti sore, dan tanpa terasa malam pun datang, dan saat akhirnya mereka harus pulang.

Malam-malam James dan Ellen, tidak pernah terlewatkan tanpa sms-sms yang mereka kirimkan satu sama lain. Bahkan lebih intens dari sebelumnya. Walau sering ada setitik keraguan bagi James akan kejelasan hubungan gadis yang dipujanya itu dengan Andre. Ah, tapi ia biarkan Ellen menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dan James sudah berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan mengusik Ellen lagi dengan pertanyaan ‘bodoh’nya beberapa waktu lalu. Ia akan menunggu sampai Ellen benar-benar siap untuk menjalin hubungan yang baru. Entah itu kapan.

Sampai suatu hari, sebulan setelah pertemuan mereka di Plaza semanggi, James pun menyusun Misi Rahasia berikutnya dengan Ellen. Kenapa Ellen dan James selalu menyebutkan pertemuan mereka dengan sebutan ‘misi rahasia’? karena memang mereka merahasiakan pertemuan mereka. Merahasiakan dari orang-orang terdekat mereka. Terlebih keluarga dan teman-teman segereja mereka. Malu rasanya bila keduanya mengumbar kedekatan mereka padahal James dan Ellen pun belum jelas mengetahui status hubungan mereka.Untuk saat ini, biarlah hanya mereka berdua yang tahu akan misi rahasia pertemuan mereka ini.

Misi rahasia kali ini, adalah James akan mengajak Ellen pergi kesuatu tempat. Itu adalah hari libur nasional. Ellen harus rela membatalkan rencananya dengan teman-teman satu tempat kerjanya untuk berwisata kuliner di Bogor, karena sepertinya pergi bersama James terdengar lebih menyenangkan. Ellen pun menyetujui tempat pertemuan mereka kali ini. Di sebuah restoran, di pinggir pantai, ditemani oleh seporsi ayam goreng dan ikan gurame yang baru saja mereka habiskan, dan sekarang tersedia dua buah es kelapa dengan batoknya yang baru saja dipesan untuk melepas dahaga mereka dari cuaca yang cukup terik siang itu. Untungnya angin masih sesekali bertiup, membuat James dan Ellen tidak sempat merasa kepanasan.

James terlihat sangat gelisah saat topik pembicaraan mereka sudah mengarah pada Andre. Iya, Ellen baru saja mengatakan bahwa hubungannya dengan  Andre akhirnya benar-benar kandas. Tepat tiga hari setelah pertemuan James dan Ellen di Plaza semanggi waktu itu. Ellen sangat yakin sekali dengan keputusannya saat itu untuk mengakhiri hubungannya dengan Andre. Bukan karena Ellen ingin memulai hubungan dengan James, tapi karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan dari hubungan ini. Terdengar klise memang, tapi inilah rupanya momen yang tepat bagi Ellen untuk bisa berdiri tegar saat ia harus mengakhiri hubungannya dengan Andre.

Entahlah kenapa akhirnya Ellen bisa seyakin dan setegar itu untuk putus dari Andre, mungkin kehadiran James jugalah yang sudah memberanikan Ellen untuk mengambil keputusan ini. Tapi yang pasti Ellen merasa lega bahwa itu semua sudah berakhir. Berakhir tanpa drama, tanpa air mata, tanpa satupun kata-kata makian yang terucap baik dari bibirya atau  maupun dari bibir Andre. Mereka berpisah dengan damai dan saling mendoakan satu sama lain, lewat telepon. Aneh rasanya menunda untuk memutuskan hubungan hanya karena ‘komitmen’ konyol saat mereka mulai pacaran saat itu. Tentu sulit untuk menunggu sampai momen mereka harus bertemu dulu secara langsung.

James mengaduk es kelapanya dengan sendok tanpa berani menatap wajah Ellen. Tapi kali ini, seperti ada yang mendorong James untuk akhirnya sekali lagi menanyakan pertanyaan yang sama. Namun kali ini, pertanyaan itu lebih spesifik, lebih jelas arahnya.

“Len, kamu mau nggak jadi pacarku?” Suaranya sedikit bergetar.

“hmm…apa bang? ga denger aku.” Ellen sepertinya iseng ingin mengerjai James yang sudah terlihat super nervous.

“aku bilang, mau ga jadi pacarku?” jelasnya lagi.

“hmmmm……” Ellen berdeham dan tidak sanggup berkata-kata, namun ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu.

“Beneran?” James menegaskan lagi. Ia tidak percaya akan jawaban Ellen barusan.

“Beneran lah.” lagi-lagi Ellen hanya menganggukan kepalanya.

James menarik tangan Ellen mendekat dan menggenggamnya erat. Jantung keduanya serasa ingin lompat keluar.Kegirangan. 

Dan semenjak saat itu, tanggal 2 September 2005, Ellen yang mengenakan kaus hijau gari-garis dan James yang mengenakan kaos berwarna hijau polos, akhirnya resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dan hubungan sebagai pacar itu juga harus diakhiri setelah empat tahun lamanya. Karena setelah melalui gelombang, badai, dan berbagai pencobaan dalam hubungan itu, mereka akhirnya mereka mantap memutuskan untuk menikah. Menjadi sepasang suami istri.

Hari ini, James dan Ellen teringat kembali akan awal kisah cinta mereka dimulai, sembilan tahun yang lalu saat tiket gratis berenang milik Ellen yang diberikannya  pada James malam itu ketika para pemuda-pemudi digereja pulang dari kebaktian. Sembilan tahun yang lalu, saat ‘awkard moment’ didalam mobil ketika James melontarkan pertanyaannya. Sembilan tahun yang lalu saat akhirnya James untuk ketiga kalinya berani menyatakan cintanya pada Ellen dan Ellen memberikan jawaban yang sudah lama ia tunggu. Sembilan tahun yang lalu saat pertama kali James menggenggam erat tangan Ellen. Sembilan tahun yang lalu di restoran pinggir pantai itu.

Kiranya hubungan mereka tetap terjaga, bukan hanya untuk sembilan tahun mendatang, tapi hingga puluhan tahun lagi, hingga maut memisahkan……

*THE-END-*

PS: inget ya! ini FIKSI semata. Jangan terbawa perasaan, wahai sodara-sodara!. 😀

(ditulis dengan tanpa edit-edit, sorry for the typo…ngantuk berat)

Advertisements

29 thoughts on “James dan Ellen (part 2)

    • Ellen kan critanya udah ga jelas gitu ama si Andre.Mereka emang udah mau putus tapi kekeuh nunggu sampai mereka bisa ketemuan, karena saat mereka mulai komitmen dulu, mereka janji kalau mauu putus ga boleh lewat telfon. Komitmen yang aneh ya 🙂

      LDR is suck! 🙂

    • makasih christa…. hahahah…iya ini fiksi… fiksi yang nyata….lol!
      kalo postingan yg kemaren itu baru fikai beneran (beneran nyata juga maksudnya..hahahaha)

  1. Pingback: Kita Pasti Bisa! | Joeyz14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s