FIKSI: Catatan Cinta Ayana

 

Dulu ibuku sering bilang kalau di dunia ini, setidaknya kita harus punya dua hal penting supaya kita hidup lebih bahagia. Katanya, cinta dan harapanlah dua hal terpenting itu. Awalnya aku tidak mengerti, tapi sekarang aku tahu bahwa tanpa harapan, manusia akan sulit bertahan hidup, dan tanpa cinta? Ah, apalah arti hidup tanpa cinta? Sungguh klise memang, tapi aku kira perkataan ibuku itu ada benarnya juga.

Aku Ayana, gadis biasa yang akan selalu mendambakan cinta dan harapan itu. Aku hanya berharap bahwa suatu saat nanti aku akan hidup bahagia dengan seseorang yang aku cintai dan yang juga mencintaiku.

Dulu aku berfikir bahwa cita-cita dan harapanku itu adalah keinginan yang paling mudah dan sederhana yang dimiliki oleh tiap insan manusia di bumi ini. Tapi pada kenyataannya aku harus melewati pahitnya putus cinta dan putus harapan. BERKALI-KALI.

Eh, tunggu! Putus cinta dan putus harapan? Rasa-rasanya kalimat itu kurang tepat untuk menggambarkan apa kondisiku yang sebenarnya. Karena menurutku kata ‘putus cinta’ itu hanya tepat ditujukan bagi sepasang kekasih yang sudah putus. Sedangkan aku? Huhhh!!! jangankan sepasang kekasih, bahkan aku sama sekali tidak pernah berbicara dengan dia.

VITO

Iya, dia adalah Vito. Vito itu teman SMP-ku.  Kurasa kurang tepat juga sih kalau aku bilang Vito itu teman. Teman itu setidaknya pernah saling menyapa bukan?. Tapi kenyataanya aku bahkan tidak pernah mengeluarkan satu katapun untuk Vito. Begitupun sebaliknya. Entah apa yang kukagumi dari Vito, kelakuannya yang minus, sering tawuran dan juga bukan seseorang yang punya prestasi. Oh, tapi aku harusnya tidak boleh lupa dengan wajahnya yang tampan, kulit yang putih bersih dan punya rahang yang kokoh juga senyum yang sungguh manis. Sekarang pun aku sedang membayangkan dia berjalan di lorong sekolah dengan tas selempangnya yang berwarna hitam bertuliskan ‘HAWK’. Ahhhh Vito sungguh menarik perhatianku. Tidak ada distraksi terbesar sepanjang hidupku di bangku SMP selain Vito. Bahkan Vito yang sudah jelas-jelas kuketahui memakai narkoba pun, masih tetap kupuja. Itu barangkali yang namanya LOVE IS BLIND, sedini itulah aku mengetahui makna ‘CINTA ITU BUTA’. Yah, setidaknya itu menurut pendapatku.

Jantungku selalu ingin lompat keluar setiap kali aku melihat sosok Vito lewat di depanku, bahkan membayangkan wajahnya saja aku mau pingsan rasanya. Ahhhh….. apa barangkali aku sudah gila saat itu?

Tapi tidak untuk suatu malam setahun yang lalu. Vero sahabat baikku waktu SMP yang tahu semua cerita tentang kegilaanku pada Vito tiba-tiba meneleponku memberitahukan kabar terpenting untuk aku si penggila Vito. Aku buru-buru mencatatnya pada secarik kertas bekas struk ATM. Iya, info yang baru saja aku dapatkan adalah nomor telefon Vito, Si bad boy yang sungguh aku gilai.

Ternyata tidak butuh waktu yang lama mengumpulkan nyali untuk menelepon Vito. Percakapan kami mengalir begitu saja, dan kami lebih banyak berbicara tentang apa saja yang kami lakukan saat ini. Dari Vito aku juga tahu bahwa sekarang dia tinggal di daerah Kelapa Gading tapi dia harus bekerja di luar kota dan jauh dari anak-istrinya.

Oh waitttt!!! anak isteri???? Udah gila! No! no!  I’d better stop here.

Bagiku, akhirnya bisa berbicara dengan Vito saja sudah cukup menyenangakan. Setidaknya aku tahu bahwa Vito mengingat yang mana gadis bernama Ayana. Ada sedikit rasa bangga dalam hati yang sebenarnya ingin kuusir jauh-jauh.

REYNALD

Lulus dari bangku SMP, foto Vito yang diambil secara diam-diam oleh Vero sahabatku saat kami pergi karya wisata dulu, masih bertengger manis di dompetku. Sulit memang melupakan Vito, bahkan saat aku mulai menyukai adik kelasku yang masih duduk di kelas 3 SMP saat itu. Reynald namanya. Saat itu aku kelas 1 SMU dan sekolahku adalah sekolah berasrama yang lokasinya ada di jawa tengah.

Reynald adalah tipikal cowok cute menurutku saat itu. SUPER CUTE! Aku suka sekali dengan cara dia berjalan. Kakinya akan sedikit jinjit dan matanya akan ikut tersenyum saat ia berbicara. Oh iya, dagunya yang sedikit berbelah juga menjadi salah satu daya tarik Reynald. Aku masih ingat betul hal paling konyol yang pernah aku lakukan dulu adalah saat Reynald menjelang ujian nasional, dimana aku mencari bangku dan nomor ujiannya. Diam-diam, dipagi hari saat kelas masih sepi, aku menuliskan hal paling ‘bodoh’ dalam hidupku.

Met Ujian’

OMG!!!!!! Can you believe it? Can you believe how stupid I was at that time? Sama seperti Vito, aku hanya menjadi pengagumnya dari jauh. Beberapa kali aku menitipkan salam untuk Reynald lewat teman sekelasnya yang menjadi roomateku diasrama. Salamku memang berbalas, tapi respon Reynald datar saja. Hanya sekedar salam basa-basi yang sudah sangat basi.

Ya, kami memang tidak pernah bertegur sapa sekalipun sampai suatu hari sembilan bulan yang lalu Ya, 9 bulan yang lalu saat itu aku menyapa Reynald di Facebook. Jantungku tidak bekerja dengan baik saat tiba-tiba aku melihat notifikasi dimana Reynald membalas komenku, dan akhirnya kami berteman di Facebook.

Tidak lama dari itu Reynald meminta nomor telefonku. Puncaknya adalah ketika Reynald mengajakku nonton berdua, hanya berdua! Oh goshhh! I was like…. What???? sama sekali tidak percaya. Bukan cuma nonton, tapi Reynald juga mengajakku makan malam. Aku masih tidak bisa percaya dan merasa ini hanya mimpi. Tapi ini nyata, ini kenyataan paling indah yang pernah kualami. Walaupun masih terasa seperti mimpi, aku tetap berusaha berpijak di bumi, terkadang ingin kuhentakkan kakiku kuat-kuat kelantai, takut kalau-kalau ini hanya mimpi

Reynald juga mengantarku pulang dan kami beberapa kali pergi untuk ngedate. Kami banyak tertawa selama film berlangsung, selama kami makan, bahkan selama kami didalam mobil perjalanan pulang menuju rumahku. Aku tidak menyangka kalau Reynald adalah pria humoris yang baik hati dan ramah, karena kami menertawakan banyak hal pada setiap pertemuan-pertemuan kami. Tapi aku sadar, bahwa pertemuan dengan Reynald harus segera berakhir, kurasa aku hanya membuang waktu saja karena aku tahu hubungan kami tidak akan beranjak kemana-mana.

Barra

Setelah Reynald lulus dari bangku SMP, aku harus menerima kekecewaan karena Reynald ternyata harus pindah sekolah ke Jakarta. Aku sudah duduk di kelas 3 SMU saat dimana aku menyadari bahwa aku ternyata menyukai seseorang yang selalu menjadi teman sekelasku sejak kami duduk dikelas 1 SMU. Barra namanya. Tiga tahun berturut-turut kami menjadi teman sekelas, tapi kami cukup jarang ngobrol.

Aku masih ingat betul saat dimana guru bahasa inggris kami beberapa kali selalu memasangkan kami dalam kegiatan conversation. Beberapa kali guru kami itu menyebutkan dua tokoh dalam cerita yang sedang dibahas adalah Ayana dan Barra, seisi kelas menjadi riuh dan berakhir dengan kata-kata ‘cieeee cieeee’ dari berbagai sudut ruangan yang mengakibatkan wajah kami berdua sang korban saat itu menjadi merah seperti kepiting rebus.

Meskipun begitu, aku selalu menghirauhkan ledekan teman-teman tentang betapa serasinya aku dan Barra, sampai kami berada disatu kelas lagi untuk tahun ketiga. Aku melihat bahwa sosok Barra ternyata adalah sosok yang cool dan menyenangkan. Suatu siang, saat bubar sekolah, itu adalah hari kamis, jadwal keluar untuk siswa laki-laki. Aku iseng mengatakan sesuatu pada Barra.

“Barra, hari ini kamu keluar kampus ya?” tanyaku saat itu.

“Iya Ayanna, kenapa…..? kamu mau titip sesuatu? “ Tanya Barra balik padaku.

Aku yang cuma iseng-iseng bertanya mendadak gelagapan dengan reaksi Barra terhadap pertanyaanku. Untungnya aku cepat tersadar dan langsung kujawab.

“Asikkk, aku titip lumpia dan cokelat yaaaa”

Dan Barra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Aku memutar badanku sambil memegang jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku terheran-heran dengan keberanianku saat itu. Malamnya, dua jam sebelum waktu tidur, pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan mengantarkan titipan untukku. Hey! ternyata itu dari Barra, Barra membawakan pesananku dan menyisipkan note kecil yang bertuliskan:

“Selamat makan dan selamat tidur ya Ayanna” -Barra-

Tentu saja aku tidak bisa tidur dan membolak-balik sambil mengamati kotak lumpia dan cokelat pemberiannya. Hatiku terasa sangat hangat sekali malam itu. Lumpia itu kumakan dikeesokan paginya, dan butuh waktu berminggu-minggu sampai akhirnya aku rela memakan cokelat pemberiannya. Kurasa ada yang salah pada diriku.

Anyway, kami tidak banyak berbincang lagi saat aku tahu Barra dekat dengan Rania. Rania adalah adik kelasku yang sialnya adalah mantan teman sekamarku tahun lalu.

Kami lulus dan kami kehilangan jejak satu sama lain. Tapi beberapa bulan yang lalu, aku menemukan Barra di milis angkatanku saat SMU, kami sering chatting di Yahoo messanger dan aku begitu antusias menanyai kabarnya. Cukup puas akhirnya kami jadi banyak bercerita tentang apa yang kami lakukan sekarang dan aku cukup menikmati masa- masa ini sampai pada akhirnya Barra memberitahuku tentang tunangannya yang bernama Rika. OUHHHH NO! not again!

Ritz

Ritz tiba-tiba jadi komentator setia pada status-statusku di Facebook. Berlanjut pada chatting panjang lebar tentang keseharian kami. Oh ya, aku lupa bilang bahwa Ritz ini kakak tingkat, setahun di atasku. Penampilannya biasa saja, lebih cenderung chubby dan agak sedikit gemuk, tapi pembawaannya kalem dan tenang. Gaya berbicaranya juga selalalu membawa energi positif. Aku selalu senang setiap menerima pesan singkat darinya di ponselku.

Bila saja ada orang yang dengan tidak sengaja membaca semua SMS yang dikirimkan Ritz untukku, pasti mereka akan berasumsi kalau sms-sms itu dikirimkan oleh kekasihku. Bagaimana tidak, kalau hampir semua isinya adalah kata-kata yang membuat hati hangat. Dari sekedar menanyakan kabarku hari ini sepulang kerja, atau pertanyaan standar yang cheesy seperti “sudah makan apa belum?”tapi cukup membuat hatiku berbunga-bunga saat membacanya.

Kenyataannya Ritz bukanlah kekasihku. Jangankan jadian, kami bahkan tidak pernah bertemu selama masa-masa Ritz dekat denganku di dunia maya. Walaupun kami dulunya sering bertemu di kampus, tapi entah mengapa Ritz tidak pernah berinisiatif untuk mengajakku bertemu. Mungkin inilah alasan yang membuatku ingin menyudahi saja berhubungan dengannya meski hanya lewat dunia maya. Aku merasa bukan dia yang kucari. Akhirnya aku memutar haluanku, aku berbelok 180 derajat, aku kembali ketempatku semula. Tempat dimana aku bisa menemukan apa yang selama ini kucari. AKU LELAH.

Itulah kisahku dalam satu tahun terakhir sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikahi tunanganku. Renzo.

Hari ini adalah hari pernikahan kami. Adalah perjalanan yang panjang untuk bisa meyakinkan diriku bahwa Renzo lah yang dapat mewujudkan impianku. Bukan Vito, bukan Reynald atau Barra, bahkan bukan Ritz sekalipun.

Renzo adalah laki-laki yang kukenal di kantor tempatku bekerja pertama kali setelah lulus kuliah dulu. Penampilannya yang sederhana dan sangat bersahaja awalnya tidak menarik perhatianku sama sekali. Tapi melihat betapa hebatnya dia memberikan presentasi di kantor, betapa kerennya dia memberikan pengarahan terhadap kami pegawai-pegawai baru, itulah hal yang membuatku tak bisa melupakan sosoknya saat itu. I think SMART IS A NEW SEXY, right?.

Iya, Renzo adalah pria pintar yang sangat rendah hati, dan selalu menjadi pendengar yang baik bagi siapa saja. Kami akhirnya jadian karena ternyata Renzo juga mengagumiku. Dia mengagumi selera humorku, kulitku yang eksotis. Ehmmm maksudnya gelap sih, I know it. Juga katanya rambut pendekku yang menurutnya mirip Winona Ryder artis Hollywood favoritnya.

“Ayana, kamu kalau nggak punya pacar, jadi pacarku aja mau nggak?” Ujar Renzo saat menembakku sekitar lima tahun yang lalu. Apa-apaan coba? Dimana sisi romantisnya sih? Tapi menurutnya, ia butuh hampir dua minggu untuk akhirnya berani mengucapkan kalimat saktinya itu. Aku bahagia walaupun Renzo bukanlah sosok pria yang romantis, tapi setidaknya dia adalah seseorang yang sangat setia, dan yang pasti dia adalah pekerja keras yang baik hati dan cinta padaku. Usiaku masih 22 tahun saat resmi menjadi pacarnya, dan tentu Renzo harus banyak menyesuaikan diri denganku yang terpaut usia tujuh tahun.

Hampir lima tahun aku menjalin hubungan dengannya, dan selama itu pula hubungan kami tidak pernah disetujui oleh orangtuanya. Hubungan kami sudah mendapat cobaan level tertinggi, dan yang terakhir ini kami sungguh tidak mampu mengatasinya lagi. Sampai suatu hari Renzo berkata ingin hiatus dari hubungan ini. Tidak putus, hanya hiatus. Ingin melihat kembali apakah hubungan ini layak kami perjuangkan. Renzo menyarankan kepadaku, kalau selama kami hiatus, kami boleh menjalin hubungan dengan orang lain. Seriously this is a bad idea. Tapi Renzo sungguh menginginkan ini, karena menurutnya ia ingin mengetahui apakah kalimat ‘melepas orang yang kita cintai untuk mendapatkannya kembali’ dapat berlaku untuk hubungan kami yang cukup rumit ini.

Dalam setahun terakhir aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan kisah-kisah lama yang pernah menghiasi hari-hariku dulu. Dimulai dari Vito si bad boy yang sungguh aku gilai waktu itu, he was my first crush. Aku juga bertemu Reynald yang sudah membagi tawa denganku beberapa bulan yang lalu. Barra yang akhirnya menjadi teman ngobrolku diwaktu senggang. Juga Ritz yang telah memberikan semangat padaku dalam menghadapi hari-hari tersulitku dengan pikiran positif yang ditularkannya.

Pada akhirnya aku tahu bahwa masa hiatus ini ternyata masa-masa yang berharga sebelum aku akhirnya membuat keputusan paling penting dalam hidupku. Menikah dengan Renzo. Dalam masa hiatus inilah aku dapat melihat jelas bahwa tidak satupun dari mereka yang mampu memberikan cinta dan harapan yang aku dambakan selain Renzo seorang.

Tidak pernah seringan ini kakiku melangkah saat harus berjalan menuju altar. Sejenak aku menatap matanya lekat-lekat, aku melihat binar-binar bahagia disana. Penantian kami yang cukup panjang untuk menuju hari ini, hari dimana kami akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan akhirnya terwujud. Renzo menggengam tanganku erat dan berbisik pelan, “Aku melepaskanmu untuk mendapatkanmu kembali, I love you Miss Ayana, My beautiful Edelweis”

Aku tak dapat berkata-kata karena air mataku sudah hampir tumpah mengingat betapa baiknya Tuhan mengirimkan Renzo untukku. Mengirimkan cinta dan harapan yang selalu kudambakan, walau aku harus melalui jalan yang panjang dan terkadang pahit. Aku hanya bisa mengangguk pelan dan kami tahu bahwa sejak saat itu kami akan menghadapi hari-hari lain yang penuh tantangan, namun aku selalu yakin bahwa aku akan bisa menghadapi seburuk apapun keadaan nantinya asal kami punya cinta dan harapan satu sama lain. Dan aku kembali teringat akan ucapannya dulu saat kami akan hiatus, ‘If you love something, let it go, if it comes back to you, it’s yours. If it doesn’t, it never was.’ Tapi bukan kalimat itu yang akhirnya meyakinkan aku untuk menikah dengannya. Aku pernah membaca sebuah kutipan yang mengatakan ‘One day you’ll find someone who shows you why it never worked out with someone else.’ Dan aku tahu, orang itu adalah Renzo. Terimakasih karena pernah melepaskanku untuk mendapatkanku kembali, I love you very much Renzo Romero.

THE END

 

*This is my first fiction written after so many years ago since I graduated from High school…I hope you like the story*

Thank you for reading.

Advertisements

44 thoughts on “FIKSI: Catatan Cinta Ayana

  1. Bener bngt quotesnya..
    If you love something let it go, so you will know that it truly belongs to you when it came back..
    This is a beautiful love story with a happy ending kak.. And pliss deh pria semacam Vito itu jangan sampai dijadikan pasangan ah.. Aku gasuka tipe bad boy 😝😝

  2. ‘If you love something, let it go, if it comes back to you, it’s yours. If it doesn’t, it never was.’
    Suka quote ini mbak. Seperti mengingatkan aku sama kisah Supernova. Keren, keren..!

    • Yaaa mayyy jadi buku mah bisa taon jebot..hahaha ini fiksi2 gue mau dipublish sini aja deh. Daripada mubazir…lagian kalo ada yg baca bikin jd semangat nulis. 🙂

      • Hahaha iyaa gue suka kok bacanya. Gue palignsuka cerpen tapi sekarang jarang beli Femina. Yakali beli Femina cuma demi cerpen doang 😆

    • Ahhhh Ira glad that you like it. Ini juga sebenernya masih ga jauh2 dari pengalaman pribadi sih ra..hihi *skalian curcol*
      Semoga happy ending ya ra…. time will heal..or time will proof… have a nice weekend ira. Semangat yahh!

  3. Semacam baca percikan di majalah gadis. Ayo kak post lagi cerita macam gini 😀 coba sesekali bikin cerita yg gantung atau twist atau bikin termehek2. *pembacabanyakmau

  4. mbak Jooooo, ini fiksinya udah bagus koook, masih banyak salah penulisan ‘di’ sebagai penunjuk tempat dan ‘di’ sebagai imbuhan aja sih hihihi. Ayo lanjutkan! :))

    • Oh orinnnnn…makasi banget kau udah menyempatkan baca fiksi abal2ku ini…..
      iya nih masih PR banget cara penulisan yang baik dan benar. Padahal kan itu basic rule banget ya….

      Minggu lalu nyari2 little stories di Gramed kok ga ada lagi ya. Waktu itu masih dipajang2 gitu loh…tapi aku tunda beli karena masih banyak list bacaan yang belom kelar (duh inget Eleanor and Spark yang ga kelar2) 😀

  5. Pingback: Kuliner Malang Dan Rasa Rindu Yang Menderu | Joeyz14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s