54

Happy Teachers=Happy Children=Happy Parents

Udah lama ga ngomongin printilan skolahan, inget-inget banyak banget yang mau dibahas. Mau bahas tentang Montessori lah, phonics dan correct pencil gripping tapi kenapa ga jadi2 diposting ya? Hihihi..maklum suka ga fokus anaknya. Oke tulisan ini dah lama di draft, ada kali 7 bulanan yang lalu…so kali ini mau bahas tentang manner parents di sekolah tentang tata cara menyampaikan pendapat, bahkan cara komplain ke guru or pihak sekolah.

Menjadi guru terutama level kindergarten gak melulu menghadapi si anak yang menjadi tantangan setiap hari, melainkan menghadapi para ortu murid. Ngadepin berbagai macam karakter ortu ini malah kadang lebih besar tantangannya daripada ngadepin si anaknya itu sendiri. Hihihi…

Saya sendiri adalah guru sekaligus orangtua murid di tempat G sekolah. Rasanya agak aneh ya bahwa yang menjadi guru G adalah teman-teman saya sendiri. Saya akan berusaha menempatkan diri saya sebaik mungkin untuk tidak mendikte pekerjaan or cara gurunya mengajar. Kecuali saya melihat ada sesuatu yang tidak semestinya. Pastilah saya utarakan.

Nah sekarang, bukan apa yang kita utarakan kepada sang guru itu yang menjadi topik permasalahan. Namun, bagaimana cara kita menyampaikannya. Gundah gulana saya akhir-akhir ini adalah melihat beberapa case tentang bagaimana beberapa orang tua murid itu menyampaikan keluhan or pendapatnya terhadap si guru/ asisten guru (bukan hanya di tempat saya mengajar loh ya, karena saya sering sharing sama teman-teman guru yang mengajar di sekolah lain).

Banyak sekali kami dari para guru ini merasa tidak direspect oleh para orang tua, kalau melihat bagaimana cara mereka menyampaikan keluhannya. Daripada panjang lebar, mari kita lihat contoh beberapa case di bawah ini:

1) Seorang anak kelas 1 SD kehilangan mainannya yang dibawa saat ada event di sekolah, lalu si ibu menanyakan keberadaan mainan si anak, dan sang asisten guru pun berusaha mencari tapi tak ketemu. Dijawab dengan sopan, “nanti saya cari lagi ya bu”. Lalu keesokan harinya ditanya lagi tentang mainannya itu, si asisten jawab “saya sudah cari kemana-mana bu, tapi ga ketemu, tapi nanti kalau ketemu saya akan kembalikan.”

Beberapa hari kemudian, si asisten menggeser lemari di kelas, dan ternyata disitu terdapat si mainan yang dicari-cari. Kemudian si asisten guru mengembalikan pada si ibu dari anak itu. Mau tahu apa responnya? INSTEAD OF SAYING THANK YOU, SHE SAID :”LOH MISS, INI ADA, KATANYA UDAH DICARI KEMANA-KEMANA? GIMANA SIHHHH?? Dengan muka jutek ngomong gitu ke asisten guru.

What do you think? pffftttttthhhh

2) Lanjut case berikutnya. Setelah usai pertunjukan or holiday concert di sebuah sekolah, ada seorang ibu mengirimkan pesan kepada si guru. Kira-kira inti sms nya adalah dia mengucapkan terimakasih pada gurunya sudah melatih anak-anak di kelas dengan baik. Tapi, di penghujung kalimat dalam sms itu, si ibu mengatakan “but next time miss, please choose the more energetic song/music, so the kids will be eager to move their body and dance.” Coba, gimana perasaan guru itu ga sedih coba? Karena seakan-akan si guru dipersalahkan akan pilihan lagunya karena mungkin si ortu merasa kurang puas kali ya ngeliat anaknya ga pada nari di panggung.

Nih saya kasih tau ya para mommies and daddies, what can you expect from your 3 yo child when they are on the stage with lots of people watching them plus the light and the flash from the camera? syukur-syukur anaknya ga pada nangis histeris. Ya memang ada sih beberapa faktor kenapa anak ga mau or ga bisa nari di atas panggung. G sendiri baru mau nari pas udah nursery, pas toddler dia mah jadi patung aja gitu di panggung…bukan dia yang ditonton, dia malah nontonin orang yang pada heboh jeprat jepret. Hihihihi

Sebenernya kita tahu maksud nih parents, tipenya kompetitif banget. Suka banding-bandingin ama kelas lain. Ya jangan disamain ama kelas saya donk, kan anak-anak di kelas saya udah pada gede-gede. Tapi ya gitulah bunyi sms yang awalnya diberi kata manis, eh endingnya  bikin sedih. Ga bisa tidur itu guru semaleman pasca baca sms itu, kesian kan.

3) Suatu pagi, tiba-tiba seorang bapak datang mengetuk pintu kelas di sebuah SD. Entah bagaimana si bapak bisa masuk ke dalam sekolah pas jam pelajaran udah mulai. Jadi Si bapak ini bicara di pintu kelas dengan suara keras. Dia berbicara kepada asisten guru (karena guru kelasnya sedang ngajar di kelas lain), yang sedang mengajar di kelas saat itu adalah guru subjek lain. Si bapak tiba-tiba ngomel-ngomel di kelas dan menjelek-jelekan si guru subjek ini. Suaranya keras sekali sampai anak-anak di kelas dengar ocehannya.

Penyebab dia marah? Jadi sehari sebelumnya, si guru subjek memarahi anak si bapak itu karena tidak membawa buku. Ya namanya guru marah, ya wajarlah. Sebenernya menurut asisten guru di kelas itu, si guru subjek sih ga marah yang gimana gitu, cuma aja emang nada suara si guru emang gitu, agak sedikit keras. Ya kadang guru marah wajarlah ya, anak-anak di sekolah itu kan perlu belajar disiplin juga. Yang penting gurunya ga sampe main fisik dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya. Juga jangan sampai gurunya membuat muridnya merasa down dan self-demotivated.

Tapi memang kelakuan bapak ini sungguh ga bisa ditolerir. Main selonong boy aja masuk ke kelas dan marah-marah, dan perbuatannya sungguh tidak menyenangkan. Bukan cuma si guru subjek yang kena imbasnya, tapi murid-murid yang ada di kelas itu juga karena mereka menyaksikan dan mendengarkan langsung bagaimana guru mereka dihina dengan kata-kata yang kasar.

Sebesar apa pun kesalahan pihak sekolah, ga dengan melabrak langsung si guru lalu marah-marah mengeluarkan uneg-uneg seenaknya. Kita bukan hidup di jaman barbar yang ga tau sopan santun kan? Harusnya kasih surat, mau bikin appointment, lalu bicarakan baik-baik. Ga mikir jauh si bapak ini, kalau si guru jadi sedih dan dia menangis seharian karena merasa sudah dilecehkan sebagai seorang guru di depan murid-muridnya sendiri .

 

Oh well, masih banyak contoh- contoh yang lain dan kalau saya certain pasti kalian pikir saya ini lebay dan melebih-lebihkan. Hmmmmm tapi sudahlah, saya cuma kasihan sama anak-anak murid yang punya orangtua kompetitif, punya orangtua yang over-protektif, orangtua yang ga bisa nunjukin manner yang baik. Memang tidak semua orangtua di sekolah seperti itu. Buktinya, saya punya orangtua murid yang semuanya baik-baik. Makanya saya bisa simpulkan bahwa tahun ajaran ini saya happy sekali mengajarnya.

Mak Sondang sering berkata, Happy teachers= happy kids, nah if your kids happy, then who will be happy next? Its YOU right, parents?

Ketika sang guru happy maka dia akan mengajar tanpa beban, kreatifitasnya pun meningkat. Bisa mengajak anak-anak tertawa, bercerita dengan penuh ekspresi, menyanyi dan bernari bersama tanpa beban, mengajar dengan penuh kesabaran, walaupun si anak benar-benar membuat gurunya pusing 7 keliling tapi si guru tetap mengajar dengan hati riang, karena mengingat orang tua anak-anak muridnya yang berperilaku manis dan baik hati, yang mau bekerja sama dengan baik. Dengan kata lain, bukan tipe orang tua yang reseh.

Eittssss, tunggu dulu! Apakah saya mengatakan bahwa kita harus baik-baikin gurunya supaya anak kita diperlakukan dengan baik di sekolah? No! that’s not what I mean. Ada juga yang baik-baik depan gurunya eh diblakang jelek-jelekin gurunya *sedih*. Terus terang, saya risih kalau ada ortu suka kasih-kasih kado or makanan tapi karena ada udang dibalik bakwan. Yaiyalah ketauan kok mana yang sincere alias tulus kan? Yang saya maksud adalah, Janganlah jadi tipe orang tua yang seperti saya contohkan diatas, bok!! Ga enak banget rasanya. Saya akan kasih tahu, beberapa tipe orang tua di sekolah seperti apa. Coba dicek, tipe orang tua seperti apa ya kita dalam berinteraksi dengan si guru:

1) Tipe orang tua yang INFORMATIF: Ini adalah tipe orang tua yang paling saya sukai. Informatif ini artinya si orang tua sangat memperhatikan details dari segala perihal yang bersangkutan pada  si anak. Misalnya, dia memberitahukan kalau anaknya belum bisa mengerti topik yang diajarkan minggu lalu, tolong dibantu di sekolah. Memberitahukan kalau si anak sedih karena dia kemaren berantem dengan temannya, menanyakan solusi pada si guru. Semua dituliskan di communication book. Atau bikin appointment untuk membicarakan pada sang guru. Pokoknya si ortu ini akan memeberitahukan si guru akan hal apa pun yang berkaitan dengan perkembangan proses belajar mengajar si anak. Gurunya ga akan merasa terbebani kok. Apalagi disampaikan dengan cara yang sopan.

Berdasarkan pengalaman saya, bahwa tipe orang tua yang informatif seperti ini, biasanya perkembangan anaknya akan melesat tajam karena si guru jadi mengerti betul bagaimana meng-handle anak itu dengan baik karena orang tua juga mau bekerja sama di rumah untuk membantu perkembangannya. Oh I love all my parents this school year! Semua tipe yang ini….Saya senang sekali…. Thank God!!

2) Tipe Reseh

Maaf ya ga nemu term lain untuk tipe yang ini. Kalau yang ini beneran paling annoying. Saya kalau udah dapet tipe parents yang seperti ini kok rasa-rasanya mau masuk kolong meja aja deh, ngumpet disitu aja dan ogah ngajar. Hiksssss! LIKE SERIOUSLY.  Soalnya dikit-dikit nyalahin guru dan sekolah. Mau tau, apa aja yang orang tua reseh lakukan pada guru dari anak-anak mereka?

  1. a) Miss, anak saya sakit loh selama weekend, karena air minumnya di sekolah pas hari Jumat kemaren ga diabisin. Oh ya ampun jadi dia nge-blame sekolah nih karena air minumnya ga habis. Ok ya di sekolah itu anak-anak sekitar 4 jam lah. Tiap hari minumnya pun habis. Nah, biasanya anak-anak itu harus habiskan air minum di botolnya masing-masing sebelum pulang. Ada aja hari yang mana rush banget dan ga sempet lagi habisin air minum. Dalam 24 jam itu kan si anak cuma menghabiskan 4 jam di sekolah, lalu si orang tua emang ga nyuruh anaknya minum selama sisa 20 jam itu? Let say selama dari pulang sekolah yaitu jam 12 siang sampe malam harinya. PFFFFTTTTTT!
  2. b) Miss, anak saya jangan dikasih makan yang manis-manis dan cokelat-cokelat ya di sekolah, soalnya anaknya alergi cokelat. Iya gurunya manggut-manggut. Lah terus besokannya si guru liat lunch box anaknya isinya kue-kue cokelat dan segala yang manis-manis. Lah iki piyeeee toh???? Bukan! Bukan nanny or mbaknya kok yang masukin. Ahhh speechless!
  3. c) Miss, jepitan anak saya hilang sebelah, tolong dicari ya miss sampe ketemu. Duhhh kesian amatlah tuh guru sampe gempor nyari karena di cecar mulu ama ortu harus nemuin tuh jepitan kecil sebiji. Kalau ketemu kan pasti dikembalikan.
  4. d) Miss tolong suruh anak saya makanannya dihabiskan ya. Nah ini dia nih ortu paling tricky. Sekarang gimana ga tricky coba? Kalau ternyata si anak adalah tipe yang susah makan, dan picky eater. Lalu kita gurunya dibebankan orang tua untuk menyuruh anaknya menghabiskan makanannya. Udah gitu, dibikin lah itu porsi penuh se-tupperware. Yasalammm banget kan ya! Bagaimana cara si guru mau bikin anak ngabisin makanannya kalau di rumah aja si anak makan cuma se sendok dua sendok. Tricky banget kan! Ntar kalo makanan anak ga abis itu jadi beban si guru. DAN KEJADIAN INI SUNGGUH BANYAK SAYA ALAMI.

Mau tahu jawaban saya kalau menghadapi tipe orang tua sperti ini?

Maaf ya bu, tolong jangan bawakan bekal yang sebanyak itu, karena di sekolah kita cuma punya waktu 30 menit untuk makan, dan bawalah makanan yang pasti bakal dimakan sama si anak. Latih dirumah untuk makan makanan sehat. Dsb….

Disangkanya kita petugas tantrib yang mana entar anak-anaknya takut ama gurunya, jadi tuh anak pasti bakal mau makan dan abisin makanannya. Mumpung di sekolah gitu, udah bayar mahal-mahal. Si ortu mau mendelegasikan tugas memberi makan anaknya pada sang guru juga. Ya jangan gitu juga kali ya bu! Hihihihi

    e) Miss tolong anak saya jangan duduknya didekatkan dengan si B ya, atau si C. Iyaaa dituruti, but saying this like every single day. Miss tolong liatin kalau main ya, jangan sampe anak saya jatuh. Like every single day!!!

Hmmmmmm aku speechlessssssss…

3) Tipe Orang tua Cuek
Nah yang ini mah cuek banget, kebangetan. Susah dihubungi, dikasih surat or message ga pernah dibales…alesannya selalu ada di luar kota or sibuk kerja. Itu bukan alesan karena saya menyaksikan banyak ibu bekerja yang details banget soal urusan anaknya. Details disini bukan yang demanding ya. So, jangan terlalu cuek juga.

Jadi begitulah kira-kira gundah gulana saya.

Semoga ocehan saya diatas bisa diambil positifnya ya, saya juga menghimbau para guru untuk yakin dengan profesi yang dijalani. Yakin kalau menjadi guru itu bukan sekedar profesi tapi passion yang tak kenal lelah dan penuh sabar menghadapi anak-anak muridnya, meskipun harus menghadapi berbagai tipe orang tua yang super duper bikin kepala cenat cenut!

Dear my fellow teachers,
Keep calm and be a Good teacher!
Because we teach, we care, we inspire. (Tsahhh yell2 sekolah ayeee tuh makkk) hahaha

Dear beloved parents,
Keep calm and be the sweet parents!
Because Happy teachers means Happy kids, and happy kids means happy you! Yes happy parents.

So, shall we become good partners?

image
12 years teaching and I’m still happy and passionate…