Happy Teachers=Happy Children=Happy Parents

Udah lama ga ngomongin printilan skolahan, inget-inget banyak banget yang mau dibahas. Mau bahas tentang Montessori lah, phonics dan correct pencil gripping tapi kenapa ga jadi2 diposting ya? Hihihi..maklum suka ga fokus anaknya. Oke tulisan ini dah lama di draft, ada kali 7 bulanan yang lalu…so kali ini mau bahas tentang manner parents di sekolah tentang tata cara menyampaikan pendapat, bahkan cara komplain ke guru or pihak sekolah.

Menjadi guru terutama level kindergarten gak melulu menghadapi si anak yang menjadi tantangan setiap hari, melainkan menghadapi para ortu murid. Ngadepin berbagai macam karakter ortu ini malah kadang lebih besar tantangannya daripada ngadepin si anaknya itu sendiri. Hihihi…

Saya sendiri adalah guru sekaligus orangtua murid di tempat G sekolah. Rasanya agak aneh ya bahwa yang menjadi guru G adalah teman-teman saya sendiri. Saya akan berusaha menempatkan diri saya sebaik mungkin untuk tidak mendikte pekerjaan or cara gurunya mengajar. Kecuali saya melihat ada sesuatu yang tidak semestinya. Pastilah saya utarakan.

Nah sekarang, bukan apa yang kita utarakan kepada sang guru itu yang menjadi topik permasalahan. Namun, bagaimana cara kita menyampaikannya. Gundah gulana saya akhir-akhir ini adalah melihat beberapa case tentang bagaimana beberapa orang tua murid itu menyampaikan keluhan or pendapatnya terhadap si guru/ asisten guru (bukan hanya di tempat saya mengajar loh ya, karena saya sering sharing sama teman-teman guru yang mengajar di sekolah lain).

Banyak sekali kami dari para guru ini merasa tidak direspect oleh para orang tua, kalau melihat bagaimana cara mereka menyampaikan keluhannya. Daripada panjang lebar, mari kita lihat contoh beberapa case di bawah ini:

1) Seorang anak kelas 1 SD kehilangan mainannya yang dibawa saat ada event di sekolah, lalu si ibu menanyakan keberadaan mainan si anak, dan sang asisten guru pun berusaha mencari tapi tak ketemu. Dijawab dengan sopan, “nanti saya cari lagi ya bu”. Lalu keesokan harinya ditanya lagi tentang mainannya itu, si asisten jawab “saya sudah cari kemana-mana bu, tapi ga ketemu, tapi nanti kalau ketemu saya akan kembalikan.”

Beberapa hari kemudian, si asisten menggeser lemari di kelas, dan ternyata disitu terdapat si mainan yang dicari-cari. Kemudian si asisten guru mengembalikan pada si ibu dari anak itu. Mau tahu apa responnya? INSTEAD OF SAYING THANK YOU, SHE SAID :”LOH MISS, INI ADA, KATANYA UDAH DICARI KEMANA-KEMANA? GIMANA SIHHHH?? Dengan muka jutek ngomong gitu ke asisten guru.

What do you think? pffftttttthhhh

2) Lanjut case berikutnya. Setelah usai pertunjukan or holiday concert di sebuah sekolah, ada seorang ibu mengirimkan pesan kepada si guru. Kira-kira inti sms nya adalah dia mengucapkan terimakasih pada gurunya sudah melatih anak-anak di kelas dengan baik. Tapi, di penghujung kalimat dalam sms itu, si ibu mengatakan “but next time miss, please choose the more energetic song/music, so the kids will be eager to move their body and dance.” Coba, gimana perasaan guru itu ga sedih coba? Karena seakan-akan si guru dipersalahkan akan pilihan lagunya karena mungkin si ortu merasa kurang puas kali ya ngeliat anaknya ga pada nari di panggung.

Nih saya kasih tau ya para mommies and daddies, what can you expect from your 3 yo child when they are on the stage with lots of people watching them plus the light and the flash from the camera? syukur-syukur anaknya ga pada nangis histeris. Ya memang ada sih beberapa faktor kenapa anak ga mau or ga bisa nari di atas panggung. G sendiri baru mau nari pas udah nursery, pas toddler dia mah jadi patung aja gitu di panggung…bukan dia yang ditonton, dia malah nontonin orang yang pada heboh jeprat jepret. Hihihihi

Sebenernya kita tahu maksud nih parents, tipenya kompetitif banget. Suka banding-bandingin ama kelas lain. Ya jangan disamain ama kelas saya donk, kan anak-anak di kelas saya udah pada gede-gede. Tapi ya gitulah bunyi sms yang awalnya diberi kata manis, eh endingnya  bikin sedih. Ga bisa tidur itu guru semaleman pasca baca sms itu, kesian kan.

3) Suatu pagi, tiba-tiba seorang bapak datang mengetuk pintu kelas di sebuah SD. Entah bagaimana si bapak bisa masuk ke dalam sekolah pas jam pelajaran udah mulai. Jadi Si bapak ini bicara di pintu kelas dengan suara keras. Dia berbicara kepada asisten guru (karena guru kelasnya sedang ngajar di kelas lain), yang sedang mengajar di kelas saat itu adalah guru subjek lain. Si bapak tiba-tiba ngomel-ngomel di kelas dan menjelek-jelekan si guru subjek ini. Suaranya keras sekali sampai anak-anak di kelas dengar ocehannya.

Penyebab dia marah? Jadi sehari sebelumnya, si guru subjek memarahi anak si bapak itu karena tidak membawa buku. Ya namanya guru marah, ya wajarlah. Sebenernya menurut asisten guru di kelas itu, si guru subjek sih ga marah yang gimana gitu, cuma aja emang nada suara si guru emang gitu, agak sedikit keras. Ya kadang guru marah wajarlah ya, anak-anak di sekolah itu kan perlu belajar disiplin juga. Yang penting gurunya ga sampe main fisik dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya. Juga jangan sampai gurunya membuat muridnya merasa down dan self-demotivated.

Tapi memang kelakuan bapak ini sungguh ga bisa ditolerir. Main selonong boy aja masuk ke kelas dan marah-marah, dan perbuatannya sungguh tidak menyenangkan. Bukan cuma si guru subjek yang kena imbasnya, tapi murid-murid yang ada di kelas itu juga karena mereka menyaksikan dan mendengarkan langsung bagaimana guru mereka dihina dengan kata-kata yang kasar.

Sebesar apa pun kesalahan pihak sekolah, ga dengan melabrak langsung si guru lalu marah-marah mengeluarkan uneg-uneg seenaknya. Kita bukan hidup di jaman barbar yang ga tau sopan santun kan? Harusnya kasih surat, mau bikin appointment, lalu bicarakan baik-baik. Ga mikir jauh si bapak ini, kalau si guru jadi sedih dan dia menangis seharian karena merasa sudah dilecehkan sebagai seorang guru di depan murid-muridnya sendiri .

 

Oh well, masih banyak contoh- contoh yang lain dan kalau saya certain pasti kalian pikir saya ini lebay dan melebih-lebihkan. Hmmmmm tapi sudahlah, saya cuma kasihan sama anak-anak murid yang punya orangtua kompetitif, punya orangtua yang over-protektif, orangtua yang ga bisa nunjukin manner yang baik. Memang tidak semua orangtua di sekolah seperti itu. Buktinya, saya punya orangtua murid yang semuanya baik-baik. Makanya saya bisa simpulkan bahwa tahun ajaran ini saya happy sekali mengajarnya.

Mak Sondang sering berkata, Happy teachers= happy kids, nah if your kids happy, then who will be happy next? Its YOU right, parents?

Ketika sang guru happy maka dia akan mengajar tanpa beban, kreatifitasnya pun meningkat. Bisa mengajak anak-anak tertawa, bercerita dengan penuh ekspresi, menyanyi dan bernari bersama tanpa beban, mengajar dengan penuh kesabaran, walaupun si anak benar-benar membuat gurunya pusing 7 keliling tapi si guru tetap mengajar dengan hati riang, karena mengingat orang tua anak-anak muridnya yang berperilaku manis dan baik hati, yang mau bekerja sama dengan baik. Dengan kata lain, bukan tipe orang tua yang reseh.

Eittssss, tunggu dulu! Apakah saya mengatakan bahwa kita harus baik-baikin gurunya supaya anak kita diperlakukan dengan baik di sekolah? No! that’s not what I mean. Ada juga yang baik-baik depan gurunya eh diblakang jelek-jelekin gurunya *sedih*. Terus terang, saya risih kalau ada ortu suka kasih-kasih kado or makanan tapi karena ada udang dibalik bakwan. Yaiyalah ketauan kok mana yang sincere alias tulus kan? Yang saya maksud adalah, Janganlah jadi tipe orang tua yang seperti saya contohkan diatas, bok!! Ga enak banget rasanya. Saya akan kasih tahu, beberapa tipe orang tua di sekolah seperti apa. Coba dicek, tipe orang tua seperti apa ya kita dalam berinteraksi dengan si guru:

1) Tipe orang tua yang INFORMATIF: Ini adalah tipe orang tua yang paling saya sukai. Informatif ini artinya si orang tua sangat memperhatikan details dari segala perihal yang bersangkutan pada  si anak. Misalnya, dia memberitahukan kalau anaknya belum bisa mengerti topik yang diajarkan minggu lalu, tolong dibantu di sekolah. Memberitahukan kalau si anak sedih karena dia kemaren berantem dengan temannya, menanyakan solusi pada si guru. Semua dituliskan di communication book. Atau bikin appointment untuk membicarakan pada sang guru. Pokoknya si ortu ini akan memeberitahukan si guru akan hal apa pun yang berkaitan dengan perkembangan proses belajar mengajar si anak. Gurunya ga akan merasa terbebani kok. Apalagi disampaikan dengan cara yang sopan.

Berdasarkan pengalaman saya, bahwa tipe orang tua yang informatif seperti ini, biasanya perkembangan anaknya akan melesat tajam karena si guru jadi mengerti betul bagaimana meng-handle anak itu dengan baik karena orang tua juga mau bekerja sama di rumah untuk membantu perkembangannya. Oh I love all my parents this school year! Semua tipe yang ini….Saya senang sekali…. Thank God!!

2) Tipe Reseh

Maaf ya ga nemu term lain untuk tipe yang ini. Kalau yang ini beneran paling annoying. Saya kalau udah dapet tipe parents yang seperti ini kok rasa-rasanya mau masuk kolong meja aja deh, ngumpet disitu aja dan ogah ngajar. Hiksssss! LIKE SERIOUSLY.  Soalnya dikit-dikit nyalahin guru dan sekolah. Mau tau, apa aja yang orang tua reseh lakukan pada guru dari anak-anak mereka?

  1. a) Miss, anak saya sakit loh selama weekend, karena air minumnya di sekolah pas hari Jumat kemaren ga diabisin. Oh ya ampun jadi dia nge-blame sekolah nih karena air minumnya ga habis. Ok ya di sekolah itu anak-anak sekitar 4 jam lah. Tiap hari minumnya pun habis. Nah, biasanya anak-anak itu harus habiskan air minum di botolnya masing-masing sebelum pulang. Ada aja hari yang mana rush banget dan ga sempet lagi habisin air minum. Dalam 24 jam itu kan si anak cuma menghabiskan 4 jam di sekolah, lalu si orang tua emang ga nyuruh anaknya minum selama sisa 20 jam itu? Let say selama dari pulang sekolah yaitu jam 12 siang sampe malam harinya. PFFFFTTTTTT!
  2. b) Miss, anak saya jangan dikasih makan yang manis-manis dan cokelat-cokelat ya di sekolah, soalnya anaknya alergi cokelat. Iya gurunya manggut-manggut. Lah terus besokannya si guru liat lunch box anaknya isinya kue-kue cokelat dan segala yang manis-manis. Lah iki piyeeee toh???? Bukan! Bukan nanny or mbaknya kok yang masukin. Ahhh speechless!
  3. c) Miss, jepitan anak saya hilang sebelah, tolong dicari ya miss sampe ketemu. Duhhh kesian amatlah tuh guru sampe gempor nyari karena di cecar mulu ama ortu harus nemuin tuh jepitan kecil sebiji. Kalau ketemu kan pasti dikembalikan.
  4. d) Miss tolong suruh anak saya makanannya dihabiskan ya. Nah ini dia nih ortu paling tricky. Sekarang gimana ga tricky coba? Kalau ternyata si anak adalah tipe yang susah makan, dan picky eater. Lalu kita gurunya dibebankan orang tua untuk menyuruh anaknya menghabiskan makanannya. Udah gitu, dibikin lah itu porsi penuh se-tupperware. Yasalammm banget kan ya! Bagaimana cara si guru mau bikin anak ngabisin makanannya kalau di rumah aja si anak makan cuma se sendok dua sendok. Tricky banget kan! Ntar kalo makanan anak ga abis itu jadi beban si guru. DAN KEJADIAN INI SUNGGUH BANYAK SAYA ALAMI.

Mau tahu jawaban saya kalau menghadapi tipe orang tua sperti ini?

Maaf ya bu, tolong jangan bawakan bekal yang sebanyak itu, karena di sekolah kita cuma punya waktu 30 menit untuk makan, dan bawalah makanan yang pasti bakal dimakan sama si anak. Latih dirumah untuk makan makanan sehat. Dsb….

Disangkanya kita petugas tantrib yang mana entar anak-anaknya takut ama gurunya, jadi tuh anak pasti bakal mau makan dan abisin makanannya. Mumpung di sekolah gitu, udah bayar mahal-mahal. Si ortu mau mendelegasikan tugas memberi makan anaknya pada sang guru juga. Ya jangan gitu juga kali ya bu! Hihihihi

    e) Miss tolong anak saya jangan duduknya didekatkan dengan si B ya, atau si C. Iyaaa dituruti, but saying this like every single day. Miss tolong liatin kalau main ya, jangan sampe anak saya jatuh. Like every single day!!!

Hmmmmmm aku speechlessssssss…

3) Tipe Orang tua Cuek
Nah yang ini mah cuek banget, kebangetan. Susah dihubungi, dikasih surat or message ga pernah dibales…alesannya selalu ada di luar kota or sibuk kerja. Itu bukan alesan karena saya menyaksikan banyak ibu bekerja yang details banget soal urusan anaknya. Details disini bukan yang demanding ya. So, jangan terlalu cuek juga.

Jadi begitulah kira-kira gundah gulana saya.

Semoga ocehan saya diatas bisa diambil positifnya ya, saya juga menghimbau para guru untuk yakin dengan profesi yang dijalani. Yakin kalau menjadi guru itu bukan sekedar profesi tapi passion yang tak kenal lelah dan penuh sabar menghadapi anak-anak muridnya, meskipun harus menghadapi berbagai tipe orang tua yang super duper bikin kepala cenat cenut!

Dear my fellow teachers,
Keep calm and be a Good teacher!
Because we teach, we care, we inspire. (Tsahhh yell2 sekolah ayeee tuh makkk) hahaha

Dear beloved parents,
Keep calm and be the sweet parents!
Because Happy teachers means Happy kids, and happy kids means happy you! Yes happy parents.

So, shall we become good partners?

image
12 years teaching and I’m still happy and passionate…

Advertisements

54 thoughts on “Happy Teachers=Happy Children=Happy Parents

  1. Iya si tau dari dulu kalo jadi pengajar dan juga orang tua itu susah, tapi baca in? Ko kenapa susah banget ya 😀

    Nanti aku pasti bakal baik ke guru – guru anakku, palingan anakku yang aku jewer kalo nakal hahahaa…

    • Ya kerjaan kan pasti ada enak ga enaknya ya ji. Mungkin dibagian ini ga enaknya ttg kerjaanku. Tp tahun ajaran ini ortu di kelasku ketje dan baik semua….iya ji jangan rese lah pokoknya

  2. aku suka salut deh sama guru2 tk kak jo, pasti stok sabarnya gede banget yaaa tiap hari handle krucil2 gitu yg berbagai macam tingkah lakunya huaaaah makanya jadi guru itu memang mesti ada passion ya, gak kebayang kalau aku jadi guru tk (gak cocok makanya gak jadi) hahaha.. semoga aku termasuk tipe parents yang aman2 aja deh ga rese, kasian gurunya jg udah ribet tiap hari trus dibikin tambah ribet sama ortu2 yg rese.

  3. Waah..salut sama Mbak Jo, juga guru-guru tk lainnya. Nggak cuma harus sabar menghadapi anak-anak, tetapi orangtuanya juga.

  4. Woaa, you’ve been teaching for 12 years? amazing! Semangat bugulu!! Ini pelajaran banget buat saya kalo ntr jadi ortu murid mihihi
    kayaknya saya bakal tipe bawel banget deh, secara kalo pas kebagian jatah ngambil rapot adek aja saya banyak ngomong ke gurunya nanya ini-itu, minta solusi, trus cuma dipandang sebelah mata karena saya bukan “ortu” tapi kakak. sediih…

  5. Hahaha, suka duka jadi guru ya Jo. Iya sih,kalau dipikir-pikir kalau jadi guru dari anak-anak yang masih usia belia gitu kayaknya yang repot adalah meng-handle orangtuanya memang ya, hahaha 😆 .

    Jadi penasaran pernah kejadian gak ya orangtuanya minta nyariin barang anaknya yang hilang (jepit atau apa gitu), eh taunya barangnya ada di rumahnya sendiri, hahaha 😆 .

    • Yup hrs bljr juga cara ngadepin parents..
      Nah pernah banget. Buku pinjam di library..marah2 bilangnya dah balikin ngotot pulak.. eh ternyata ada dirumah. Pernah nih paling perdana kelas sebelah, godmothernya marah2 ke office krn pas dia dtng kesekolah antar si anak eh tnyta skolah libur mid term break. Trus malu ternyata ada pemberitahuannya ditempel di communication book si anak. Dianya aja yg ga baca buktinya anak lain tau kok klo skolah libur. Parah kan ya! Hihi

  6. Ini toh yg kata kamu udah kesimpen di draft lama hahahah. Untungnya masih ngajar TK ya Joice, jadi at least org tua kalo kelewat protektif sama anaknya paling kita msh bisa maklum karena anak2 mereka masih pd kecil2 dan lucu2. Tapi kalau anak udah SMA tp mamanya masih anggep anaknya kayak anak TK, itu yg bikin urut2 dada. Mana anak yg lagi remaja gitu suka tipu muslihat. Di depan mamanya kayak puppy manja2, di sekolah di hadapan temen2nya ud kayak singa hahaha.

    • Iya saking banyaknya kejadian 7 bln lalu tp pas mau diposting kok ya berasa pjng bener.
      Iya klo anak tk masih wajar ya(wlpn ttp nyebelin sih klo nemu yg demanding tingkat dewa) klo anak smp hadehhhh angkat tangan deh.
      Btw kami dl pernah punya murid yg drama banget. Dia bilang ke mamanya disirem air panas ama gurunya…ampe speechless lah wong tuh guru marah aja ga bs. Ternyata pas udah dikorek2 ceritanya dihiperbola ama nih anak..pdhl gurunya lagi kasih air biasa (dingin) di cup utk painting, eh airnya tumpah dikit ke tangan anak ini..thats it. Thn depannya jd murid gue dan udah wanti2. Bener aja one day dia lari pas lg pake kaos kaki trus jatuh kepleset. Gue tanya “why did u fall down?,” dijwb “becoz there’s water on the floor” jelas2 lantainya kering… jadi sebelum dia lebih kreatif ngarang cerita ke mamanya, gue perjelas “where’s the water Tom(nama samaran)? Sambil nunjukin lantai tmpt dia jatoh.. “no water right?”… imajinasi nih anak terlalu tinggi. Asli sepanjang thn ajaran jd waswas terus ama nih anak and mamanya super duper demanding even until now udah grade 3 semua guru diskolah itu jd waswas abis deh krna ampir tiap hari datengin guru dan Da aja yg dikomplain. Ckckcckkk…
      Untunglah thn ajaran ini anak2 daj mama2 dikelas gue asik semua…ngajar pun jadi asik banget

  7. Kata temenku pekerjaan paling repot itu jadi dokter anak, soalnya pasiennya ada 2: anak dan orangtua (jadi 3 malah ya). Nah menurutku tambah 1 lagi pekerjaan yg repot, guru TK! Karena muridnya ada 2:anak&ortu 😀
    Btw nanti aku mau ngobrol2 deh mba soal ini, soalnya aku baru mau masukin barra sekolah2an, pas trial kmrn mulai mikirin gimana ya sikap2nya guru2 sama anak gw. Maklum mbaaa ini aku perdana ‘ngelepas’ anak sama oranglain, bawaannya parnooo hahaha. Musti banyak belajar sm mba deh kayaknya.

    • Hi fen. Wah iya bener banget tuh yg temenmu bilang, dokter anak juga ribet ya percis kyak guru tk ini krna pasiennya ada 2 ya.
      Boleh fen..colek aja aku di wa..nanti ku kasih no ku di IG ya

  8. Sepertinya para orang tua-nya itu yg perlu ditatar dulu ya Jo. Soalnya kalo ortu-nya sendiri ga punya manner yg bener gimana anaknya? Guru itu kan tugasnya mengajar, mendidik si anak, bukan untuk ‘ngurusin’ printilan anak yg ga penting2 banget. Kalo disini yg guevliat so far si Jo para ortu sopan santun. Kalo mau complain harus bikin appointment dulu dengan sang guru ga bisa main asal labrak kayak si bapak2 itu😁😁
    Happy teaching Jo! x

    • Indeed mba…harus menyamakan visi misi dulu dan mesti dikasih tau tatacaranya. Kadang pihak skolah juga ga tegas..ada aja yg kecolongan macam gt. Tq mba ri.

    • Precisely mba Fe, banyak yang berfikir ahh dah bayar mahal2 jd klo ada yg kurang2 dikit merasa fine2 aja klo protes tanpa manner. Malah kubilang skolah2 biasa yg nasional malah masih lebih respect ama gurunya. Pihak skolah jg mesti lebih tegas tp tetap friendly. Soalnya guru&parents itu hrs jd good partner.

  9. jd mikir saya termasuk orang tua murid tipe apa yaa? kadang kl masalahnya masih sepele, masih sama pendem aja. Palingan cuman tulis di buku komunikasi atau sms aja. Gak pernah maen teriak teriak di kelas.. moga gak sampe kejadian kaya gitu

  10. yah namanya orang emang sifatya macem2 ya. buat kerjaan yang selalu harus berinteraksi sama orang lain (salah satu nya ya profesi guru) emang ya pasti nemuin aja orang2 yang modelnya aneh2 dan nyebelin. sama lah kayak kita ngadepin user. hehehe.

  11. Sekolah itu sama kayak usaha di bidang servis ya.. konsekuensinya harus bs melayani customer semaksimal mgkn tp skrg istilah customer adalah raja uda gak berlaku deh.. customer is a partner sama halnya para orangtua.. apalagi servis yg dijanjikan adl pendidikan dan produk yg dihasilkan ada di anak2nya.. emang harus saling pengertian.. mudah2an aq termasuk ortu yg bs jd partner guru deeh ✌

    • Iya betul mba. Klo ada guru yg rasanya perilaku kurang baik dan ga care ama anak2 boleh tuh diajak berdiskusi supaya tersampaikan uneg2nya..partner kan harus saling menghargai

  12. kaka guru tk??? Enakkkk o, tiap hari bisa ketemu anak anak kecil..
    walau ada kejadian kaya yg disebut diatas, tetep seneng jadi bisa tambah sabar hehe.. awet muda hihi.
    jadi kepengen jadi guru tk.. hmm

  13. Hai Joice.. salam kenal ya dari aku… 🙂 Ah ternyata teacher ya seruu… jadi kebayang from the other side of kita orang-orangtua murid.
    Memang kadang2 ortu kepengen yang terbaik dan anaknya ikut “diurusin + diperhatiin” sih ya di sekolah. Tapi kalau kasus ga boleh makan manis2 tapi dibawain cokelat ya itumah emaknya sendiri yang ngajak ribut miss nya ya hahahaha.
    Ada lagi loh, cerita di sekolah anakku dulu.. anaknya suka ngambilin makanan temen-temennya dan bermasalah gitu di sekolah. Ibunya waktu dipanggil ga terima.. ternyata kalau pagi ga dikasih sarapan dirumah (katanya anaknya ga mau. emang udah dari dulu) jadi aja suka gragas ngambilin (secara ga sopan) makanan temennya dan yg disalahin gurunya, ga bisa ngejagagain -_- Aku ga ngerti lagi deh kalo kasus itu dulu kalo inget geleng2 sendiri.
    Sekali lagi salam kenal yaaaaahh…

    • Hi Chica salam kenal jg. Iya aku pun juga ortu murid jadi selalu harus melihat dari 2 sisi.Intinya saling ngerti dan menghargai. Wah parah tuh anak ga dikasih sarapan jd gragas ya plus kok ga nyambung itu gurunya yg disalahin…

  14. Hahah.. Ya ampun ternyata orang tua murid jugak banyak dramanya ya, Kak.. 😛

    Tapi waktu aku TK pun dulu ada mamaknya kawan ku yang hobi kali merepet ke guru kami. Asik ada aja yang salah. Jadi sedih nengoknya 😦

  15. Orang tua rese yang pingin banget saya pites… dikiranya guru di sekolah itu perpanjangan tangan Mbak di rumah apa, disuruh ngabisin makan dan minum ini itu? Dan dikiranya guru di sekolah cuma ngurusin anak situ doang apa? Privat noh sekalian, bikin sekolah sendiri *loh kok saya malah jadi nyolot ya :haha*.
    Kerjaan pendidik itu memang banyak dramanya ya Mbak… kirain cuma guru SMP atau SMA saja yang banyak dramanya, ternyata di sini pun banyak banget :hehe. Semangat terus, para guru! Semoga juga sih, kalau saya jadi orang tua nanti :amin, saya bisa jadi yang informatif :hehe.

  16. Jooo, semangat ya!.
    Bener banget klo gurunya happy tu bikin muridnya happy.
    Apalgi bocah TK. Secara alami mereka baru bisa main dan main, gak boleh dipaksa belajar mcm2. Pasti susah jadi guru deh ngadepin ortu, baik yg rese atw cuek. Tapi, keep happy dan semangat yaa!

    • Thank you Ziiii…iya anak2 itu kan maunya hepi2 diskolah. Tapi gimana mau hepi2 kalo gurunya abis kena komplain tiap hari. Eh walaupun ya guru tuh ga boleh nunjukin muka sedih depan anak2. But well balik lagi guru juga manusia.

      • Ishh, itu para ortu yg sering komplen mungkin cuma mengkambinghitamkan guru Jo. Mereka pasti jg bukan ortu sempurna, abaikan sajah. Wajarlah guru ada kekurangannya, wong ngurus bocah banyak. Yg penting bikin bocah semangat aja udah bagus kok.👍👍👍

  17. dari dulu idolaku guru tk (skrg pg jugak)…salute aja,ibu2 sendiri dg anaknya kadang msh suka “blue moment” kan.. butuh me time lah apalah apalah, alih2 ngomelin anak,jd gantian ama bapaknya atw mbnya notice bocah dirumah..nah ini guru pg/tk,tiap hari liat polahlaku “anak orang lain” ckckck superr sabarrudin ya say…
    soal anak yg suka bawa “pengaruh buruk” di skul itu gmn cr ngmgny ke guru ya,soalnya ada tu tipe anak begitu di skul anakku, ortu lain udh pernah anti2 ke aq nah sekali waktu kejadian di aq,anakku jd biasa bgt ngmg nyaut2in ortu,maen kasar ama adeknya dsb dst… ortu si anak udh dipanggil jg ama pihak skul,namun tetap aja si anak begitu lagi..
    kalo sudah gini yg aq lakuin apa? pindahin anakku sekolah, drpd was-was tiap hari..

    • Makasih..Iya memang bingung kalau ada anak yg sperti itu. Repotnya kalaupun kita udah panggil ortunya, eh ortunya yg cuek gitu jd gurunya makin capek. Ada baiknya si guru terus2an diingatkan ttg perilaku anak itu. Memang kuncinya ada di ortu sih.

      • iya say,soale anak tu kan copypaste bgt.. mbeo namanya juga masih mungil kan,jd belum bisa bener peka ini-itu yg ga baik… sayangnya ortu si anak tadi kurang “peka” kalo ortu murid yang lain udah pake cara buat ngejauhin anak masing-masing dari anaknya.. kesian juga anaknya dia kan…
        #ish maaf aku curhat…
        thx b4

  18. Salam kenal miss Jo. Aku pun juga ngajar 2nd grade sekarang. Tahun ajaran belum kelar tapi udah kenyang ama yang macam beginian hehehe… tapi aku masih cinta mengajar walaupun kadang ada komplain dari parents

    • Hi hanna…salam kenal juga.Ahh senangnya bisa ketemu sama teman seprofesi di dunia blog. Dunia mengajar tuh ga akan pernah bikin alu kapok dam bosan. Kalau ada parents yg resek2 ya itu part of bumbu2 kan ya.

      • Anggaplah itu bumbu penyedap hahaha…. Sedih juga memang kalau udah latihan berbulan-bulan dan pas hari H-nya ada parents yang komplain soal performance anaknya, duh 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s