60

Rieview If I Stay : Dying Is Easy, Living Is Hard

If You Stay, I’d do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that too. Maybe coming back to your old life would just be too painful. Maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can love you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go, If you stay.

image

Picture take from the official IG of @IFISTAYMOVIE

 

Pernah merasa hampir mati? Atau merasa ingin mati saking sakitnya menahan sesuatu? Saya rasa beberapa dari kita pernah ya. Apalagi untuk beberapa perempuan yang dalam proses persalinan (mostly yang melahirkan secara normal) pasti rasanya mau mati aja saking sakitnya. I know yang operasi SC juga pasti sakit, karena saya sendiri dua kali melahirkan ya dua-duanya cesar. Tapi serius deh hari pertama setelah operasi rasanya mau mati aja saking sakitnya menahan bekas jahitan waktu mau belajar duduk, belajar berdiri dan belajar berjalan. Nangis sambil peluk si mamak saking ga kuatnya.

Sakit yang baru aja saya rasain dan masih terngiang-ngiang sampai sekarang ya itu kecelakaan setahun lalu waktu tulang siku saya bergeser dan harus di-adjust ama tukang urutnya. Literally nangis semalaman sampai pagi saking ga kuatnya nahan perih, nyut-nyutan dan segala macam rasa sakit lainnya yang tak terjelaskan. Tapi ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding saat saya harus bisa belajar menekuk tangan (setelah sebulan lebih tangan saya diikat perban dan diluruskan) saya ingat saya teriak sekuat-kuatnya “makkkkkk, aku mending mati ajaaaa makkkk”…hahahaha sekelurahan bisa denger suara saya teriak -teriak ga karuan saat itu. Hmmmm sekarang lu boleh ketawa jo! Tapi dulu? Huhhh gilakk deh beneran itu sakit ga bisa ditolerir…gak mau banget sebenernya ingat-ingat hal itu tapi karena nonton film “If I Stay” minggu lalu saya jadi teringat akan seringnya kita bilang, “duhh sakit banget gilak, mau mati gue rasanya”. (Eh saya sih yang sering bilang gini…hehehe). Ternyata di film ini saya menyadari betapa memang dying is easy, and living is hard. Kenapa begitu, yuk simak ceritanya.

Mia gadis berusia 17 tahun yang lahir di keluarga rock and roll. Bapaknya mantan drummer band terkenal di kota mereka pada masanya dulu, mamanya juga agak nyentrik alias tukang bikin rusuh dulunya. But then, mereka married dan mempunyai Mia dan Teddy. Sepertinya bapaknya Mia ini mengalami yang namanya titik balik dalam kehidupan, he quit from his band and now he is teaching English in school. Banting stir gitu deh ceritanya. Mamanya juga jadi part timer di travel agent dan ngurus Teddy adiknya Mia (yang jarak usianya cukup jauh).

Sejak kelas 2 SD Mia tertarik pada instrument Cello, dia belajar main cello siang malam dan bikin papa mamanya bingung karena kok bisa keluarga rocker eh anaknya malah pilih Cello dan music classic. Tapi cello kan mahal, jadi dia pinjam cello punya sekolah. Suatu hari papanya datang bawakan cello untuk Mia. Belakangan diceritain kalau ternyata papanya jual drumnya supaya bisa beli cello untuk Mia. Mia adalah pemain cello berbakat (and confirmed, saya makin ngefans banget sama alat music satu ini). Mia bukan tipe yang banyak teman dan pintar bergaul, cuma punya satu sahabat perempuan bernama Kim.

Suatu hari, Adam (one of the most wanted boy in school) ngeliat Mia yang latihan cello di ruang music. Adam kesengsem abis nih sama Mia. Udah cantik, pintar main cello pulak. Mia bener-bener ga percaya kalau Adam suka sama dia, karena rasanya ga mungkin banget Adam seorang gitaris skaligus vokalis band local yang udah lumayan tenar kok bias-bisanya jatuh cinta sama gadis seperti Mia (si Mia ini gak pedean anaknya) Adamnya juga udah pasti ganteng and honestly, I fall in love with Adam once he goes to the stage, playing his guitar and sing the unfamiliar songs but I really enjoyed the music (udah download semua lagu-lagunya yang dinyanyiin bandnya Adam di film ini..iye gue kalau dah suka ya begini deh! TOTAL!! Hahahahaa) I fall in love with his gesture on the stage, his gesture when he was with Mia. Aduhhh dek Adam, kamu kok gitu amat sih dek! bikin kakak kesengsem nih #KalimatTernazhongYangGueTulisDiTahun2016 ini. WAKAKAKAKAKAKAKKKKK 😀

Well, ok gayung bersambut nih karena Mianya juga suka ama Adam, si Adam bisaan aje lagi ngajakin Mia nonton konser cello. Bilangnya sih ngajakin Mia karena ada anggota keluarga Adam yang batal pergi jadi tiketnya dikasih ke Adam. Padahal mah itu modus murahan semata, itu duit beli tiket konser cello (yang mahal) adalah hasil uang tips nganter pizza selama dua minggu. SEKALI LAGI, ADAMMMM KAMU SO SWEET AMAT SIH DEK!!!! #Siap2diPentungBerjamaahNihGue 😀

Long story short, mereka jadian dan kayaknya satu sama lain salin cinta banget-banget tapi Adam lebih dulu lulus dari SMA dan bandnya makin terkenal dan sering tur keluar kota. Hal ini bikin mereka jadi jarang ketemu, tapi tiap kali Adam ga ada show udah pasti dia bakal spend time with Mia. Ga tertarik selingkuh si Adam biar kata banyak grupies yang suka sama dia. Kebayang ga sih punya cowo yang cool, ganteng, dan front man di sebuah band yang dipuja-puja? gak kuat saya mahhhh!!! pasti cembokuran mulu deh.

Satu-satunya yang menjadi sumber masalah dalam hubungan mereka adalah, saat Mia mendaftar di sekolah music Julliard yang ada di New York. Mia daftar disana karena itu adalah sekolah impiannya. Ga sembarang orang yang bisa masuk sana. Untuk bisa dipanggil audisi aja dah sukur banget. Mia pun dapat panggilan audisi, trus pas dia kasih tau Adam tentang hal ini, Adamnya marah besar karena menurut dia, itu gak fair karena mereka berdua udah janji untuk bareng-bareng kuliahnya nanti, malah mereka uda rencana mau stay together (gile ya sampe segitunya, masih umur segitu). Berhubung Adam ini ditingglakan or diterlantarkan oleh orangtuanya dari kecil, ini bikin dia ga suka berajauhan sama orang yang dia cintai, dan dia juga ga bisa nerima keadaan yang seperti Mia lakukan, kalau udah janji mau barengan ya jangan tiba-tiba rubah rencana. Jadi ini alasan Adam marah besar dan akhrinya mereka putus deh. Sempat sih mereka baikan lagi pas ultahnya Mia, tapi trus mereka menemukan jalan buntu untuk hubungan mereka. Ga ada yang mau ngalah, jadi akhirnya mereka putus (Adam penganut anti LDR hahahaha)

Nah ini dia bagian paling sedihnya, yaitu waktu suatu hari, hari dimana seharusnya Mia menerima surat keputusan dari Julliard Music school tentang diterima atau tidaknya Mia di sekolah itu, Mia dan keluarganya pergi untuk mengunjungi kakeknyabyang ada di perternakan karena bertepatan hari itu sekolah diliburkan akibat adanya badai salju. Naas mobil mereka mengalami kecelakaan di jalan. Kecelakaan ini merenggut nyawa ibu dan bapaknya. Mia dan Teddy adiknya masih bertahan hidup walau sekarat or koma. Diceritakan disini ada seakan-akan rohnya berkeliaran (bagian ini sulit dijelaskan…jadi kaya bagian jiwa Mia gitu…or apalah ga ngerti ya penjelasan meta fisikanya) Yang pasti Mia mau berjuang untuk bertahan hidup supaya adiknya Teddy ga sendirian karena ortu mereka udah meninggal. Huhuhu sedih banget, tapi makin sedih pas ternyata Teddy akhirnya meninggal juga karena pendarahan di otak yang cukup parah. Mia merasa ga perlu hidup lagi karena kalau dia hidup artinya dia ga punya siapa-siapa lagi. Walau memang ia Mia masih punya kakek dan nenek yang sayang Mia, tapi pasti beda kan tanpa mama papa dan adiknya yang hubungannya sangat dekat.

Saat Mia sudah hampir putus asa dalam masa komanya Kim datang dan bilang kalau Mia harus tetap hidup, dan kalau pun dia bangun nantinya tanpa orang-orang yang sangat ia cintai, istilahnya sebatang kara lah ya, maka Mia ga perlu khawatir karena Mia masih punya Kim, kakek-nenek dan teman-teman yang lain yang juga sudah dianggap keluarga. Errrrr sedih banget ya karena tentu aja beda keluarga seperti itu dengan keluarga inti kita. Menurut saya, bagian paling sedih justru waktu kakeknya bisikin Mia “satu-satunya yang kuinginkan saat ini adalah bahwa kau tetap hidup, mungkin kau akan merasa saat sedih saat kau bangun nanti semua tidak sama seperti dulu, tapi tetaplah hidup, bertahanlah. Tapi, kalau memang kau ingin pergi pun tidak apa-apa, walau kami akan sangat sedih kehilanganmu” jrenggg jrengggg!!! Huhuhu mewek saya sejadi-jadinya. Jadi gitu tuh yang namanya perjuangan pengen tetap hidup. Ternyataaa susaaaa banget.

Gak lama, akhirnya Adam datang bawa surat dari Julliard yang dia temuin di rumah Mia dan ternyata Mia diterima di sekolah musik itu, sekolah impian Mia. Adam memasang earphone ditelinga Mia mendengarkan alunan instrumen cello dan Mia seperti merasa hidup kembali, tapi memang Mia nampaknya udah ga kuat lagi nahan sakit ditubuhnya, Adam sangat-sangat memohon agar Mia tetap hidup, Adam pun mengucapkan kata-kata sepeti kutipan diatas

“If You Stay, I’d do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that too. Maybe coming back to your old life would just be too painful. Maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can love you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go, If you stay.

Lalu Adam pun menyanyikan lagu ciptaannya khusus untuk Mia. Lirik lagu dan melodinya keren banget. Kira-kira seperti ini

Heart Like Yours”

Breathe deep, breathe clear
Know that I’m here
Know that I’m here
Waitin’

Stay strong, stay gold
You don’t have to fear
You don’t have to fear
Waitin’

I’ll see you soon
I’ll see you soon

Haissshhh keren yak!
Nah belum selesai nyanyi lagunya…tiba-tiba layar putih semua…layar monitor detak jantung Mia lurus dan apakah Mia berhasil berjuang untuk hidup? Pasti dah bisa tebak endingnya lah ya, kalau Mia berhasil bertahan hidup dan sadar dan semua karena besarnya cinta si Adam ke Mia. Gapapa ya saya kasih tau endingnya soalnya ini film lama kok, tahun 2014 dan ternyata adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Saya ampe penasaran ubek-ubek film ini di IG dan ternyata novelnya sendiri ada sequelnya dan katanya jauh lebih menarik dari yang pertama. Judul novel kedua adalah “Where She Went”.

Jadi ya gitu, saya bener-bener lihat bagaimana berjuang untuk tetap hidup itu susah banget ya, perlu semangat dan motivasi dari diri sendiri (dan tentunya ya atas kehendak yang Maha Kuasa ya). I mean, di film ini dilihatin bahwa kalau mau mati emang gampang banget,yang susah itu ya untuk bertahan hidup. Apalagi kita harus hidup tanpa ada lagi keluarga yang menyertai kita. Hikssss ga kebayang kan hidup Mia setelah akhirnya dia berhasil hidup. Makanya saya penasaran mau tau sequelnya, gimana kelanjutan hidup Mia selanjutnya pasca dia sembuh dari kecelakaan itu. Apakah dia tetap melanjutkan studynya ke Julliard School? Apa dia tetap bersama Adam? Ahhh tadi malam baca sekilas ebooknya dan ternyata konfliknya malah lumayan banyak di sequel keduanya ini dan diceritakan dari sudut pandang seorang Adam. Pasti lebih keren memang.

Ada yang dah nonton film ini? Saya suka semua lagu-lagu yang dibawakan Adam dan bandnya dan tentu suka banget lihat kisah keluarga Mianya sih sebenernya…sweet dan cool banget papa mamanya. Ahhh such an inspiration….Love this movie.

check out their songs here : https://www.youtube.com/watch?v=_2rDsvHUcBs

xoxo,

joeyz-penggemar drama movie