If I Stay : Dying Is Easy, Living Is Hard

If You Stay, I’d do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that too. Maybe coming back to your old life would just be too painful. Maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can love you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go, If you stay.

image

Picture take from the official IG of @IFISTAYMOVIE

 

Pernah merasa hampir mati? Atau merasa ingin mati saking sakitnya menahan sesuatu? Saya rasa beberapa dari kita pernah ya. Apalagi untuk beberapa perempuan yang dalam proses persalinan (mostly yang melahirkan secara normal) pasti rasanya mau mati aja saking sakitnya. I know yang operasi SC juga pasti sakit, karena saya sendiri dua kali melahirkan ya dua-duanya cesar. Tapi serius deh hari pertama setelah operasi rasanya mau mati aja saking sakitnya menahan bekas jahitan waktu mau belajar duduk, belajar berdiri dan belajar berjalan. Nangis sambil peluk si mamak saking ga kuatnya.

Sakit yang baru aja saya rasain dan masih terngiang-ngiang sampai sekarang ya itu kecelakaan setahun lalu waktu tulang siku saya bergeser dan harus di-adjust ama tukang urutnya. Literally nangis semalaman sampai pagi saking ga kuatnya nahan perih, nyut-nyutan dan segala macam rasa sakit lainnya yang tak terjelaskan. Tapi ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding saat saya harus bisa belajar menekuk tangan (setelah sebulan lebih tangan saya diikat perban dan diluruskan) saya ingat saya teriak sekuat-kuatnya “makkkkkk, aku mending mati ajaaaa makkkk”…hahahaha sekelurahan bisa denger suara saya teriak -teriak ga karuan saat itu. Hmmmm sekarang lu boleh ketawa jo! Tapi dulu? Huhhh gilakk deh beneran itu sakit ga bisa ditolerir…gak mau banget sebenernya ingat-ingat hal itu tapi karena nonton film “If I Stay” minggu lalu saya jadi teringat akan seringnya kita bilang, “duhh sakit banget gilak, mau mati gue rasanya”. (Eh saya sih yang sering bilang gini…hehehe). Ternyata di film ini saya menyadari betapa memang dying is easy, and living is hard. Kenapa begitu, yuk simak ceritanya.

Mia gadis berusia 17 tahun yang lahir di keluarga rock and roll. Bapaknya mantan drummer band terkenal di kota mereka pada masanya dulu, mamanya juga agak nyentrik alias tukang bikin rusuh dulunya. But then, mereka married dan mempunyai Mia dan Teddy. Sepertinya bapaknya Mia ini mengalami yang namanya titik balik dalam kehidupan, he quit from his band and now he is teaching English in school. Banting stir gitu deh ceritanya. Mamanya juga jadi part timer di travel agent dan ngurus Teddy adiknya Mia (yang jarak usianya cukup jauh).

Sejak kelas 2 SD Mia tertarik pada instrument Cello, dia belajar main cello siang malam dan bikin papa mamanya bingung karena kok bisa keluarga rocker eh anaknya malah pilih Cello dan music classic. Tapi cello kan mahal, jadi dia pinjam cello punya sekolah. Suatu hari papanya datang bawakan cello untuk Mia. Belakangan diceritain kalau ternyata papanya jual drumnya supaya bisa beli cello untuk Mia. Mia adalah pemain cello berbakat (and confirmed, saya makin ngefans banget sama alat music satu ini). Mia bukan tipe yang banyak teman dan pintar bergaul, cuma punya satu sahabat perempuan bernama Kim.

Suatu hari, Adam (one of the most wanted boy in school) ngeliat Mia yang latihan cello di ruang music. Adam kesengsem abis nih sama Mia. Udah cantik, pintar main cello pulak. Mia bener-bener ga percaya kalau Adam suka sama dia, karena rasanya ga mungkin banget Adam seorang gitaris skaligus vokalis band local yang udah lumayan tenar kok bias-bisanya jatuh cinta sama gadis seperti Mia (si Mia ini gak pedean anaknya) Adamnya juga udah pasti ganteng and honestly, I fall in love with Adam once he goes to the stage, playing his guitar and sing the unfamiliar songs but I really enjoyed the music (udah download semua lagu-lagunya yang dinyanyiin bandnya Adam di film ini..iye gue kalau dah suka ya begini deh! TOTAL!! Hahahahaa) I fall in love with his gesture on the stage, his gesture when he was with Mia. Aduhhh dek Adam, kamu kok gitu amat sih dek! bikin kakak kesengsem nih #KalimatTernazhongYangGueTulisDiTahun2016 ini. WAKAKAKAKAKAKAKKKKK 😀

Well, ok gayung bersambut nih karena Mianya juga suka ama Adam, si Adam bisaan aje lagi ngajakin Mia nonton konser cello. Bilangnya sih ngajakin Mia karena ada anggota keluarga Adam yang batal pergi jadi tiketnya dikasih ke Adam. Padahal mah itu modus murahan semata, itu duit beli tiket konser cello (yang mahal) adalah hasil uang tips nganter pizza selama dua minggu. SEKALI LAGI, ADAMMMM KAMU SO SWEET AMAT SIH DEK!!!! #Siap2diPentungBerjamaahNihGue 😀

Long story short, mereka jadian dan kayaknya satu sama lain salin cinta banget-banget tapi Adam lebih dulu lulus dari SMA dan bandnya makin terkenal dan sering tur keluar kota. Hal ini bikin mereka jadi jarang ketemu, tapi tiap kali Adam ga ada show udah pasti dia bakal spend time with Mia. Ga tertarik selingkuh si Adam biar kata banyak grupies yang suka sama dia. Kebayang ga sih punya cowo yang cool, ganteng, dan front man di sebuah band yang dipuja-puja? gak kuat saya mahhhh!!! pasti cembokuran mulu deh.

Satu-satunya yang menjadi sumber masalah dalam hubungan mereka adalah, saat Mia mendaftar di sekolah music Julliard yang ada di New York. Mia daftar disana karena itu adalah sekolah impiannya. Ga sembarang orang yang bisa masuk sana. Untuk bisa dipanggil audisi aja dah sukur banget. Mia pun dapat panggilan audisi, trus pas dia kasih tau Adam tentang hal ini, Adamnya marah besar karena menurut dia, itu gak fair karena mereka berdua udah janji untuk bareng-bareng kuliahnya nanti, malah mereka uda rencana mau stay together (gile ya sampe segitunya, masih umur segitu). Berhubung Adam ini ditingglakan or diterlantarkan oleh orangtuanya dari kecil, ini bikin dia ga suka berajauhan sama orang yang dia cintai, dan dia juga ga bisa nerima keadaan yang seperti Mia lakukan, kalau udah janji mau barengan ya jangan tiba-tiba rubah rencana. Jadi ini alasan Adam marah besar dan akhrinya mereka putus deh. Sempat sih mereka baikan lagi pas ultahnya Mia, tapi trus mereka menemukan jalan buntu untuk hubungan mereka. Ga ada yang mau ngalah, jadi akhirnya mereka putus (Adam penganut anti LDR hahahaha)

Nah ini dia bagian paling sedihnya, yaitu waktu suatu hari, hari dimana seharusnya Mia menerima surat keputusan dari Julliard Music school tentang diterima atau tidaknya Mia di sekolah itu, Mia dan keluarganya pergi untuk mengunjungi kakeknyabyang ada di perternakan karena bertepatan hari itu sekolah diliburkan akibat adanya badai salju. Naas mobil mereka mengalami kecelakaan di jalan. Kecelakaan ini merenggut nyawa ibu dan bapaknya. Mia dan Teddy adiknya masih bertahan hidup walau sekarat or koma. Diceritakan disini ada seakan-akan rohnya berkeliaran (bagian ini sulit dijelaskan…jadi kaya bagian jiwa Mia gitu…or apalah ga ngerti ya penjelasan meta fisikanya) Yang pasti Mia mau berjuang untuk bertahan hidup supaya adiknya Teddy ga sendirian karena ortu mereka udah meninggal. Huhuhu sedih banget, tapi makin sedih pas ternyata Teddy akhirnya meninggal juga karena pendarahan di otak yang cukup parah. Mia merasa ga perlu hidup lagi karena kalau dia hidup artinya dia ga punya siapa-siapa lagi. Walau memang ia Mia masih punya kakek dan nenek yang sayang Mia, tapi pasti beda kan tanpa mama papa dan adiknya yang hubungannya sangat dekat.

Saat Mia sudah hampir putus asa dalam masa komanya Kim datang dan bilang kalau Mia harus tetap hidup, dan kalau pun dia bangun nantinya tanpa orang-orang yang sangat ia cintai, istilahnya sebatang kara lah ya, maka Mia ga perlu khawatir karena Mia masih punya Kim, kakek-nenek dan teman-teman yang lain yang juga sudah dianggap keluarga. Errrrr sedih banget ya karena tentu aja beda keluarga seperti itu dengan keluarga inti kita. Menurut saya, bagian paling sedih justru waktu kakeknya bisikin Mia “satu-satunya yang kuinginkan saat ini adalah bahwa kau tetap hidup, mungkin kau akan merasa saat sedih saat kau bangun nanti semua tidak sama seperti dulu, tapi tetaplah hidup, bertahanlah. Tapi, kalau memang kau ingin pergi pun tidak apa-apa, walau kami akan sangat sedih kehilanganmu” jrenggg jrengggg!!! Huhuhu mewek saya sejadi-jadinya. Jadi gitu tuh yang namanya perjuangan pengen tetap hidup. Ternyataaa susaaaa banget.

Gak lama, akhirnya Adam datang bawa surat dari Julliard yang dia temuin di rumah Mia dan ternyata Mia diterima di sekolah musik itu, sekolah impian Mia. Adam memasang earphone ditelinga Mia mendengarkan alunan instrumen cello dan Mia seperti merasa hidup kembali, tapi memang Mia nampaknya udah ga kuat lagi nahan sakit ditubuhnya, Adam sangat-sangat memohon agar Mia tetap hidup, Adam pun mengucapkan kata-kata sepeti kutipan diatas

“If You Stay, I’d do whatever you want. I’ll quit the band, go with you to New York. But if you need me to go away, I’ll do that too. Maybe coming back to your old life would just be too painful. Maybe it’d be easier for you to erase us. And that would suck, but I’d do it. I can love you like that if I don’t lose you today. I’ll let you go, If you stay.

Lalu Adam pun menyanyikan lagu ciptaannya khusus untuk Mia. Lirik lagu dan melodinya keren banget. Kira-kira seperti ini

Heart Like Yours”

Breathe deep, breathe clear
Know that I’m here
Know that I’m here
Waitin’

Stay strong, stay gold
You don’t have to fear
You don’t have to fear
Waitin’

I’ll see you soon
I’ll see you soon

Haissshhh keren yak!
Nah belum selesai nyanyi lagunya…tiba-tiba layar putih semua…layar monitor detak jantung Mia lurus dan apakah Mia berhasil berjuang untuk hidup? Pasti dah bisa tebak endingnya lah ya, kalau Mia berhasil bertahan hidup dan sadar dan semua karena besarnya cinta si Adam ke Mia. Gapapa ya saya kasih tau endingnya soalnya ini film lama kok, tahun 2014 dan ternyata adaptasi dari novel dengan judul yang sama. Saya ampe penasaran ubek-ubek film ini di IG dan ternyata novelnya sendiri ada sequelnya dan katanya jauh lebih menarik dari yang pertama. Judul novel kedua adalah “Where She Went”.

Jadi ya gitu, saya bener-bener lihat bagaimana berjuang untuk tetap hidup itu susah banget ya, perlu semangat dan motivasi dari diri sendiri (dan tentunya ya atas kehendak yang Maha Kuasa ya). I mean, di film ini dilihatin bahwa kalau mau mati emang gampang banget,yang susah itu ya untuk bertahan hidup. Apalagi kita harus hidup tanpa ada lagi keluarga yang menyertai kita. Hikssss ga kebayang kan hidup Mia setelah akhirnya dia berhasil hidup. Makanya saya penasaran mau tau sequelnya, gimana kelanjutan hidup Mia selanjutnya pasca dia sembuh dari kecelakaan itu. Apakah dia tetap melanjutkan studynya ke Julliard School? Apa dia tetap bersama Adam? Ahhh tadi malam baca sekilas ebooknya dan ternyata konfliknya malah lumayan banyak di sequel keduanya ini dan diceritakan dari sudut pandang seorang Adam. Pasti lebih keren memang.

Ada yang dah nonton film ini? Saya suka semua lagu-lagu yang dibawakan Adam dan bandnya dan tentu suka banget lihat kisah keluarga Mianya sih sebenernya…sweet dan cool banget papa mamanya. Ahhh such an inspiration….Love this movie.

check out their songs here : https://www.youtube.com/watch?v=_2rDsvHUcBs

xoxo,

joeyz-penggemar drama movie

Advertisements

60 thoughts on “If I Stay : Dying Is Easy, Living Is Hard

  1. aaah aku juga nontooon, samaaa.. iri berats krn bisa ngadapetin si adaaam hahaha
    tp sedih ya keilangan ortu dan adeknya, mana mereka ber3 sayang bgt sama si Mia 😦

  2. Jo, aku langsung nangis bagian kakeknya bisikin Mia. I did it waktu ibu koma beberapa hari karena kecelakaan. Dan itu 100 hari setelah bapak meninggal. Aku bisikin ke ibu kalau memang ibu kangen bapak dan ingin kumpul dengan bapak, aku dan adik2 ikhlas ibu pergi (meskipun aku bisa rasakan gimana sakitnya akan kehilangan orangtua dalam waktu 100hari). Tapi kalau ibu ingin bertahan, kami akan bantu dengan doa sekuat hati. Setelah aku bisikin itu, disudut mata ibu, air menetes. Duh aku selalu nangis kalo ingat ini. Entah apa yg membuat ibu akhirnya kembali, tapi ibu selalu berkata bahwa ini adalah kesempatan hidup kedua.

    • Baca postingan Jo dan koment Deny bikin mataku mbrebes mili…
      Trims review nya Jo. Aku punya ebook nya dan sequelnya. Tp belon aku baca. Td nya aku pikir ceritanya sejenis thriler..ternyata sedih banget ya ceritanya..

    • Den…..hiksss hikkkss aku baca komenmu jadi mewek… aku penasaran ama isi pikiran orang yg lagi koma…makanya di film ini digambarin si Mia itu pas koma ya dia kayak bisa lihat dan rasakan skitarnya…wahhh ibumu benar merasa diberi kesempatan utk hidup kedua ya. Smoga ibumu sehat selalu

      • Nanti aku akan bikin tulisan ya Jo apa yang terjadi ketika Ibu koma. Apa yang terjadi dialam lain ketika ibu dalam keadaan koma, karena ibu cerita itu. Beneran sekarang jadi nangis kalo ingat hal itu lagi. Betapa hidup kadang hanya sekedipan mata. Amiinn thanks Jo.

  3. Ah gue baca postingan elo aja udah berkaca kaca apalagi gue nonton film nya.
    Gue kadang malu kalo nonton yang bikin mewek begini, pasti udahannya mata bengkak parah gegara nangis bombay 😆
    Anyway bener banget, hidup itu lebih susah daripada kalo mati sih, Jo. Ada masanya loh, gue perlu banyak alasan untuk tetap hidup dan semangat, tapi cuma cukup satu alasan aja buat tidur selamanya

  4. akuuuuu sudah nonton filmny Mbak Jo!!!
    Novelnya juga punya, tapi belum dibuka dari plastiknya 😀
    berharap sekuelnya juga difilmin mbak

  5. sukaaaa sama ceritanya, happy ending gitu, sweet banget sih Adam, maunya nonton yg pertama aja, film lanjutannya ini pasti banyak konfliknya, kasian Adam (tiba2 kesengsem juga sama Adam) 😀

    • Wahhh tosss da…aku kelewat postinmu yg ini da…ntar kucari ahhh. Aku suka semua lagu and liriknya. Pas banget ya. Suka kehangatn keluarga si Mia…huhu sedih deh

  6. *ngacuuuung*
    dan nonton ini berhasil bikin aku mewek padahal nontonnya pas dikantor!salahin partner kantor yang nyodorin donlodan pilem ini..hihihi
    dan aku pas ending nya masih agak nyesek sih mbak, soalnya kok parents nya meninggal sih..ga relaaaa >.<

    *btw pecah telor nih akhirnya berani komen disini, salam kenal mbak jo :D*

  7. Hai Mbak, biasanya silent reader, tp gatel pengen komen. Saya juga suka banget sama film ini, dan saran saya: Mba Leony harus baca novelnyaaaa… If I Stay dan Where She Went favorit saya banget buat tipe novel sedih. Udah dibaca berulang-ulang. Makanya excited banget waktu tau difilmkan. Dan novel Where She Went jauh lebih baguss drpada If I Stay (yang emang juga udah bagus). Makanya saya sebenernya nungguin where she went juga difilmkan, tp sayangnya kayaknya ga kejadian, hehehe. Fyi, di sequelnya lagu2nya Adam lebih banyaaaak dan liriknya dalem daleeeeemm

      • Hahahaha Hi Twindya..aku juga heran…kok Leony? Perasaan si Leony belum komen dimari deh. Hihihi. Eh iya nih mau banget baca novelnya. Aku dah liat teaser Wherw she went loh di youtube. Masa ga dipilemin sik? Ahhhhh galauuu nih. Emang betul aku dah baca sekilas ebooknya where she went…ya ampin itu colateral damage keren2 amat yaaak liriknya. Adamnya makin matang!!! *halahhh duren kali ah mateng* 😃😃😂😂

      • Saya langsung buka google dong pas baca mba Jo nulis ada teaser where she went di youtube. Udah excited banget, dan berharap sayanya yg kurang update. Tapiiii…setelah digugling lebih mendalam, itu kayaknya bikinan orang doang gitu deh mba (keren banget tapi ya teasernya). Dan setelah saya cek imdb juga g ada. Hiks jadi sedih. Masih berharap difilmin, hehehe. Ayo jangan cuman sekilas bacanya, saya aja jd mau baca lagi weekend besok gara2 baca postnya Mba Jo.

      • Iya aku juga kan lihat2.lagi tuh teasernya ealah rekayasa semata huhuhu…aku pengen banget baca khusyuk tapi.lagi banyak list bacaan menunggu. Lagi reread baca supernova (hahaha menyambut kelahiran Intelegensi embun pagi) minggu depan…yihiiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s