Saur Matua Mauli Bulung

Ada yang pernah dengar kata-kata diatas? Ya “Saur Matua Mauli Bulung” adalah acara adat batak tertinggi untuk konteks upacara kematian. Sebelumnya saya mau ajak teman-teman untuk mengetahui sedikit informasi tentang adat batak yaitu tentang upacara adat untuk kematian orangtua. Jadi ada tiga macamnya dan menurut Bulman Harianja BA, Wartawan SIB…begini ringkasnya:

SARI MATUA

Sari Matua adalah seseorang yang meninggal dunia apakah suami atau isteri yang sudah bercucu baik dari anak laki-laki atau putri atau keduanya, tetapi masih ada di antara anak-anaknya yang belum menikah (hot ripe). Nah saya baru tahu kenapa posisi tangan yang meninggal dilipat didadanya..katanya sih artinya almarhum/almarhumah masih berdoa agar anak-anaknya atau keturunannya menikah dn berketurunan. Hmmmm dimana masuk akalnya ya yang sudah meninggal berdoa…tapi mungkin maksudnya itu harapan almarhumah sebelum meninggal..well who knows.

SAUR MATUA

Seseorang disebut Saur Matua, ketika meninggal dunia dalam posisi “Titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru”. Yang artinya punya anak laki-laki dan perempuan dan mempunyai cucu dari anak laki-laki dan punya cucu dari anak perempuan. Tetapi sebagai umat beragama, hagabeon seperti diuraikan diatas, belum tentu dimiliki seseorang. Artinya seseorang juga berstatus saur matua seandainya anaknya hanya laki-laki atau hanya perempuan, namun sudah semuanya hot ripe dan punya cucu. Jafi gak harga mati harus yang punya anak laki and perempuan ya.

MAULI BULUNG

Mauli Bulung adalah Meninggal dunia dalam posisi titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat tu namar-nini, sahat tu namar-nono dan kemungkinan ke “marondok-ondok” yang selama hayatnya, tak seorangpun dari antara keturunannya yang meninggal dunia (manjoloi) (Seseorang yang beranak pinak, bercucu, bercicit mungkin hingga ke buyut).

Dapat diprediksi, umur yang Mauli Bulung sudah sangat panjang, barangkali 90 tahun keatas, ditinjau dari segi generasi. Mereka yang memperoleh predikat mauli bulung sekarang ini sangat langka. Dalam tradisi adat Batak, mayat orang yang sudah Mauli Bulung di peti mayat dibaringkan lurus dengan kedua tangan sejajar dengan badan (tidak dilipat).

Kematian seseorang dengan status mauli bulung, menurut adat Batak adalah kebahagiaan tersendiri bagi keturunannya. Tidak ada lagi isak tangis. Mereka boleh bersyukur dan bersuka cita, berpesta tetapi bukan hura-hura, memukul gondang ogung sabangunan, musik tiup, menari, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Kasih lagi Penyayang.

Wahhhh ribeud amat mati doank ya? Gitu kalau kata orang kebanyakan. Tapi namanya pun adat istiadat ya.. Buat saya yang orang awam yang sudah masuk genereasi “males and ga ngerti ama adat deh” ini emang clueless banget. Kejadianlah Januari lalu saat akhirnya opung kami tercinta harus pergi untuk selamanya. Saya terus terang belum siap dengan kepergian opung. Bahkan sampai sekarang pun merasa opung masih hidup alias di lagi pergi aja ke suatu tempat dan nanti juga balik lagi. Opung kami ini menutup usia 80 tahun dengan sakit kanker Paru-paru stadium 4…beliau divonis bulan Agustus lalu dan karena usianya dah cukup tua maka kami hanya bisa pasrah dengan perawatan dokter tanpa kemoterapi.

Kehilangan opung adalah kehilangan pertama saya yang rasanya berat karena beliau ini adalah opung yng yang tinggal bareng saya dari kecil dulu. Saya adalah cucu pertamanya karena bapak saya adalah anak pertama dari 7 bersaudara. Dengan kata lain opung berubah namanya pasca kelahiran saya menjadi “Opung Joice” iya begitulah adat istiadat batak..sehingga saya menjadi “pahompu panggoaran” atau cucu yang membawa nama. Opung meninggal Kamis tanggal 4 januari jam 7 pagi tepat saat saya, uppa dan anak2 ada di dalam mobil mau berangkat ke Bandung untuk keperluan pekerjaan saya…..lalu semua batal saat menerima kabar kepergian opung.

Nangisss sejadi-jadinya…banyak penyesalan bertubi-tubi karena terakhir ketemu opung pas tanggal 1 januari di rumah sakit. Hikssss ..lemesss ga berdaya speechless..semua jadi satu😢😢😢😢….pokoknya nangis terus di rumah duka..saya juga sempat menemani opung dimandikan di kamar jenazah..lalu memberi make up setelah tubuhnya disuntik formalin..baru tau suntik formalin mahal juga. Kenapa disuntik formalin? Karena jenasah opung akan dibawa ke Binjai tengah malamnya..dan akan dibuatkan acara adat di hari Minggunya disana (rumah opung memang di Binjai tapi dia sudah ikut kami ke Jakarta sejak kami tahun 90an)…lalu akan dibawa ke Sianjur Mula-mula pada malam harinya untuk dimasukkan petinya ke kuburan yang sudah disediakan untuk sekian keturunan.

Huaaaa panjang perjalanannya kan. Makanya formalinnya harus yang bagus. Jadi jumat siang kami semua tiba di Binjai kota kelahiran saya..Binjai adalah kota di Sumatera utara yang berjarak 45 menit dari Medan. Jumat mamak dan semua keluarga bersiap-siap untuk acara hari Minggu. Pokoknya ribeuddd banget. Tenda di halaman rumah sudah didirikan. Sabtu kami ga bisa acara apa-apa kecuali kebaktian lalu malamnya acara martonggo raja..dimana para ahli-ahli adat bertemu dengan keluarga membicarakan urutan acara adat di keesokan acaranya.

Selesai acara martonggo raja kita tidur dan ini saking banyaknya keluarga yang datang kita dah kayak ikan asin bejejer..dan saya milih tidur disamping peti opung…ga takut jo? Ya nggaklah kan opung ndiri..keesokan paginya kita bangun tapi entah kenapa masih jam 5 subuh terdengar suara namboru2 saya alias anak-anak perempuan opung empat orang bergantian mangandungi atau menangis di tepi petinya. Saya pun ga bisa nahan tangisan teringat masa hidup opung.

Btw orang batak mayatnya harus diandungi atau ditangisi..dan biasanya nangisnya sambil ngomong pakai nada kayak lagu gitu…mengenang masa hidupnya. Yang paling heboh nangisnya adalah saat iparnya opung datang…nangis lama banget…sampe suaranya habis. Ckckckck orang batak ya.

Jam 10 pagi dengan make up dan kebaya hitam maka acara pun dimulai. “Hmmmmm its gonna be a long day…..” Gumam saya dan uppa. Setelah acara sambutan lalu acara keluarga dimana kita mengucapkan kata2 terakhir kepada almarhumah sebelum petinya ditutup..lalu kita pindah ke halaman dan gak lama nama saya pun dipanggil…iya sebagai cucu pertama atau pahompu panggoaran… Saya diberi ulos dan beberapa kali selalu dipanggil makanya saya harus standby terus.di pekarangan rumah.

Opung kami ini dibikinkan acara adat Saurmatua Mauli Bulung karena semua anak opung sudah menikah dan opung punya cucu dari anak laki-laki juga cucu dari anak perempuan plus punya nini dan nono yakni cicit dari anaknya perempuan, cicit dari anak laki-laki. “Kenapa mauli bulung” ? karen anak-anaknya belum ada yang mendahului dia alias masih hidup semua.

Oh ya opung tidak dikubur masukin ke tanah ya karena tahun 2006 kami semua keturunannya sudah membangun tugu atau kuburan yang besar untuk mengumpulkan semua 14 keturunan… upacara adat batak itu dinamakan “Mangokal holi” artinya mengumpulkan tulang belulang para leluhur kita untuk disatukan di sebuah tugu.

Jadi sudah ada kamar-kamar untuk peti dan tugubitu punya beberapa tingkatan dimana untuk yang baru meninggal dimasukkan petinya di bagian paling bawah untuk proses pembusukan lalu nantinya akan dipindahkan keatas. Pokoknya ya rieweuhh lah yaaa….tapi saya cukup tertarik mengikutinya. Jadi hari Minggu malam setelah kami selesai mengikuti acara adat saur matua mauli bulung, kami pun berangkat konvoi menuju Sianjur mula-mula sekitar 5 mobil dan 1 mobil ambulance untuk membawa opung ke tempat peristirahatannya sementara. Tibalah kami sekitar jam 8 pagi di tugu atau kuburan opung..pendeta dan beberapa keluarga yang tinggal di Sianjur Mula-Mula suda menunggu. Kami pun langsung memulai acara pemakaman. Peti dimasukkan lalu ditutup dengan semen dan kami berdoa.

Opung kami yang kami kasihi ini sudah kami antarkan ke tanah leluhurnya di Toba pulau Samosir… Tenanglah disana ya opung, tiada lagi sakit yang opung rasakan, tiada lagi infus dan selang oksigen yang selalu opung ingin lepaskan….

Rest in peace my opung.. See you in that bright morning….

With love,

Your pahompu panggoaran

Ps: postingan ini dibuat untuk mengenang opung dan mungkin a lil bit of knowledge about the cuture in Batak…

22 thoughts on “Saur Matua Mauli Bulung

  1. Aku sering denger orang ngomong boru panggoaran, cucu panggoaran tapi gatau artinya. Ternyata itu toh.

    Sama kak Jo, aku udah masuk generasi orang-batak-tapi-males-belajar-adat-batak alias batak ktp lol. Gak batak bataknya langsung sih, tapi Karo, pas kapan hari ada acara adat Karo ikut bokap cuma bisa dengerin. Untungnya di acara itu dikasih buku panduan tentang sejarah orang Karo, keturunan-keturunannya, marpariban sama siapa biar gak salah kawin (wk!), macem2. Bagus juga.

    RIP buat opungnya, dan semoga kita bisa ketemu lagi soon 🙂

  2. RIP Opung Joice.. Opung udah bahagia disana yaa..
    Btw thanks ya Jo, nambah pengetahuan ttg Mauli Bulung ini.. Sari matua dan saur matua sudah tau dan sering denger, tapi utk mauli bulung ini bener² baru tau.. Btw, Karunia Tuhan buat opung luar biasa ya.. Sampe marnini marnono…

    • Makasih El.

      Iyaa aku pun baru tau arti mauli bulung itu kalau anak2nya semua masih hidup alias ga ada yg mendahului beliau. Aminnn emang si opung terberkati banget

  3. Joice, I’m so sorry for your loss ya. Semoga seiring berjalannya waktu, luka hati kehilangan Opung tercinta sedikit membaik.

    Terimakasih cerita prosesi kematiannya ya. Ternyata ribet banget ya kematian adat Batak. Btw, ada potong babi dan makan-makan besar gak?

  4. Turut berduka ya kak, hebat juga kaka walau udah jauh masih tau istilahnya, aku yang sering ikut acara adat dan masih di Medan ajah ndak tau, hehee… makasih infonya skrg udah jadi tau kak 🙂

  5. Thanks for sharing, Jo!

    jadi makin tau betapa kaya nya tradisi dan upacara adat Batak. Salut untuk mereka yang masih menjalani proses acara adat gini.

    • Sama2 mba de. Iyaa yaaa ku share ini juga supaya sambil aku ingat2…kaya banget kita dan yg masih mau jalaninnya emang superb…ga tau masih ada ga nanti generesi 20thn mendatang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s