44

FIKSI: Catatan Cinta Ayana

 

Dulu ibuku sering bilang kalau di dunia ini, setidaknya kita harus punya dua hal penting supaya kita hidup lebih bahagia. Katanya, cinta dan harapanlah dua hal terpenting itu. Awalnya aku tidak mengerti, tapi sekarang aku tahu bahwa tanpa harapan, manusia akan sulit bertahan hidup, dan tanpa cinta? Ah, apalah arti hidup tanpa cinta? Sungguh klise memang, tapi aku kira perkataan ibuku itu ada benarnya juga.

Aku Ayana, gadis biasa yang akan selalu mendambakan cinta dan harapan itu. Aku hanya berharap bahwa suatu saat nanti aku akan hidup bahagia dengan seseorang yang aku cintai dan yang juga mencintaiku.

Dulu aku berfikir bahwa cita-cita dan harapanku itu adalah keinginan yang paling mudah dan sederhana yang dimiliki oleh tiap insan manusia di bumi ini. Tapi pada kenyataannya aku harus melewati pahitnya putus cinta dan putus harapan. BERKALI-KALI.

Eh, tunggu! Putus cinta dan putus harapan? Rasa-rasanya kalimat itu kurang tepat untuk menggambarkan apa kondisiku yang sebenarnya. Karena menurutku kata ‘putus cinta’ itu hanya tepat ditujukan bagi sepasang kekasih yang sudah putus. Sedangkan aku? Huhhh!!! jangankan sepasang kekasih, bahkan aku sama sekali tidak pernah berbicara dengan dia.

VITO

Iya, dia adalah Vito. Vito itu teman SMP-ku.  Kurasa kurang tepat juga sih kalau aku bilang Vito itu teman. Teman itu setidaknya pernah saling menyapa bukan?. Tapi kenyataanya aku bahkan tidak pernah mengeluarkan satu katapun untuk Vito. Begitupun sebaliknya. Entah apa yang kukagumi dari Vito, kelakuannya yang minus, sering tawuran dan juga bukan seseorang yang punya prestasi. Oh, tapi aku harusnya tidak boleh lupa dengan wajahnya yang tampan, kulit yang putih bersih dan punya rahang yang kokoh juga senyum yang sungguh manis. Sekarang pun aku sedang membayangkan dia berjalan di lorong sekolah dengan tas selempangnya yang berwarna hitam bertuliskan ‘HAWK’. Ahhhh Vito sungguh menarik perhatianku. Tidak ada distraksi terbesar sepanjang hidupku di bangku SMP selain Vito. Bahkan Vito yang sudah jelas-jelas kuketahui memakai narkoba pun, masih tetap kupuja. Itu barangkali yang namanya LOVE IS BLIND, sedini itulah aku mengetahui makna ‘CINTA ITU BUTA’. Yah, setidaknya itu menurut pendapatku.

Jantungku selalu ingin lompat keluar setiap kali aku melihat sosok Vito lewat di depanku, bahkan membayangkan wajahnya saja aku mau pingsan rasanya. Ahhhh….. apa barangkali aku sudah gila saat itu?

Tapi tidak untuk suatu malam setahun yang lalu. Vero sahabat baikku waktu SMP yang tahu semua cerita tentang kegilaanku pada Vito tiba-tiba meneleponku memberitahukan kabar terpenting untuk aku si penggila Vito. Aku buru-buru mencatatnya pada secarik kertas bekas struk ATM. Iya, info yang baru saja aku dapatkan adalah nomor telefon Vito, Si bad boy yang sungguh aku gilai.

Ternyata tidak butuh waktu yang lama mengumpulkan nyali untuk menelepon Vito. Percakapan kami mengalir begitu saja, dan kami lebih banyak berbicara tentang apa saja yang kami lakukan saat ini. Dari Vito aku juga tahu bahwa sekarang dia tinggal di daerah Kelapa Gading tapi dia harus bekerja di luar kota dan jauh dari anak-istrinya.

Oh waitttt!!! anak isteri???? Udah gila! No! no!  I’d better stop here.

Bagiku, akhirnya bisa berbicara dengan Vito saja sudah cukup menyenangakan. Setidaknya aku tahu bahwa Vito mengingat yang mana gadis bernama Ayana. Ada sedikit rasa bangga dalam hati yang sebenarnya ingin kuusir jauh-jauh.

REYNALD

Lulus dari bangku SMP, foto Vito yang diambil secara diam-diam oleh Vero sahabatku saat kami pergi karya wisata dulu, masih bertengger manis di dompetku. Sulit memang melupakan Vito, bahkan saat aku mulai menyukai adik kelasku yang masih duduk di kelas 3 SMP saat itu. Reynald namanya. Saat itu aku kelas 1 SMU dan sekolahku adalah sekolah berasrama yang lokasinya ada di jawa tengah.

Reynald adalah tipikal cowok cute menurutku saat itu. SUPER CUTE! Aku suka sekali dengan cara dia berjalan. Kakinya akan sedikit jinjit dan matanya akan ikut tersenyum saat ia berbicara. Oh iya, dagunya yang sedikit berbelah juga menjadi salah satu daya tarik Reynald. Aku masih ingat betul hal paling konyol yang pernah aku lakukan dulu adalah saat Reynald menjelang ujian nasional, dimana aku mencari bangku dan nomor ujiannya. Diam-diam, dipagi hari saat kelas masih sepi, aku menuliskan hal paling ‘bodoh’ dalam hidupku.

Met Ujian’

OMG!!!!!! Can you believe it? Can you believe how stupid I was at that time? Sama seperti Vito, aku hanya menjadi pengagumnya dari jauh. Beberapa kali aku menitipkan salam untuk Reynald lewat teman sekelasnya yang menjadi roomateku diasrama. Salamku memang berbalas, tapi respon Reynald datar saja. Hanya sekedar salam basa-basi yang sudah sangat basi.

Ya, kami memang tidak pernah bertegur sapa sekalipun sampai suatu hari sembilan bulan yang lalu Ya, 9 bulan yang lalu saat itu aku menyapa Reynald di Facebook. Jantungku tidak bekerja dengan baik saat tiba-tiba aku melihat notifikasi dimana Reynald membalas komenku, dan akhirnya kami berteman di Facebook.

Tidak lama dari itu Reynald meminta nomor telefonku. Puncaknya adalah ketika Reynald mengajakku nonton berdua, hanya berdua! Oh goshhh! I was like…. What???? sama sekali tidak percaya. Bukan cuma nonton, tapi Reynald juga mengajakku makan malam. Aku masih tidak bisa percaya dan merasa ini hanya mimpi. Tapi ini nyata, ini kenyataan paling indah yang pernah kualami. Walaupun masih terasa seperti mimpi, aku tetap berusaha berpijak di bumi, terkadang ingin kuhentakkan kakiku kuat-kuat kelantai, takut kalau-kalau ini hanya mimpi

Reynald juga mengantarku pulang dan kami beberapa kali pergi untuk ngedate. Kami banyak tertawa selama film berlangsung, selama kami makan, bahkan selama kami didalam mobil perjalanan pulang menuju rumahku. Aku tidak menyangka kalau Reynald adalah pria humoris yang baik hati dan ramah, karena kami menertawakan banyak hal pada setiap pertemuan-pertemuan kami. Tapi aku sadar, bahwa pertemuan dengan Reynald harus segera berakhir, kurasa aku hanya membuang waktu saja karena aku tahu hubungan kami tidak akan beranjak kemana-mana.

Barra

Setelah Reynald lulus dari bangku SMP, aku harus menerima kekecewaan karena Reynald ternyata harus pindah sekolah ke Jakarta. Aku sudah duduk di kelas 3 SMU saat dimana aku menyadari bahwa aku ternyata menyukai seseorang yang selalu menjadi teman sekelasku sejak kami duduk dikelas 1 SMU. Barra namanya. Tiga tahun berturut-turut kami menjadi teman sekelas, tapi kami cukup jarang ngobrol.

Aku masih ingat betul saat dimana guru bahasa inggris kami beberapa kali selalu memasangkan kami dalam kegiatan conversation. Beberapa kali guru kami itu menyebutkan dua tokoh dalam cerita yang sedang dibahas adalah Ayana dan Barra, seisi kelas menjadi riuh dan berakhir dengan kata-kata ‘cieeee cieeee’ dari berbagai sudut ruangan yang mengakibatkan wajah kami berdua sang korban saat itu menjadi merah seperti kepiting rebus.

Meskipun begitu, aku selalu menghirauhkan ledekan teman-teman tentang betapa serasinya aku dan Barra, sampai kami berada disatu kelas lagi untuk tahun ketiga. Aku melihat bahwa sosok Barra ternyata adalah sosok yang cool dan menyenangkan. Suatu siang, saat bubar sekolah, itu adalah hari kamis, jadwal keluar untuk siswa laki-laki. Aku iseng mengatakan sesuatu pada Barra.

“Barra, hari ini kamu keluar kampus ya?” tanyaku saat itu.

“Iya Ayanna, kenapa…..? kamu mau titip sesuatu? “ Tanya Barra balik padaku.

Aku yang cuma iseng-iseng bertanya mendadak gelagapan dengan reaksi Barra terhadap pertanyaanku. Untungnya aku cepat tersadar dan langsung kujawab.

“Asikkk, aku titip lumpia dan cokelat yaaaa”

Dan Barra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

Aku memutar badanku sambil memegang jantungku yang tiba-tiba berdegup kencang. Kencang sekali. Aku terheran-heran dengan keberanianku saat itu. Malamnya, dua jam sebelum waktu tidur, pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan mengantarkan titipan untukku. Hey! ternyata itu dari Barra, Barra membawakan pesananku dan menyisipkan note kecil yang bertuliskan:

“Selamat makan dan selamat tidur ya Ayanna” -Barra-

Tentu saja aku tidak bisa tidur dan membolak-balik sambil mengamati kotak lumpia dan cokelat pemberiannya. Hatiku terasa sangat hangat sekali malam itu. Lumpia itu kumakan dikeesokan paginya, dan butuh waktu berminggu-minggu sampai akhirnya aku rela memakan cokelat pemberiannya. Kurasa ada yang salah pada diriku.

Anyway, kami tidak banyak berbincang lagi saat aku tahu Barra dekat dengan Rania. Rania adalah adik kelasku yang sialnya adalah mantan teman sekamarku tahun lalu.

Kami lulus dan kami kehilangan jejak satu sama lain. Tapi beberapa bulan yang lalu, aku menemukan Barra di milis angkatanku saat SMU, kami sering chatting di Yahoo messanger dan aku begitu antusias menanyai kabarnya. Cukup puas akhirnya kami jadi banyak bercerita tentang apa yang kami lakukan sekarang dan aku cukup menikmati masa- masa ini sampai pada akhirnya Barra memberitahuku tentang tunangannya yang bernama Rika. OUHHHH NO! not again!

Ritz

Ritz tiba-tiba jadi komentator setia pada status-statusku di Facebook. Berlanjut pada chatting panjang lebar tentang keseharian kami. Oh ya, aku lupa bilang bahwa Ritz ini kakak tingkat, setahun di atasku. Penampilannya biasa saja, lebih cenderung chubby dan agak sedikit gemuk, tapi pembawaannya kalem dan tenang. Gaya berbicaranya juga selalalu membawa energi positif. Aku selalu senang setiap menerima pesan singkat darinya di ponselku.

Bila saja ada orang yang dengan tidak sengaja membaca semua SMS yang dikirimkan Ritz untukku, pasti mereka akan berasumsi kalau sms-sms itu dikirimkan oleh kekasihku. Bagaimana tidak, kalau hampir semua isinya adalah kata-kata yang membuat hati hangat. Dari sekedar menanyakan kabarku hari ini sepulang kerja, atau pertanyaan standar yang cheesy seperti “sudah makan apa belum?”tapi cukup membuat hatiku berbunga-bunga saat membacanya.

Kenyataannya Ritz bukanlah kekasihku. Jangankan jadian, kami bahkan tidak pernah bertemu selama masa-masa Ritz dekat denganku di dunia maya. Walaupun kami dulunya sering bertemu di kampus, tapi entah mengapa Ritz tidak pernah berinisiatif untuk mengajakku bertemu. Mungkin inilah alasan yang membuatku ingin menyudahi saja berhubungan dengannya meski hanya lewat dunia maya. Aku merasa bukan dia yang kucari. Akhirnya aku memutar haluanku, aku berbelok 180 derajat, aku kembali ketempatku semula. Tempat dimana aku bisa menemukan apa yang selama ini kucari. AKU LELAH.

Itulah kisahku dalam satu tahun terakhir sebelum akhirnya aku memutuskan untuk menikahi tunanganku. Renzo.

Hari ini adalah hari pernikahan kami. Adalah perjalanan yang panjang untuk bisa meyakinkan diriku bahwa Renzo lah yang dapat mewujudkan impianku. Bukan Vito, bukan Reynald atau Barra, bahkan bukan Ritz sekalipun.

Renzo adalah laki-laki yang kukenal di kantor tempatku bekerja pertama kali setelah lulus kuliah dulu. Penampilannya yang sederhana dan sangat bersahaja awalnya tidak menarik perhatianku sama sekali. Tapi melihat betapa hebatnya dia memberikan presentasi di kantor, betapa kerennya dia memberikan pengarahan terhadap kami pegawai-pegawai baru, itulah hal yang membuatku tak bisa melupakan sosoknya saat itu. I think SMART IS A NEW SEXY, right?.

Iya, Renzo adalah pria pintar yang sangat rendah hati, dan selalu menjadi pendengar yang baik bagi siapa saja. Kami akhirnya jadian karena ternyata Renzo juga mengagumiku. Dia mengagumi selera humorku, kulitku yang eksotis. Ehmmm maksudnya gelap sih, I know it. Juga katanya rambut pendekku yang menurutnya mirip Winona Ryder artis Hollywood favoritnya.

“Ayana, kamu kalau nggak punya pacar, jadi pacarku aja mau nggak?” Ujar Renzo saat menembakku sekitar lima tahun yang lalu. Apa-apaan coba? Dimana sisi romantisnya sih? Tapi menurutnya, ia butuh hampir dua minggu untuk akhirnya berani mengucapkan kalimat saktinya itu. Aku bahagia walaupun Renzo bukanlah sosok pria yang romantis, tapi setidaknya dia adalah seseorang yang sangat setia, dan yang pasti dia adalah pekerja keras yang baik hati dan cinta padaku. Usiaku masih 22 tahun saat resmi menjadi pacarnya, dan tentu Renzo harus banyak menyesuaikan diri denganku yang terpaut usia tujuh tahun.

Hampir lima tahun aku menjalin hubungan dengannya, dan selama itu pula hubungan kami tidak pernah disetujui oleh orangtuanya. Hubungan kami sudah mendapat cobaan level tertinggi, dan yang terakhir ini kami sungguh tidak mampu mengatasinya lagi. Sampai suatu hari Renzo berkata ingin hiatus dari hubungan ini. Tidak putus, hanya hiatus. Ingin melihat kembali apakah hubungan ini layak kami perjuangkan. Renzo menyarankan kepadaku, kalau selama kami hiatus, kami boleh menjalin hubungan dengan orang lain. Seriously this is a bad idea. Tapi Renzo sungguh menginginkan ini, karena menurutnya ia ingin mengetahui apakah kalimat ‘melepas orang yang kita cintai untuk mendapatkannya kembali’ dapat berlaku untuk hubungan kami yang cukup rumit ini.

Dalam setahun terakhir aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan kisah-kisah lama yang pernah menghiasi hari-hariku dulu. Dimulai dari Vito si bad boy yang sungguh aku gilai waktu itu, he was my first crush. Aku juga bertemu Reynald yang sudah membagi tawa denganku beberapa bulan yang lalu. Barra yang akhirnya menjadi teman ngobrolku diwaktu senggang. Juga Ritz yang telah memberikan semangat padaku dalam menghadapi hari-hari tersulitku dengan pikiran positif yang ditularkannya.

Pada akhirnya aku tahu bahwa masa hiatus ini ternyata masa-masa yang berharga sebelum aku akhirnya membuat keputusan paling penting dalam hidupku. Menikah dengan Renzo. Dalam masa hiatus inilah aku dapat melihat jelas bahwa tidak satupun dari mereka yang mampu memberikan cinta dan harapan yang aku dambakan selain Renzo seorang.

Tidak pernah seringan ini kakiku melangkah saat harus berjalan menuju altar. Sejenak aku menatap matanya lekat-lekat, aku melihat binar-binar bahagia disana. Penantian kami yang cukup panjang untuk menuju hari ini, hari dimana kami akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan akhirnya terwujud. Renzo menggengam tanganku erat dan berbisik pelan, “Aku melepaskanmu untuk mendapatkanmu kembali, I love you Miss Ayana, My beautiful Edelweis”

Aku tak dapat berkata-kata karena air mataku sudah hampir tumpah mengingat betapa baiknya Tuhan mengirimkan Renzo untukku. Mengirimkan cinta dan harapan yang selalu kudambakan, walau aku harus melalui jalan yang panjang dan terkadang pahit. Aku hanya bisa mengangguk pelan dan kami tahu bahwa sejak saat itu kami akan menghadapi hari-hari lain yang penuh tantangan, namun aku selalu yakin bahwa aku akan bisa menghadapi seburuk apapun keadaan nantinya asal kami punya cinta dan harapan satu sama lain. Dan aku kembali teringat akan ucapannya dulu saat kami akan hiatus, ‘If you love something, let it go, if it comes back to you, it’s yours. If it doesn’t, it never was.’ Tapi bukan kalimat itu yang akhirnya meyakinkan aku untuk menikah dengannya. Aku pernah membaca sebuah kutipan yang mengatakan ‘One day you’ll find someone who shows you why it never worked out with someone else.’ Dan aku tahu, orang itu adalah Renzo. Terimakasih karena pernah melepaskanku untuk mendapatkanku kembali, I love you very much Renzo Romero.

THE END

 

*This is my first fiction written after so many years ago since I graduated from High school…I hope you like the story*

Thank you for reading.

29

Tentang Fiksi

Hello semua…..
Makasih ya yang udah sempetin baca fiksi abal-abal saya “James dan Ellen”…. Minggu lalu itu iseng banget, biasalah malem-malem pas anak-anak dah tidur, uppa kan di cilegon..jadi saya bengang-bengong (fyi saya udah setaun ini jarang nongkrongin tivi).

Pas bengong-bengong itu kepikiran bikin fiksi karena teringat ada yang mau ultah tanggal 4 september, dan jadi keinget bahwa 2 hari sebelum ultahnya yang ke 30 (9 tahun yang lalu) si beliau ini baru aja jadian ama cewe…. hahahahaha now you can guess who the ‘beliau’ is….Yes its uppa my darling!
Kamis kemaren tanggal 4 dia ultah yang ke….. ehmmmm…..itung aja sendiri yaaakkk :)))))

So, back to fiction thingy…I love reading cerpen. Baca cerpen dari jaman sekolah dulu, dan membuat saya jadi pengen bikin cerpen sendiri. Mungkin saya udah pernah cerita deh disini kalau saya pernah bikin kumpulan cerpen di buku/file waktu jaman SMU dulu..nah itu teman-teman yang cewe-cewe suka pada gantian baca cerpennya. Oper-operan lah istilahnya. Kadang mereka suka intip-intil cerpen yang belom jadi.

Sayangnya, kesukaan saya nulis cerpen ini ga disertai dengan keahlian saya dalam ilmu menulis dengan bahasa yang baik dan benar (teknis menulis saya bodor banget) juga sayanya males ingin mempelajari. Duh…aneh deh jo! orang mah dipelajarin kek ya. hehehe emang dasarnya males sih. Belom lagi saya ini pantas dijuluki sebagai miss typo deh. Kalo baca postingan saya..pasti ada aja kan typonya, padahal udah dibaca dan dicek berulang kali…ya kecuali kalo ngetik pake hape kayak yang sekarang ini…jariku jempol semua rekkkk!!.

Salah satu contohnya adalah hari kamis lalu saat saya posting birthday wish buat upa di Instagram. saya ga sadar saya ngetik kira-kira begini ” Happy borthday uppa, My husband Ribert siregar” >> buahahaha kesalahan or typo yang fatal ya. Habislah saya diketawain si tyke and mak Sondang.

Ok, balik lagi ke Cerpen Fiksi tadi (suka lost focus gini deh gue ya bok). Jadi dulu itu ada teman saya yang pengen banget kirimin salah satu karya cerpen saya yamg abal-abal itu ke majalah…tapi jelaslah saya ga mau. Mana Pede bok! udahlah pemilihan katanya masih kacau…tanda baca yang masih belepotan…ah pokoknya ga layak kirim deh.

Yang bikin saya sedih, file saya yang isinya cerpen-cerpen itu hilang ga tau raib kemana. Gak tau siapa yang terakhir pinjem. Aslikkk kangen ama isi cerita didalamnya. Nah jaman kuliah saya sempet mau lanjut bikin hal yang sama…eh tapi kok males ya dan ga ada motivasi. Hingga akhirnya setahun yang lalu saat saya baca karyanya Dee yang judulnya partikel…saya jadi pengen baca novel lagi…baca cerpen lagi dan….tentunya menulis cerpen lagi.

Yang bikin saya makin termotivasi adalah saat abis baca karya AliaZalea…saya beli box set…skaligus 6 novel beliau. Isi ceritanya sebenernya cheesy tapi ga murahan (pinjem istilahnya dhira….oiii dhiraaaa…kangen ama blognya yang lama ga diupdate)…akhirnya mulailah saya coba-coba biki fiksi yang panjang…dan tau gak? saya sampe email sang penulis si aliaZalea itu….dibales bok! akhirnya sempet bales-balesan email dan bikin makin semangat ngelanjutin fiksi saya itu. Ga ada ambisi harus jadi novel sih (tapi ngarep) hahahaha…sambe mawon. Jadi ya itu tadi masi perlu belajar soal teknis menulis. Walaupun memang ada editor yang akan membetulkannya tapi kan ga mungkin editor semua yang benerin kan…bisa diamuk editor nanti *lirik Eda….sang mantan editor*

Saya juga udah kirimin satu cerpen ke majalah….tapi kayaknya sih bakalan ga dimuat deh (pesimis banget deh gue ini)..masih nunggu kabar baiknya. Kalo tentang mengirimkan ke majalah ini adalah atas dasar motivasi dari mamak Sondang (yang karya fiksinya udah sering dimuat majalah…keren yah doi) mak Sondang juga sempet memberitahu saya tips-tips dalam menulis waktu kita kopdaran di plangi waktu itu….makasih mamak!!!

Jadi gara-gara saya kemaren nulis ‘James dan Ellen’ itu…saya kepikiran…kenapa ga publish aja cerpen-cerpen dan cerbung yang udah saya buat beberapa bulan terakhir ini di blog. Yang penting sekarang, bahwa tulisan saya ada yang baca. Hahahahaha….lupakanlah itu kirim-kirim kemajalah or bikin novel sendiri… Jauhhhn bener itu mimpi…. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah…kalau saya publish cerpen dan cerbung saya…bakalan pada minat baca ga ya?

*ceritanya…ada yang mau minta restu..hahahaha…kalo pada ga minat baca juga bakalan tetep dipublish kok…hahahahhaa….* >> Kesian ya….fakir reader banget :))))))

24

James dan Ellen (part 1)

“Beneran nih mau tiket berenangnya bang?” tanya Ellen saat itu, menawarkan dua buah tiket masuk gratis berenang pada James. Ellen memanggilnya bang! bukan abang tukang baso, tapi karena usia yang terpaut lumayan jauh diatas Ellen, mengharuskannya untuk memanggil James demikian.

“Iyalah, mau, besok aku mau berenang sama David.” jawabnya sambil mengambil tiket berenang itu dari tangan Ellen, disertai senyum malu-malu.

Itu bukanlah kali pertama James dan Ellen berkenalan, karena mereka berdua sudah saling mengenal semenjak mereka kecil, setidaknya saat itu Ellen masih duduk dibangku SD dan James di bangku SMU. Tapi tiket berenang gratis itulah awal dari semua kisah mereka.

Ellen tidak pernah tahu bahwa laki-laki yang biasa disapanya dengan panggilan ‘bang’ itu akhirnya menjadi seseorang yang sering mengiriminya pesan singkat atau SMS. Belum ada BBM atau Whatss App waktu itu. James pun seperti melihat lampu hijau saat membaca balasan demi balasan sms dari Ellen. Handphone yang tadinya jarang tersentuh, sekarang menjadi benda yang tak ingin lepas dari mata. Menantikan balasan-balasan SMS itu.

Sepulang dari kegiatan mengajar bahasa Inggris yang diadakan setiap minggu pagi untuk anak-anak kecil digereja, James datang menjemput Ellen. Tentu menjemputnya saat semua orang sudah pulang, supaya tidak ada yang tau kalau James hendak menjemput Ellen. Sssttt…… ini adalah MISI RAHASIA PERTAMA JAMES DAN ELLEN…..

“len, kamu laper ga?” James bertanya ragu, tepat saat mereka berdua tiba diparkiran didepan gereja.

“hmmm iya bang laper, kenapa? mau ngajak makan nih?”  Ellen menjawab sambil memamerkan senyum lebarnya.

“makan nasi padang di depan sana yuk!” ajaknya dengan bahasa tubuh yang salah tingkah.

“yuk!” Ellen mengangguk pelan dan berjalan masuk kearah mobil.

Yak, benar sekali! Restoran padang Sederhana Bintaro adalah tempat kencan pertama untuk James dan Ellen.Sungguh bukanlah tempat yang romantis sama sekali. Untung hitungannya masih Restoran, bukan warung padang yang sering terlihat di setiap sudut kota Jakarta ini.

Setelah misi rahasia pertama berhasil dan lancar, maka disusunlah misi-misi rahasia lainnya. Tentu bukan ke Restoran Padang lagi! Kali ini levelnya naik sedikit. Ke Platinum Plaza Semanggi. James yang pemalu dan hampir tak bernyali itu pun akhirnya memberanikan diri untuk membuka percakapan didalam mobil saat perjalanan menuju Plaza Semanggi.

“Ellen, kamu ama aku aja mau nggak?”

“Haaa? apaa bang? ngaco ah!” Ellen seperti disamber gledek mendengar pernyataan barusan.

“Hmmmm nggak dink…nggak jadi..becanda ah!” James berdeham dan mengalihkan perhatiannya lurus kedepan.

Kalau Ellen merasa seperti habis disamber gledek saat mendengar pernyataan dari James barusan, maka James merasa seperti habis disayat-sayat pakai silet disertai kucuran perasan jeruk nipis saat melihat reaksi dan mendengar jawaban dari Ellen atas pernyataannya.Sakitanya disini!!! *nunjuk dada*

Tiba-tiba suasana mobil menjadi sangat hening tanpa suara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. James sendiri heran kenapa kalimat itu bisa tiba-tiba keluar dari mulutnya. Ini kali kedua sepanjang umur hidupnya untuk menyatakan cinta pada wanita. Memalukan memang, mengingat usia James yang saat itu sudah 29 tahun. Ya tapi apa mau dikata, belum pernah ada yang cocok dihati. Kali ini James yakin sekali akan pilihannya. Ellen sudah dikenalnya sejak lama, walaupun baru-baru ini  saja sering ngobrol digereja. Selama ini Ellen selalu sekolah dan kuliah diluar Jakarta, Ellen hanya bertemu sesekali digereja saat Ellen pulang ke Jakarta saat liburan sekolah atau kuliah.

Atas dasar kencan pertama di restoran padang yang terbilang sukses itu, dan juga balasan-balasan sms dari Ellen yang menyejukkan hati, maka James yakin sekali bahwa Ellen pasti tau apa maksud perkataannya barusan. OK! Fine! James memang mengakui bahwa skillnya dalam merayu atau membuat wanita klepek-klepek tak berdaya dengan kata-kata adalah sangat jauh sekali dibawah garis kemiskinan.Strateginya kurang nampol!. Tapi nasi terlanjur jadi bubur, buburnya sekalian dikasih ayam dan kecap plus emping, biar jadi bubur ayam yang enak! yoweslah James dengan nekat dan percaya diri untuk tetap melanjutkan acara kencan kedua mereka ke plaza semanggi.

“Kamu mau makan dimana len?” James bertanya sesaat mereka tiba di Mall yang lumayan lengang dihari minggu siang itu.

“hmmm dimana ya? ga mau aneh-aneh ah makannya, platinum aja ya.” Ellen mengarahkan telunjuknya pada restoran yang mainstream itu. Penuh memang, tapi masih terlihat beberapa meja kosong disana.

“Yuk!” James berjalan dan Ellen menyamakan langkahnya disamping laki-laki yang cintanya baru saja ia tolak itu.

Ellen juga bingung apa benar ia menolak cinta James? apa memang James barusan benar-benar menyatakan perasaannya? yang pasti Ellen belum siap untuk segala bentuk pernyataan cinta dari pria manapun saat ini.

“Duduk disini aja ya len” James menunjuk sebuah meja kosong ditengah.

Ellen mengangguk cepat. Tak lama kemudian mereka memesan makanan mereka. Ellen memesan menu makan siang yang berat plus jus strawberry yang segar sekali. James memesan menu makanan yang sama dengan jus Sirsak sebagai minumannya. Jus sirsak dengan sedikit es dan tanpa gula. Saat menunggu pesanan datang, James sudah salah tingkah, lalu entah ada gendoruwo datang dari mana merasuki tubuh James, hingga ia sekali lagi mengulangi pernyataan atau entahlah itu pernyataan atau pertanyaan dimobil tadi.

“Ellen, kamu ama aku aja, mau nggak?”

Ellen terdiam sesaat, tapi ia tahu bahwa ia harus membuat suasana ini senetral mungkin.

Ebusettt deh ini laki, maju terus pantang mundur! Ujar Ellen dalam hati.

“Duh bang, pertanyaannya berat banget deh!” Ellen tersenyum mencoba sesantai mungkin.

Keduanya pun terdiam. Tanpa ada satupun yang berkata-kata.

And here it is….The awkward moment happen again! 

Syukurlah bahwa awkard moment itu tidak berlangsung lama, karena sang pramusaji datang membawa pesanan mereka. Ellen buru-buru menyesap jus strawberrynya. Semoga Jus strawberry yang ia puja-puja itu dapat membuat otaknya kembali bekerja dengan normal, setelah perkataan dari James yang untuk kedua kalinya dikumandangkan. Ellen sungguh tidak ingin menyakiti pria baik hati yang satu ini. Ia tidak ingin James berpikiran negatif tentangnya. Namun Ellen juga bingung ingin menjawab apa atas pertanyaannya.

Ellen memutar otaknya, berpikir keras bagaimana untuk mencairkan suasana yang terlanjur aneh ini. Peryataan cinta yang dilontarkan sudah dua kali ini sungguh membuat Ellen sedikit takut, ada banyak hal dalam benaknya saat mendengar pernyataan cinta dari James. Bila pernyataan pertama saat dimobil tadi, Ellen mengira bahwa James hanya bergurau, namun pernyataan kali kedua ini pastilah serius. Diteguknya jus stroberi itu sekali lagi dan berharap ia menemukan jawaban yang tepat untuk seseorang yang sedang duduk dihadapannya saat ini, seseorang yang sedang menunggu jawaban darinya dengan jantung yang berdegup kencang.

*TO BE CONTINUED*