23

The Precious Experience

Ditulisan ini saya mau share sedikit tentang pengalaman berharga saya yang baru aja saya alami. Tepatnya tanggal 28 Agustus 2014. Saya berkesempatan diundang menjadi salah satu nara sumber..(caelahhh gaya beuddd jadi narsum) untuk pelatihan guru-guru PAUD (Pendidikan Usia Dini) se Jakarta Barat.

 

Seminggu ini sibuk mempersiapkan materi untuk dibawakan dalam seminar ini. Huhuhuhu akik jadi penghuni terakhir terus disekolah….lemburrr tiada tara deh pokoknya. Tapi ga tau kenapa saya kok excited aja ya. (emang dasar orangnya doyan ngocehhhh,,,,jadi disuruh bawa seminar or kotbah or presentasi apa aja..pasti semangat). Mungkin itu kenapa kerjaan saya jadi guru ya.

Anyway, Pelatihan untuk guru-guru PAUD ini diadakan di Puncak-Cisarua. Saya berangkat jam 6 pagi dari rumah naik mobil yang disewa pihak sekolah. Tiba di Griya Astoeti tempat pelatihan diadakan tepat pukul 9 karena pake acara nyasar segala. Jadi ceritanya para rekan-rekan guru ini sudah ada ditempat ini dari hari Selasa untuk mengikuti pelatihan, dan kebetulan sayalah pembicara terakhir or sebagai penutupan.

Topik yang saya bawakan adalah “Metode Pembelajaran Montessori Pada Anak Usia Dini”. Kenapa topik ini? Jadi ceritanya waktu pihak dari PAUD/Dinas pendidikan datang meninjau sekolah kami, mereka sangat tertarik melihat ruangan kelas Montessori, dan meminta saya untuk datang memberikan pelatihan mengenai Montessori. Next time saya juga mau bahas secara singkat ya tentang apa itu metode Montessori.Mungkin beberapa dari teman-teman udah sering denger juga kan.

Nah pas giliran saya untuk berbicara,asli beneran itu rasa deg-degan banget. Takut nanti mereka boring dengerin saya ngoceh. So saya selalu berpikir “ayo jo, jangan ampe ngebosenin, gimana kalo itu elu yang jadi peserta seminar? males kan kalo yang bawa seminar itu monoton”

Jadilah saya improvisasi sana-sini tapi saya berusaha untuk tetap Fokus pada materi pembahasan. Dan beberapa hal yang saya lakukan adalah berinteraksi dengan para peserta seminar, juga melakukan “ice breaking” dengan lagu dan gerak (yah namanya juga guru TK kan ya)…..

Ibu guru Jo lagi sok-sok bijak gitu tampangnya....hihihi..

             Ibu guru Jo lagi sok-sok bijak gitu tampangnya….hihihi..

Ketika saya memulai seminar, saya melihat mereka antusias sekali, semangat bener deh, sampe minta diulang, foto, dan bertanya ini-itu. Karena ini adalah tentang Metode Montessori, maka saya juga membawa cukup banyak alat peraga yang mana alat peraga itu bisa dipraktekkan bersama. Rasanya menyenangkan sekali melihat antusiasme mereka.

They were listening to that ametuer speaker attentively :D

                                         They were listening to that ameteur speaker attentively 😀

Saat praktek, mereka lebih semangat lagi

                                    Saat praktek, mereka lebih semangat lagi

Saya juga sempat memberikan kesempatan untuk mereka memberikan feedback, kira-kira apa hal yang mereka dapatkan dari mendengar seminar yang saya bawakan barusan? dan ada tiga orang yang memberikan pendapatnya dan mereka mendapatkan kenang-kenangan yang udah saya siapin dari rumah kemarin.

Yang membuat saya terharu tadi adalah, bahwa guru-guru yang usianya sudah seperti mama saya dan bahkan ada yang patut saya panggil oma, mereka masih mempunyai semangat yang tinggi sekali. Asli beneran speechless pas tau berapa upah yang mereka dapatkan. Pantaskah saya mengeluh saat saya melihat rekan-rekan kerja se profesi dengan saya menerima upah yang sangat-sangat jauh dibawah UMR?

Iya saya tahu sih, bahwa jam kerja mereka juga lebih singkat, tuntutan kerja mereka juga tidak sebesar yang saya dan guru-guru lain punya. Di tempat saya ngajar, kita harus udah sampe disekolah jam 7.30 walaupun anak-anaknya baru pada datang jam 8 lewat, dan kita pulang jam 3 dan para asisten pulang jam 4 (itu belum kalau ada event-event tertentu disekolah yang mengharuskan kita lembur tanpa dibayar). Tapi mendengar upah yang  mereka dapatkan itu rasanya benar-benar bikin sedih. Walaupun saya tahu bahwa PAUD itu adalah lembaga informal, tapi apakah pemerintah tidak mempunyai perhatian khusus untuk para guru-guru yang rela mengabdikan hidup mereka untuk dunia pendidikan anak-anak? Dengan peningkatan gaji, akan memungkinkan peningkatan kualitas juga (harusnya).

Saya di hampiri oleh beberapa pengelola dan guru PAUD, dimintai kerjasamanya untuk membantu mereka dalam penyediaan alat peraga, tentu saya sangat excited dan saya langsung chat di WA dengan bu boss saya dan beliau setuju kami akan menggalang dana/charity untuk PAUD-PAUD yang kondisinya memprihatinkan. Semoga terlaksana dengan baik supaya semua anak Indonesia (setidaknya yang ada disekitar kita) mempunyai kesempatan yang sama dalam mengecap dunia pendidikan baik yang formal atau informal. Juga ingin mengajarkan untuk anak-anak yang mampu untuk saling berbagi untuk teman-teman mereka yang tidak seberuntung mereka.

Tadi ada seorang Ibu yang katanya beliau ini mendirikan PAUD di bekas bengkel milik almarhum suaminya. Dia mendirikan PAUD itu untuk pengabdian ke masyarakat. Anak-anak yang bersekolah disitu hanya dipungut 10 ribu rupiah saja tiap bulannya, karena mereka adalah anak-anak yang pekerjaan orang tuanya adalah tukang cuci dan buruh kasar. Kagum melihat usaha si ibu ini. Mudah-mudahan niat dan usahanya tulus dan membawa berkat untuk orang di sekitarnya. Ya istilahnya, daripada anak-anak itu berkeliaran hanya bermain PS atau melakukan hal-hal yang tidak berguna, lebih baik mereka dididik di PAUD untuk bermain dan bernyanyi bersama guru-guru di PAUD.

Anyway, dari pengalaman yang berharga itu, saya teringat akan bincang-bincang antara saya dan teman saya beberapa tahun yang lalu saat kami masih mengawali karir sebagai guru TK (guru TK ini boleh dibilang karir kan ya?..hahaha…kayak kurang pantes gitu ya dengernya…) Iya kami pernah berbincang tentang mimpi kami suatu saat nanti untuk dunia pendidikan terutama untuk anak-anak usia dini.

Kami berdua punya cita-cita mempunyai sekolah, dimana sekolah untuk jam pagi ke siang kami peruntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang mampu secara finansial, jadi mereka memang dikenakan biaya yang pantas sesuai kualitas dan fasilitas sekolah. Lalu jam 2 keatas kami akan buka kelas untuk anak-anak yang kurang mampu tapi senang dan mau sekolah atau belajar. Mereka semua nantinya tidak akan dikenakan biaya. Ihhhh sedap bener ya angan-angan kami waktu itu? Mewujudkannya? welehhhh susyaaaah rekkkk! Tapi beneran, kalau kalian baca page “care to know me” di blog saya ini, pasti kalian tau kan apa salah satu mimpi yang saya pengen wujudkan suatu hari nanti? Ya I want to run my own school. Aminnn! semoga ya terwujud.

So, Pengalaman di Puncak kemaren itu seru banget! dan tentunya sangat berharga. Semoga ada lagi event serupa. Hihihi udah pada nanyain aja apa saya bersedia bawa seminar di kecamatan mereka masing-masing. I will be glad, tapi mesti masih banyak belajar lagi deh dan semoga saya bisa manage waktu dengan baik. Asli deh ini load kerja makin gila aja makin kesini. 

Semangat!!!!!!

Montessori's stuff (practical life area) ini barang-barang yang ikut diangkut ke Puncak...riwehhh yaww

Montessori’s stuff (practical life area) ini barang-barang yang ikut diangkut ke Puncak…riwehhh yaww

yang ini juga...

yang ini juga…

dressing frame (buttoning)

                                                       dressing frame (buttoning)