38

Siap bersaing?

Apa perasaan kalian saat tahu bahwa di dunia pendidikan kita sekarang lebih banyak tenaga pengajar asing yang bekerja di sekolah kita? Sekolah yang lokasinya masih di Indonesia raya tercinta ini loh?

Biasa aja ya?

atau kalian nggak perduli mungkin?

Ya terserah sih ya, ini asli deh postingan yang saya buat hanya berdasarkan gundah-gulana saya sebagai salah satu tenaga pengajar lokal yang semakin bertanya-tanya atas keberadaan tenaga pengajar asing yang semakin membludak aja di negeri tercinta kita ini. I mean, it’s ok sih, kita memang mengakui bahwa kita masih perlu banyak belajar dari mereka, tapi bila jumlah mereka lebih banyak dari kita guru lokal, apa iya kita nggak mau resah? ada apa sama mutu pengajar lokal kita? kemana para tamatan sarjana pendidikan itu? 

Ok, sebelum kita mulai menjawab satu-persatu pertanyaan atau keresahan yang selalu ada dalam benak saya itu, saya mau cerita dulu ya tentang apa yang saya alami selama kurang lebih 11 tahun berkecimpung didunia mengajar.

Saya mulai mengajar sebagai dosen honorer di universitas tempat saya berkuliah dulu, tapi saya merasa belum cocok lah, anak s1 kok ngajar s1 (gitulah kira-kira komen nyinyir orang sekitar waktu itu) yowes, akhirnya saya yang dari dulu suka sama dunia anak-anak, mencoba melamar di sekolah-sekolah national plus/international school di Jakarta.Dapatlah ngajar di Sekolah national plus yang waktu itu lokasinya di Wisma Subud- Jak-sel. Di sekolah ini, murid-muridnya datang dari berbagai negara, dan banyak juga yang half-indonesian. So, wajar ya kalau banyak guru native speakernya. Mostly dari Australia. Karena sekolah ini berbasis kuruikulum Australia. Tapi seingat saya, waktu itu guru lokalnya juga banyak, dan menurut saya guru lokal tetap jumlahnya lebih banyak dari guru asing. Guru lokalnya memang rata-rata yang punya kualitas sih. Bukan tipe guru-guru jadul yang konvensional itu. Waktu itu saya mengajar di lembaga learning centre (anak-anak penderita autisme). 

Lalu saya pindah ke sekolah national plus lainnya di Jakarta-Barat. Di sekolah ini juga ada satu guru berkebangsaan Amerika, lalu beberapa guru dari Philippine dan ada 2 or tiga guru dari India. (Orang India dan phillipine maksudnya). Tapi tetap, waktu itu masih lebih banyak guru lokalnya. Gak tau deh sekarang.

Sekolah selanjutnya tempat saya bekerja ada di daerah Menteng. Nah disini sekolahnya kecil, cuma ada 6 kelas waktu itu. Itu artinya homeroom teachernya cuma ada 6 donk ya. Waktu itu  perbandingannya masih balance. Tiga guru lokal dan tiga guru dari Phillippine.

Lalu saya pindah ke tempat saya mengajar sekarang ini. Ditempat saya mengajar ini dulu waktu awal sekolah ini buka, cuma ada 4 orang asing (Semua dari Phillippine). dan sekarang setelah tahun ke 6 saya mengajar, coba tebak ada berapa guru asingnya? bok!!! mereka udah ada 13 orang aja donk! Gilingan kan ye! Yang bikin saya terheran-heran adalah, tahun ajaran ini ga ada satupun homeroom teacher lokal yang di hire. 

What’s wrong? 

Ok, firstly ya iyalah tentu dengan sekolah yang ber-embel-embel national plus/international school, para orang tua murid yang udah bayarnya muahaaaall banget itu pasti ekspektasinya tinggi juga donk dengan mutu pendidikan yang akan didapatkan oleh anak mereka. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas tadi, maka kita harus tau dulu apa alasan mereka menyekolahkan anak mereka disekolah internatioanal yang mahal banget itu?

Ok, alasan mereka selain punya mutu pendidikan yang tinggi dan bagus, juga fasilitas kece tentunya alasan utamanya adalah supaya anak-anak mereka dapat berbahasa Inggris secara aktif, atau dengan kata lain :

 To be able to speak English fluently. As fluent as possible. KALO BISA CAS-CIS CUS-MACAM ORANG AMERIKAAHHHH 😀 😀

Dalam tulisan saya ini, saya tidak mau menilai baik buruknya sekolah national or international, atau baik buruknya sekolah yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa apapun yang dipelajari disekolah itu.

 Dalam tulisan ini saya hanya mempertanyakan: Dimanakah para tamatan or lulusan sarjana pendidikan itu? yang nota-bene memang semestinya menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dulu untuk diterapkan di lembaga pendidikan. Tentu, lagi-lagi tulisan ini tidak akan menilai baik-buruknya punya profesi guru meski seseorang punya background sarjana pendidikan atau tidak. Tapi sejujurnya, saya cuma mau bertanya, tidak ada lagi kah stok guru lokal yang berkualitas? yang siap bersaing dengan para guru asing yang makin membanjiri negara kita ini?

Saya tahu banyak sekali sebenarnya orang-orang berpotensi yang bisa menjadi tenaga pengajar lokal di sekolah-sekolah bertaraf international, baik itu dari sarjana pendidikan atau bukan. Tapi mungkin tidak semua punya passion or minat yang sama terhadap dunia pendidikan ini. Saya pribadi adalah orang yang masih jauh dari “bagus” or “berkualitas tinggi” dalam dunia mengajar or sebagai tenaga pengajar. Tapi saya punya passion yang saya rasa cukup besar dan itu sebabnya saya masih terus belajar setiap hari. Proses belajar saya kadang melalui rekan kerja sesama guru, buku yang saya baca, atau bahkan dari blog para guru-guru kece diluar negeri sana. *ya ampunnn sering speechless liat ide-ide dan kreatifitas mereka*. Saya sering intip jenis-jenis aktivitas yang mendukung kreativitas anak dan saya sering aplikasikan pada murid saya. Ya istilah kerennya, saya nyontek ide-idenya mereka gitulah, dan kadang ya musti di modif-modif dikit menyesuaikan dengan sikon.

Apa yang mau saya sampaikan disini adalah, betapa sedikitnya peminat untuk menjadi guru. Guru yang berkualitas, guru yang punya dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Kira-kira kenapa ya?

Jiahhhh pake nanya! ya pasti karena gajinya seumprit kan Jo!

*hening sejenak*

😀

Eh tapi siapa bilang gaji guru itu  gak ada yang gede? tergantung situ negonya bagus gak? hehehehe…..ga dink becanda! ya tapi gini, jangan salah ya, banyak kok guru-guru lokal yang gajinya hampir sama dengan guru asing yang dari asia (india dan phillippine) Tapi kalau mau sama dengan mereka, ya guru lokalnya setidaknya punya kualitas dan kemampuan yang menyamai juga donk. Ya mutu mengajarnya, ya English skillnya! Beugghhh ! gede juga tantangannya ya. Tapi ya gimana donk? kita kan mau bersaing nih! Jadi kalau mau meningkat secara karir or jumlah materi yang didapatkan, udah pasti harus kerja keras juga donk dalam meningkatkan mutu dalam diri sendiri kan. Asal inget ye, kalau mau jadi kaya, yah jangan jadi guru. hihihi 😀

pic borrowed from pinterest

pic borrowed from pinterest

Di kampus tempat saya kuliah dulu, jumlah mahisiswa pendidikan adalah yang paling sedikit. Saking sedikitnya, ampe malu mau deh mau nyebutinnya. Eh tapi ngapain malu dink ya. Jadi teman sekelas dulu (yang seangkatan) hanya 12 orang saja (dah macam 12 murid yesus kan) Dan saya ingat waktu itu para dosen dari fakultas pendidikan pada bilang kalau angkatan kali ini paling banyak jumlahnya mahasiswa/i nya. Whatttt….????? 12 dibilang banyak? lah trus yang tahun-tahun sebelumnya berapa donk? yak…jangan pada pingsan ye bacanya… kakak-kakak angkatan kita terdahulu ada loh yang cuma ber-4 doank sekelas…eh tunggu dulu…belum pingsan kan? ada juga deh yang cuma berdua dan bahkan satu orang saja…..huhuhuhu ga ngebayang dah itu gimana suasana kuliahnya ya, dah macam les private aja ya. Andaikan dosennya seganteng Bradley Cooper atau Christian Bale sih mungkin ga masalah, yang ada betah-betah aja. Tapi ya situ tau sendiri ye kenyataan berkata lain. 😀

images (1)

Fakultas pendidikan ini emang paling kurang diminati sih di beberapa universitas. Tapi setau saya, di Kampus Atma Jaya (tempat saya kuliah pasca sarjana dulu) mahisiswa pendidikan nya lumayan banyak loh. Ya tapi tetep ga sebanyak jurusan Akutansi dan kedokteran dan jurusan lain. Yaiyalah ya, orang pasti mikir juga ngapain kuliah mahal-mahal eh endingnya jadi guru.

Tapi ya kalo seseorang punya passion dalam dunia mengajar, dan punya kesempatan untuk mengembangkan kualitas dalam dirinya, kenapa ga jadi tenaga pengajar aja? Yuk, kita sama-sama membangun bangsa ini khususnya dari segi pendidikan, memperbaiki dunia pendidikan indonesia yang udah makin bobrok aja. Kalau bisa sih menghapus cara-cara konvensional itu. Saya sih gemes banget pengen menghapus adanya UN (ujian nasional) Errrrrrr…dan banyak lagilah yang mau dibenahi.

Jadi kalau ada yang kebetulan baca tulisan ini dan merasa punya passion dan kemampuan untuk menjadi tenaga mengajar, ga ada salahnya bergabung menjadi salah satu tenaga pendidik untuk ikut serta memajukan bangsa ini dari segi pendidikan. Mosok seh musti import-import tenaga pengajar dari negara asing melulu? apalagi negara asingnya cuma negara tetangga deket aja.

WHICH IS IN MANY WAYS, WE ARE FAR BETTER THAN THEM! TRUST ME! TRUST ME!

Teacher-Quote_thumb[1]

So, buat yang punya adik-adik or saudara  yang sekiranya masih ragu mau ambil jurusan apa di kuliahnya, Fakultas pendidikan bisa menjadi salah satu alternatif. Iya, masa depan kalian mungkin ga akan secerah para dokter dan insinyiur or para pengacara, tapi sekiranya punya panggilan jiwa untuk mengajar, kenapa nggak kan? *ini kenapa gue kayak maksa dan promosi abis-abisan fakultas gue gini ya?* hahahhahaa ya abissss eikeh desperate bok liat tenaga pengajar asing yang makin buanyakkkk ajeeeee plek-numplek-plek dinegara kita ini. Semoga mereka di hire emang karena kualitas mengajarnya, bukan hanya karena mereka cas-cis-cus eh ternyata class managementnya aja amburadul……bisa moydarrr deh itu yang jadi owner sekolahnya. Rugi bandar bok! udahlah gajinye selangit, musti bayar dan ngurusin ijin kerja, nyediain tiket pp kenegara asalnya minimal setaon sekali, plus nyediain apartemen or tempat tinggal. HAISSSSHHH! 

Tapi ya, sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menunjukkan ketidaksukaan saya terhadap orang asing yang menjadi tenaga pengajar di sekolah kita, tapi kok ya rasanya rugi betul ya bayar mahal-mahal tapi dapat guru asing yang ga punya tanggung jawab or dedikasi terhadap pendidikan. Saya senang dengan kehadiran mereka, karena secara pribadi saya jadi bisa banyak belajar dari mereka (mereka ini yang punya kualitas aje ye, ada juga soale guru expat abal-abal).

Semoga tulisan ini menjadi bahan pengingat buat kita, bahwa dunia pendidikan kita ini masih butuh banyak dan banyak lagi orang-orang muda yang punya passion, punya dedikasi dalam dunia mengajar, supaya nantinya kita dapat bersaing dengan guru-guru asing itu dan ngusir mereka secara perlahan HAHAHAHA….ini piye toh, katanya ga masyalahhh ama guru asing…..eh sekarang pengen ngusir. hihihihi becanda ah! maksud saya gini loh, kalau misalnya semakin banyak tenaga pengajar lokal yang punya kualitas international, buat apa toh hire guru asing yang terlalu banyak? Nggak apa-apa hire guru asing beberapa, tapi harus diseleksi yang bener-bener bagus dan punya dedikasi dalam dunia pendidikan, ga cuma modal cas-cis-cus aje ye!

Uhuyyyyy!!! akhirnya lega bener deh ini udah mencurcolkan isi hati dah kegundah-gulanaan ku!

semoga tulisan ini bisa ditanggpai dengan postif ya. Kalaupun ada yang tidak setuju dengan tulisan saya diatas, please  dimaklumi saja, soale ini cuma mengeluarkan keresahan  hati aja sih. Hihihihi…

Eh sebenernya masih banyak sih aspek-aspek yang berkaitan dengan topik saya kali ini, tapi maap deh, ini aja udah panjang betulllll…ngantuk bo!!!!

So, Siap bersaing? yuk mareeeeeeeee!!!! 😀

xoxo

teacherJoeyz