54

Happy Teachers=Happy Children=Happy Parents

Udah lama ga ngomongin printilan skolahan, inget-inget banyak banget yang mau dibahas. Mau bahas tentang Montessori lah, phonics dan correct pencil gripping tapi kenapa ga jadi2 diposting ya? Hihihi..maklum suka ga fokus anaknya. Oke tulisan ini dah lama di draft, ada kali 7 bulanan yang lalu…so kali ini mau bahas tentang manner parents di sekolah tentang tata cara menyampaikan pendapat, bahkan cara komplain ke guru or pihak sekolah.

Menjadi guru terutama level kindergarten gak melulu menghadapi si anak yang menjadi tantangan setiap hari, melainkan menghadapi para ortu murid. Ngadepin berbagai macam karakter ortu ini malah kadang lebih besar tantangannya daripada ngadepin si anaknya itu sendiri. Hihihi…

Saya sendiri adalah guru sekaligus orangtua murid di tempat G sekolah. Rasanya agak aneh ya bahwa yang menjadi guru G adalah teman-teman saya sendiri. Saya akan berusaha menempatkan diri saya sebaik mungkin untuk tidak mendikte pekerjaan or cara gurunya mengajar. Kecuali saya melihat ada sesuatu yang tidak semestinya. Pastilah saya utarakan.

Nah sekarang, bukan apa yang kita utarakan kepada sang guru itu yang menjadi topik permasalahan. Namun, bagaimana cara kita menyampaikannya. Gundah gulana saya akhir-akhir ini adalah melihat beberapa case tentang bagaimana beberapa orang tua murid itu menyampaikan keluhan or pendapatnya terhadap si guru/ asisten guru (bukan hanya di tempat saya mengajar loh ya, karena saya sering sharing sama teman-teman guru yang mengajar di sekolah lain).

Banyak sekali kami dari para guru ini merasa tidak direspect oleh para orang tua, kalau melihat bagaimana cara mereka menyampaikan keluhannya. Daripada panjang lebar, mari kita lihat contoh beberapa case di bawah ini:

1) Seorang anak kelas 1 SD kehilangan mainannya yang dibawa saat ada event di sekolah, lalu si ibu menanyakan keberadaan mainan si anak, dan sang asisten guru pun berusaha mencari tapi tak ketemu. Dijawab dengan sopan, “nanti saya cari lagi ya bu”. Lalu keesokan harinya ditanya lagi tentang mainannya itu, si asisten jawab “saya sudah cari kemana-mana bu, tapi ga ketemu, tapi nanti kalau ketemu saya akan kembalikan.”

Beberapa hari kemudian, si asisten menggeser lemari di kelas, dan ternyata disitu terdapat si mainan yang dicari-cari. Kemudian si asisten guru mengembalikan pada si ibu dari anak itu. Mau tahu apa responnya? INSTEAD OF SAYING THANK YOU, SHE SAID :”LOH MISS, INI ADA, KATANYA UDAH DICARI KEMANA-KEMANA? GIMANA SIHHHH?? Dengan muka jutek ngomong gitu ke asisten guru.

What do you think? pffftttttthhhh

2) Lanjut case berikutnya. Setelah usai pertunjukan or holiday concert di sebuah sekolah, ada seorang ibu mengirimkan pesan kepada si guru. Kira-kira inti sms nya adalah dia mengucapkan terimakasih pada gurunya sudah melatih anak-anak di kelas dengan baik. Tapi, di penghujung kalimat dalam sms itu, si ibu mengatakan “but next time miss, please choose the more energetic song/music, so the kids will be eager to move their body and dance.” Coba, gimana perasaan guru itu ga sedih coba? Karena seakan-akan si guru dipersalahkan akan pilihan lagunya karena mungkin si ortu merasa kurang puas kali ya ngeliat anaknya ga pada nari di panggung.

Nih saya kasih tau ya para mommies and daddies, what can you expect from your 3 yo child when they are on the stage with lots of people watching them plus the light and the flash from the camera? syukur-syukur anaknya ga pada nangis histeris. Ya memang ada sih beberapa faktor kenapa anak ga mau or ga bisa nari di atas panggung. G sendiri baru mau nari pas udah nursery, pas toddler dia mah jadi patung aja gitu di panggung…bukan dia yang ditonton, dia malah nontonin orang yang pada heboh jeprat jepret. Hihihihi

Sebenernya kita tahu maksud nih parents, tipenya kompetitif banget. Suka banding-bandingin ama kelas lain. Ya jangan disamain ama kelas saya donk, kan anak-anak di kelas saya udah pada gede-gede. Tapi ya gitulah bunyi sms yang awalnya diberi kata manis, eh endingnya  bikin sedih. Ga bisa tidur itu guru semaleman pasca baca sms itu, kesian kan.

3) Suatu pagi, tiba-tiba seorang bapak datang mengetuk pintu kelas di sebuah SD. Entah bagaimana si bapak bisa masuk ke dalam sekolah pas jam pelajaran udah mulai. Jadi Si bapak ini bicara di pintu kelas dengan suara keras. Dia berbicara kepada asisten guru (karena guru kelasnya sedang ngajar di kelas lain), yang sedang mengajar di kelas saat itu adalah guru subjek lain. Si bapak tiba-tiba ngomel-ngomel di kelas dan menjelek-jelekan si guru subjek ini. Suaranya keras sekali sampai anak-anak di kelas dengar ocehannya.

Penyebab dia marah? Jadi sehari sebelumnya, si guru subjek memarahi anak si bapak itu karena tidak membawa buku. Ya namanya guru marah, ya wajarlah. Sebenernya menurut asisten guru di kelas itu, si guru subjek sih ga marah yang gimana gitu, cuma aja emang nada suara si guru emang gitu, agak sedikit keras. Ya kadang guru marah wajarlah ya, anak-anak di sekolah itu kan perlu belajar disiplin juga. Yang penting gurunya ga sampe main fisik dan mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya. Juga jangan sampai gurunya membuat muridnya merasa down dan self-demotivated.

Tapi memang kelakuan bapak ini sungguh ga bisa ditolerir. Main selonong boy aja masuk ke kelas dan marah-marah, dan perbuatannya sungguh tidak menyenangkan. Bukan cuma si guru subjek yang kena imbasnya, tapi murid-murid yang ada di kelas itu juga karena mereka menyaksikan dan mendengarkan langsung bagaimana guru mereka dihina dengan kata-kata yang kasar.

Sebesar apa pun kesalahan pihak sekolah, ga dengan melabrak langsung si guru lalu marah-marah mengeluarkan uneg-uneg seenaknya. Kita bukan hidup di jaman barbar yang ga tau sopan santun kan? Harusnya kasih surat, mau bikin appointment, lalu bicarakan baik-baik. Ga mikir jauh si bapak ini, kalau si guru jadi sedih dan dia menangis seharian karena merasa sudah dilecehkan sebagai seorang guru di depan murid-muridnya sendiri .

 

Oh well, masih banyak contoh- contoh yang lain dan kalau saya certain pasti kalian pikir saya ini lebay dan melebih-lebihkan. Hmmmmm tapi sudahlah, saya cuma kasihan sama anak-anak murid yang punya orangtua kompetitif, punya orangtua yang over-protektif, orangtua yang ga bisa nunjukin manner yang baik. Memang tidak semua orangtua di sekolah seperti itu. Buktinya, saya punya orangtua murid yang semuanya baik-baik. Makanya saya bisa simpulkan bahwa tahun ajaran ini saya happy sekali mengajarnya.

Mak Sondang sering berkata, Happy teachers= happy kids, nah if your kids happy, then who will be happy next? Its YOU right, parents?

Ketika sang guru happy maka dia akan mengajar tanpa beban, kreatifitasnya pun meningkat. Bisa mengajak anak-anak tertawa, bercerita dengan penuh ekspresi, menyanyi dan bernari bersama tanpa beban, mengajar dengan penuh kesabaran, walaupun si anak benar-benar membuat gurunya pusing 7 keliling tapi si guru tetap mengajar dengan hati riang, karena mengingat orang tua anak-anak muridnya yang berperilaku manis dan baik hati, yang mau bekerja sama dengan baik. Dengan kata lain, bukan tipe orang tua yang reseh.

Eittssss, tunggu dulu! Apakah saya mengatakan bahwa kita harus baik-baikin gurunya supaya anak kita diperlakukan dengan baik di sekolah? No! that’s not what I mean. Ada juga yang baik-baik depan gurunya eh diblakang jelek-jelekin gurunya *sedih*. Terus terang, saya risih kalau ada ortu suka kasih-kasih kado or makanan tapi karena ada udang dibalik bakwan. Yaiyalah ketauan kok mana yang sincere alias tulus kan? Yang saya maksud adalah, Janganlah jadi tipe orang tua yang seperti saya contohkan diatas, bok!! Ga enak banget rasanya. Saya akan kasih tahu, beberapa tipe orang tua di sekolah seperti apa. Coba dicek, tipe orang tua seperti apa ya kita dalam berinteraksi dengan si guru:

1) Tipe orang tua yang INFORMATIF: Ini adalah tipe orang tua yang paling saya sukai. Informatif ini artinya si orang tua sangat memperhatikan details dari segala perihal yang bersangkutan pada  si anak. Misalnya, dia memberitahukan kalau anaknya belum bisa mengerti topik yang diajarkan minggu lalu, tolong dibantu di sekolah. Memberitahukan kalau si anak sedih karena dia kemaren berantem dengan temannya, menanyakan solusi pada si guru. Semua dituliskan di communication book. Atau bikin appointment untuk membicarakan pada sang guru. Pokoknya si ortu ini akan memeberitahukan si guru akan hal apa pun yang berkaitan dengan perkembangan proses belajar mengajar si anak. Gurunya ga akan merasa terbebani kok. Apalagi disampaikan dengan cara yang sopan.

Berdasarkan pengalaman saya, bahwa tipe orang tua yang informatif seperti ini, biasanya perkembangan anaknya akan melesat tajam karena si guru jadi mengerti betul bagaimana meng-handle anak itu dengan baik karena orang tua juga mau bekerja sama di rumah untuk membantu perkembangannya. Oh I love all my parents this school year! Semua tipe yang ini….Saya senang sekali…. Thank God!!

2) Tipe Reseh

Maaf ya ga nemu term lain untuk tipe yang ini. Kalau yang ini beneran paling annoying. Saya kalau udah dapet tipe parents yang seperti ini kok rasa-rasanya mau masuk kolong meja aja deh, ngumpet disitu aja dan ogah ngajar. Hiksssss! LIKE SERIOUSLY.  Soalnya dikit-dikit nyalahin guru dan sekolah. Mau tau, apa aja yang orang tua reseh lakukan pada guru dari anak-anak mereka?

  1. a) Miss, anak saya sakit loh selama weekend, karena air minumnya di sekolah pas hari Jumat kemaren ga diabisin. Oh ya ampun jadi dia nge-blame sekolah nih karena air minumnya ga habis. Ok ya di sekolah itu anak-anak sekitar 4 jam lah. Tiap hari minumnya pun habis. Nah, biasanya anak-anak itu harus habiskan air minum di botolnya masing-masing sebelum pulang. Ada aja hari yang mana rush banget dan ga sempet lagi habisin air minum. Dalam 24 jam itu kan si anak cuma menghabiskan 4 jam di sekolah, lalu si orang tua emang ga nyuruh anaknya minum selama sisa 20 jam itu? Let say selama dari pulang sekolah yaitu jam 12 siang sampe malam harinya. PFFFFTTTTTT!
  2. b) Miss, anak saya jangan dikasih makan yang manis-manis dan cokelat-cokelat ya di sekolah, soalnya anaknya alergi cokelat. Iya gurunya manggut-manggut. Lah terus besokannya si guru liat lunch box anaknya isinya kue-kue cokelat dan segala yang manis-manis. Lah iki piyeeee toh???? Bukan! Bukan nanny or mbaknya kok yang masukin. Ahhh speechless!
  3. c) Miss, jepitan anak saya hilang sebelah, tolong dicari ya miss sampe ketemu. Duhhh kesian amatlah tuh guru sampe gempor nyari karena di cecar mulu ama ortu harus nemuin tuh jepitan kecil sebiji. Kalau ketemu kan pasti dikembalikan.
  4. d) Miss tolong suruh anak saya makanannya dihabiskan ya. Nah ini dia nih ortu paling tricky. Sekarang gimana ga tricky coba? Kalau ternyata si anak adalah tipe yang susah makan, dan picky eater. Lalu kita gurunya dibebankan orang tua untuk menyuruh anaknya menghabiskan makanannya. Udah gitu, dibikin lah itu porsi penuh se-tupperware. Yasalammm banget kan ya! Bagaimana cara si guru mau bikin anak ngabisin makanannya kalau di rumah aja si anak makan cuma se sendok dua sendok. Tricky banget kan! Ntar kalo makanan anak ga abis itu jadi beban si guru. DAN KEJADIAN INI SUNGGUH BANYAK SAYA ALAMI.

Mau tahu jawaban saya kalau menghadapi tipe orang tua sperti ini?

Maaf ya bu, tolong jangan bawakan bekal yang sebanyak itu, karena di sekolah kita cuma punya waktu 30 menit untuk makan, dan bawalah makanan yang pasti bakal dimakan sama si anak. Latih dirumah untuk makan makanan sehat. Dsb….

Disangkanya kita petugas tantrib yang mana entar anak-anaknya takut ama gurunya, jadi tuh anak pasti bakal mau makan dan abisin makanannya. Mumpung di sekolah gitu, udah bayar mahal-mahal. Si ortu mau mendelegasikan tugas memberi makan anaknya pada sang guru juga. Ya jangan gitu juga kali ya bu! Hihihihi

    e) Miss tolong anak saya jangan duduknya didekatkan dengan si B ya, atau si C. Iyaaa dituruti, but saying this like every single day. Miss tolong liatin kalau main ya, jangan sampe anak saya jatuh. Like every single day!!!

Hmmmmmm aku speechlessssssss…

3) Tipe Orang tua Cuek
Nah yang ini mah cuek banget, kebangetan. Susah dihubungi, dikasih surat or message ga pernah dibales…alesannya selalu ada di luar kota or sibuk kerja. Itu bukan alesan karena saya menyaksikan banyak ibu bekerja yang details banget soal urusan anaknya. Details disini bukan yang demanding ya. So, jangan terlalu cuek juga.

Jadi begitulah kira-kira gundah gulana saya.

Semoga ocehan saya diatas bisa diambil positifnya ya, saya juga menghimbau para guru untuk yakin dengan profesi yang dijalani. Yakin kalau menjadi guru itu bukan sekedar profesi tapi passion yang tak kenal lelah dan penuh sabar menghadapi anak-anak muridnya, meskipun harus menghadapi berbagai tipe orang tua yang super duper bikin kepala cenat cenut!

Dear my fellow teachers,
Keep calm and be a Good teacher!
Because we teach, we care, we inspire. (Tsahhh yell2 sekolah ayeee tuh makkk) hahaha

Dear beloved parents,
Keep calm and be the sweet parents!
Because Happy teachers means Happy kids, and happy kids means happy you! Yes happy parents.

So, shall we become good partners?

image
12 years teaching and I’m still happy and passionate…

34

5 Years!

This class picture is inpired by ko Arman Thank you!.....I tell you this is not an easy work to do.....hohohoho :D

This class picture is inpired by ko Arman Thank you!…..I tell you this is not an easy work to do…..hohohoho 😀

It’s not about wedding anniversary,

It’s not about my child’s birthday,

It’s not about my blog anniversary,

It’s just about how long I’ve been working in this school where I work now.

Why do I have to write this? simply because this is the first time in my life  I stay in the same working place for 5 years….. *clap-clap-hooray* 🙂

Yeah! the longest place I’ve stayed in the same working place before was in 2007, I spent for 3 years only. That was an awesome place to work at, I have many wonderful and crazy friends there. All was fun except the payment…..*LOL* no just kidding dude! Don’t be a teacher if you want to earn lots of money! don’t you? 🙂

That place had given me an opportunity to continue my Master degree program. Why I said opportunity? because of the nice working hour (from 7.30-3 pm) and so many “tebengan” from cengkareng to go to my campus (Atma Jaya) in Sudirman. I went to campus from Monday-Thursday (4.30-7.30 PM), well please note that I was still young at that time and still single-and hide lots of energy in my body…..But I think I need to move to another school because I felt stuck and too comfort and again please remember that I was still too young at that time. So I needed to explore another places… LOL 😀

Same thing with the place where I work now, I feel so comfort here and such a very nice place to work. I love the environment, I love my colleagues, I love my students, my boss? well nobody perfect! the payment? hmmmm not bad..but of course again will not  make me rich! 😀

How can I not love this place?

I only need to ride my motorbike for 10 minutes (but now after we moved to my mom’s old house, I need 20 minutes, but still ok!)

I was one of the first teacher being recruited there because it was a new campus.

I was the first employee who got married (just 4 months after the school opened) and pregnant and gave birth there…. *oh no! I’m not proud of this part, because I remember  my boss’ face turned blue when she knew that I was pregnant again for the second time..HAAAHAHAHA……rugi diana ya bokkkkk* 😀

Thats me 5 years ago....still single and taken *uhukkkk* :D

Thats me 5 years ago….still single and taken *uhukkkk* 😀

The first time I was here, the school building was not even ready yet, so I need to go to the main campus which located in Lamandau-Blok M. I need to do some observations for almost 3 months there.

The school building at night before the school opened

The school building at night before the school opened

an empty hallway..5 years ago

an empty hallway..5 years ago

The classroom still empty.....really! I still can smell the paint from the wall *uhukkk*

The classroom still empty…..really! I still can smell the paint from the wall *uhukkk*

During the first 2 years we still have this mini aquarium and fish in each classroom, but now we're too busy *or too lazy?* lol

During the first 2 years we still have this mini aquarium with fish in each classroom, but now we’re too busy *or too lazy?* lol

It is not easy to start everything from zero. The first two years  were full of hardworks. We sometimes fed up with the working load and with so many things. I remember that I always went home late like 7 or 8 pm. I almost lost Gwinette during my first pregnancy. Yeah I push myself too hard.

My first door decoration in this school...awwww so messy and not interesting at all. Anyway the theme is changing every term (3 months) The first theme we had at that time was: CREEPY CRAWLIES

My first door decoration in this school…awwww so messy and not interesting at all. Anyway the theme is changing every term (3 months) The first theme we had at that time was: CREEPY CRAWLIES

The painting on the window. Yes we should erase this after 3 months and make another painting according to the theme.... and we have lots of windows to be painted! zZzZzZzZZZZZZZZZ

The painting on the window. Yes we should erase this after 3 months and make another painting according to the theme…. and we have lots of windows to be painted! zZzZzZzZZZZZZZZZ

Still the painting on the window

Still the painting on the window

The ant burrow

The ant burrow

On the 4th year here, I almost made a decision to move to another school because there was a better offer given to me. But because of the “rayuan gombal” of my boss, here I am doing the same thing in the same place but I’m still loving it…….  😀

After thinking this and that, and after I notice how easy weezy for me to get permission to go home early whenever my children got sick or need me, or if I have urgent situation, So I think it’s better to stay than leave. This was one of most expensive privillege of being a working mom, right?

And for all those “motherhood” reasons, I’ve changed my mind not to move to another school, Here I am….still staying here for 5 years already!

Maybe for some of you 5 years is nothing, because I know you guys have been working in the same place more than 5 years. Therefore, this writing is just *again* a reminder to me, to be thankful to God for giving me a good place to work,  nice colleagues, nice for everything.

There is no perfect working place, I know it. But for me, as long as everything still worth it, why you should leave?

I even can enroll my children here with 75% discount  😀 (ngarepnya sih gretong)

and above all, please don’t forget….I can reach the school with my motorcycle in 15-20 minutes only……wooohooooo!!!! *remembering the crazy traffic in Jakarta*

*I don’t want to think about the distance from our future house in Tangerang later….. ohhh no!!!!* (tomorrow is tomorrow lahhhh…..gausah dipikirin dulu 😀

My plan in the future (If God still allow me to work here), every morning from our house in Tangerang, I will drive the kids to school (hey Jo!!! you should drive!! drive!!! ) The kids will stay in the school with me until 3 pm (my working hour is 7.30-3.00 pm)  or if the OMPUNGS (Granny and granpa) miss them, they can pick up my kids at 12 or 1 pm to their home and will pick them after 3.

Wowwww! sounds a good plan haaaa???

I’m thinking that I won’t need any nanny anymore here. I just need a helper to wash and iron the clothes. The rest, I think I can manage.

SADAPPPPPPPPPPPPHHHHHH……

lalu terdengar sayup-sayup suara2 berteriak………

“SUMPEHHHHH LO JOE????!!!!!!!”

“MANA MUNGKINNNNN!!!”

buahahahaha……..OK! this is just my scenario…..

we need to plan for everything right?

or we need to prepare for the worst, am I right? 😀

YEAH! like my favourite lecturer always told me before….

“Those who FAIL to PLAN, PLAN to FAIL…”

Back to the topic, about working place. I just can’t imagine if Iwill really have to move or to leave from my work now. I remember in 2007 I was very sad and can’t stop crying when we did the farewell party, That was the best 3 years experiences at that time. Working with my wonderful friends and always feels excited to go to work. If 3 years has made me very sad, all the more with 5 years. Ohhhhhh I am so drama queen! 😀

Honestly, I still have another dreams for my future career, but for now, with this kind of situation, this is the best place for me to stay and to work. I still have Gwinette and Gavin as my priority.

So, how about you? how many times have you moved from one working place to another? and how many years is the longest time you’ve stayed in one working place?

xoxo

joeyz

 

 

24

Termotivasi atau tertantang?

Bingung loh kadang saya sama dua kata diatas…

Termotivasi atau tertantang…..

Jadi gini, saya abis discuss progress anak-anak didik saya disekolah. Mereka emang masih umur 4-5 tahun, tapi banyak sekali ternyata potensi yang dimiliki masing-masing anak. Potensi disini maksud saya nggak cuma secara akademis loh ya, tapi juga mencakup social and emotional skill si anak.

Saya punya dua anak didik yang sangat butuh ekstra perhatian dan tenaga untuk mengembangkan potensi dalam diri mereka.Setelah dengan segala kemampuan yang saya miliki (tsahhhhhh…macam superhero kedengerannya ya), maka saya mulai mengevaluasi dua anak didik saya tadi. Yang si KC (4,5yo/boy) udah nunjukin banyak progress, nah yang si AP (4,7 yo/girl) kok yah progressnya belum keliatan. Ada sihhh tapi dikitttt banget. I know every child has different time for blooming. Tapi di case ini saya terhenyak sebentar…(haddeuhh bahasanya terhenyak pulak)…iya jadi kan si KC ini tadinya pemalu, suka pukul temen, ga mau disuruh ngapa2in..secara akademis juga masih banyak sekali kurangnya (tapi kalo soal akademis, sperti saya bilang tadi, bukan concern utama saya) Jadi yang saya pengen anak2 didik miliki pertama adalah rasa tanggungjawab terhadap diri mereka dan segala tugas dan kewajiban mereka. Terdengar berat ya untuk anak TK, tapi maksud saya disini sebenernya “enthusiasm in doing class activities”.

Seneng ga dia datang kesekolah? Seneng ga dia ketemu guru and temen2nya?, seneng ga dia melakukan aktivitas disekolah, macam : menyanyi, bermain(ini mah semua rata2 seneng ya), doing art and craft activities, listen to the story, makan (ehh kok makan? Iya banyak kan anak susah makan) dll

Saya ga mau bahas panjang lebar secara details tentang enthusiasm ini tapi mau bahas tentang tipe2 orangtua murid dari anak2 didik saya disekolah.

Setelah mengevaluasi dan mencoba menerka-nerka sebenernya apa sih ya penyebab si AP ini kok belum nunjukin progres yang signifikan dalam berbagai bidang? Dan kenapa temennya si KC udah? Oh iya saya mulai ingat2 bahwa saya hampir tiap hari komunikasi dengan mamanya KC, ngomongin progressnya dan hal2 yang bisa dilakukan dirumah untuk menstimulasi si anak. Dan saya salut bahwa si ibu ini sungguh merespon dengan baik dan melakukan hal2 yang saya bilang tadi.
Lalu bagaimana dengan si AP? Ohhh terkadang sulit bahkan menghubunginya lewat telfon, karna keduanya sibuk bekerja. Eits I don’t blame the working mom here… because this is the point that I want to highlight… bahwa mamanya si KC tadi pun adalah working mom yang punya dua anak…dan dia harus bisa bagi waktunya untuk ngajarin abangnya si KC yang udah kelas 3 SD. Mamanya ngaku kalo emang dia sering lebih fokus ngajarin abangnya daripada si KC, tapi untunglah komunikasi kami lancar jadi bisa lebih cepat menstimulasi KC untuk mengembangkan potensi dalam dirinya.

Sekarang KC semangat banget kalo belajar, selalu aktif dalam diskusi kelas, juga selalu minta sekolah walaupun sebenernya lagi sakit (ya ampun, gurunya terharu) ini bukan terharu karna sayanya ya, tapi terharu sama mamanya KC. Wahhh keren baget ya bisa jadi working mom tapi tetap punya peran dalam mendidik anak. Menyisakan waktu buat anak.

Saya sering tanya nanny nya si AP tentang bagaimana dirumah, apakah si AP terlalu banyak nonton tv or main ipad? Jawabannya nggak. Apakah sering menghabiskan waktu dengan mama or papanya? Jawabannya NGGAK! Hikssss dalam hati meringis, gak mau judgemental disini tapi inilah kenyataan bahwa ada missing part dalam diri si AP ini, bukan karna di ga bisa, tapi karna ga ada orang yang menstimulasinya. Nannynya sih baik banget mau ngajarin dirumah tapi, sesayang2nya nanny, apa iya itu yang dibutuhkan si anak? I DON’T THINK SO. Jadi saya sok2an menyimpulkan bahwa sebenernya peran ibu dirumah dalam berinteraksi dengan anak adalah pengaruh yang cukup besar untuk tumbuh kembang anak. Sesibuk apapun kamu haiii ibu2 kece! * ngomong ama diri sendiri*

Kesimpulan saya diatas sih nggak ilmiah banget . OK ga mau lebih lanjut lagi ngomingin yang AP yah tapi mau kasih tau bahwa saya bener2 jadi termotivasi melihat mamanya KC yang tetap menyempatkan waktunya untuk belajar bersama anak2nya.
Adalagi nih murid saya MT yang progressnya melesat bagai roket….hissss keren amat ya ibunya. Karna pas saya cerita progress anaknya diskolah eh ternyata ibunya emang tiap hari luangkan waktu untuk belajar sama anaknya…Gak cuma belajar tapi main dan ngobrol2 alias berinteraksi sama anak2nya.

See! How important spending time with our kids? Dan tolong dicatet bahwa si ibunya MT tadi juga sibuknya luarr biasaaa. Kerja kantoran yang sering tugas luar kota juga.

Ngeliat mama2 yang super kece ini saya jadi termotivasi dan tertantang untuk bisa seperti mereka. Toh waktu saya lebih lowong kan harusnya. Saya bisa nyampe rumah jam 4 dan kalopun saya ada ngajar les private saya jam 7 paling lambat dah dirumah. Masih ada waktu kok.

Gwinette sekarang kritis banget tiap hari minta belajar ama saya. Gak musti selalu menulis sih, tapi maunya saya tanya2 dia tentang pelajaran diskolah. Misalnya kan dia lagi belajar beginning sound of each words. Ntar dia ngomong gini nih:
Gwin : ma, bahasa inggrisnya belajar apa sih?
Me: study
Gwin:mommy, lets study again
Me: we have studied kak, mama needs to take a shower now and eat my food
Gwin: No… i want to study with mommy…
(Jadi si gwin ini lagi getol2nya speak in English karna kan diskolah full English, tapi berhubung gwinette get exposed with indonesian language at home jadinya dia masih belepotan banget kalo ngomong English)
Sesi belajar ala gwin pun mulai.
Gwin: what begins with m???
Me: monkey
Gwin: mop, moon
Gwin: what begins with b?
Me: ball,book
Gwin: balqis ( jiahhhh nama guru di skolah bok!..hahaha)

Pokoknya belajar gitu2 deh tiap hari diulang2 semua huruf and vocab yang dia udah belajar diskolah. Padahal menurut gurunya dia masih pasif dan diam kalo class discussion. Dia aktifnya kalo nyanyi aja.
Saya kan ekspetasinya ga tinggi. Yang penting dia happy kesekolah dan bisa get along well with her friends.

Udahlah saya guru dan punya anak yang lumayan semangat belajar, eh saya masih males juga ngajarin anak sendiri. *geleng2 kepala*
Tapi setelah melihat parents2 diskolah saya tadi kok saya jadi merasa tertantang dan termotivasi (ehh ada bedanya ga sih dua kata itu?) Yah pokoknya gitu deh…..jadi semangat dan optimis mau meluangkan waktu lebih banyak lagi buat anak2 dirumah. Story telling sebelum bobo udah sering bolong2 nih, dulu rutin tiap malam… wish me luck ya manteman biar bisa terus memperbaiki mutu dalam menjalani peran ibu (tsahhhh bahasanyeee!!)
Udah ahhh ntar malah curcol pulak lagi….

Happy weekend everybody…..

(Ditulis lewat hp, didalam bis transjkt otw ke medistra gatsu mau cekiceki my broken tailbone… hikssss)

image