38

Siap bersaing?

Apa perasaan kalian saat tahu bahwa di dunia pendidikan kita sekarang lebih banyak tenaga pengajar asing yang bekerja di sekolah kita? Sekolah yang lokasinya masih di Indonesia raya tercinta ini loh?

Biasa aja ya?

atau kalian nggak perduli mungkin?

Ya terserah sih ya, ini asli deh postingan yang saya buat hanya berdasarkan gundah-gulana saya sebagai salah satu tenaga pengajar lokal yang semakin bertanya-tanya atas keberadaan tenaga pengajar asing yang semakin membludak aja di negeri tercinta kita ini. I mean, it’s ok sih, kita memang mengakui bahwa kita masih perlu banyak belajar dari mereka, tapi bila jumlah mereka lebih banyak dari kita guru lokal, apa iya kita nggak mau resah? ada apa sama mutu pengajar lokal kita? kemana para tamatan sarjana pendidikan itu? 

Ok, sebelum kita mulai menjawab satu-persatu pertanyaan atau keresahan yang selalu ada dalam benak saya itu, saya mau cerita dulu ya tentang apa yang saya alami selama kurang lebih 11 tahun berkecimpung didunia mengajar.

Saya mulai mengajar sebagai dosen honorer di universitas tempat saya berkuliah dulu, tapi saya merasa belum cocok lah, anak s1 kok ngajar s1 (gitulah kira-kira komen nyinyir orang sekitar waktu itu) yowes, akhirnya saya yang dari dulu suka sama dunia anak-anak, mencoba melamar di sekolah-sekolah national plus/international school di Jakarta.Dapatlah ngajar di Sekolah national plus yang waktu itu lokasinya di Wisma Subud- Jak-sel. Di sekolah ini, murid-muridnya datang dari berbagai negara, dan banyak juga yang half-indonesian. So, wajar ya kalau banyak guru native speakernya. Mostly dari Australia. Karena sekolah ini berbasis kuruikulum Australia. Tapi seingat saya, waktu itu guru lokalnya juga banyak, dan menurut saya guru lokal tetap jumlahnya lebih banyak dari guru asing. Guru lokalnya memang rata-rata yang punya kualitas sih. Bukan tipe guru-guru jadul yang konvensional itu. Waktu itu saya mengajar di lembaga learning centre (anak-anak penderita autisme). 

Lalu saya pindah ke sekolah national plus lainnya di Jakarta-Barat. Di sekolah ini juga ada satu guru berkebangsaan Amerika, lalu beberapa guru dari Philippine dan ada 2 or tiga guru dari India. (Orang India dan phillipine maksudnya). Tapi tetap, waktu itu masih lebih banyak guru lokalnya. Gak tau deh sekarang.

Sekolah selanjutnya tempat saya bekerja ada di daerah Menteng. Nah disini sekolahnya kecil, cuma ada 6 kelas waktu itu. Itu artinya homeroom teachernya cuma ada 6 donk ya. Waktu itu  perbandingannya masih balance. Tiga guru lokal dan tiga guru dari Phillippine.

Lalu saya pindah ke tempat saya mengajar sekarang ini. Ditempat saya mengajar ini dulu waktu awal sekolah ini buka, cuma ada 4 orang asing (Semua dari Phillippine). dan sekarang setelah tahun ke 6 saya mengajar, coba tebak ada berapa guru asingnya? bok!!! mereka udah ada 13 orang aja donk! Gilingan kan ye! Yang bikin saya terheran-heran adalah, tahun ajaran ini ga ada satupun homeroom teacher lokal yang di hire. 

What’s wrong? 

Ok, firstly ya iyalah tentu dengan sekolah yang ber-embel-embel national plus/international school, para orang tua murid yang udah bayarnya muahaaaall banget itu pasti ekspektasinya tinggi juga donk dengan mutu pendidikan yang akan didapatkan oleh anak mereka. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya diatas tadi, maka kita harus tau dulu apa alasan mereka menyekolahkan anak mereka disekolah internatioanal yang mahal banget itu?

Ok, alasan mereka selain punya mutu pendidikan yang tinggi dan bagus, juga fasilitas kece tentunya alasan utamanya adalah supaya anak-anak mereka dapat berbahasa Inggris secara aktif, atau dengan kata lain :

 To be able to speak English fluently. As fluent as possible. KALO BISA CAS-CIS CUS-MACAM ORANG AMERIKAAHHHH 😀 😀

Dalam tulisan saya ini, saya tidak mau menilai baik buruknya sekolah national or international, atau baik buruknya sekolah yang menggunakan bahasa Inggris atau bahasa apapun yang dipelajari disekolah itu.

 Dalam tulisan ini saya hanya mempertanyakan: Dimanakah para tamatan or lulusan sarjana pendidikan itu? yang nota-bene memang semestinya menerapkan ilmu yang didapatnya di bangku kuliah dulu untuk diterapkan di lembaga pendidikan. Tentu, lagi-lagi tulisan ini tidak akan menilai baik-buruknya punya profesi guru meski seseorang punya background sarjana pendidikan atau tidak. Tapi sejujurnya, saya cuma mau bertanya, tidak ada lagi kah stok guru lokal yang berkualitas? yang siap bersaing dengan para guru asing yang makin membanjiri negara kita ini?

Saya tahu banyak sekali sebenarnya orang-orang berpotensi yang bisa menjadi tenaga pengajar lokal di sekolah-sekolah bertaraf international, baik itu dari sarjana pendidikan atau bukan. Tapi mungkin tidak semua punya passion or minat yang sama terhadap dunia pendidikan ini. Saya pribadi adalah orang yang masih jauh dari “bagus” or “berkualitas tinggi” dalam dunia mengajar or sebagai tenaga pengajar. Tapi saya punya passion yang saya rasa cukup besar dan itu sebabnya saya masih terus belajar setiap hari. Proses belajar saya kadang melalui rekan kerja sesama guru, buku yang saya baca, atau bahkan dari blog para guru-guru kece diluar negeri sana. *ya ampunnn sering speechless liat ide-ide dan kreatifitas mereka*. Saya sering intip jenis-jenis aktivitas yang mendukung kreativitas anak dan saya sering aplikasikan pada murid saya. Ya istilah kerennya, saya nyontek ide-idenya mereka gitulah, dan kadang ya musti di modif-modif dikit menyesuaikan dengan sikon.

Apa yang mau saya sampaikan disini adalah, betapa sedikitnya peminat untuk menjadi guru. Guru yang berkualitas, guru yang punya dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan. Kira-kira kenapa ya?

Jiahhhh pake nanya! ya pasti karena gajinya seumprit kan Jo!

*hening sejenak*

😀

Eh tapi siapa bilang gaji guru itu  gak ada yang gede? tergantung situ negonya bagus gak? hehehehe…..ga dink becanda! ya tapi gini, jangan salah ya, banyak kok guru-guru lokal yang gajinya hampir sama dengan guru asing yang dari asia (india dan phillippine) Tapi kalau mau sama dengan mereka, ya guru lokalnya setidaknya punya kualitas dan kemampuan yang menyamai juga donk. Ya mutu mengajarnya, ya English skillnya! Beugghhh ! gede juga tantangannya ya. Tapi ya gimana donk? kita kan mau bersaing nih! Jadi kalau mau meningkat secara karir or jumlah materi yang didapatkan, udah pasti harus kerja keras juga donk dalam meningkatkan mutu dalam diri sendiri kan. Asal inget ye, kalau mau jadi kaya, yah jangan jadi guru. hihihi 😀

pic borrowed from pinterest

pic borrowed from pinterest

Di kampus tempat saya kuliah dulu, jumlah mahisiswa pendidikan adalah yang paling sedikit. Saking sedikitnya, ampe malu mau deh mau nyebutinnya. Eh tapi ngapain malu dink ya. Jadi teman sekelas dulu (yang seangkatan) hanya 12 orang saja (dah macam 12 murid yesus kan) Dan saya ingat waktu itu para dosen dari fakultas pendidikan pada bilang kalau angkatan kali ini paling banyak jumlahnya mahasiswa/i nya. Whatttt….????? 12 dibilang banyak? lah trus yang tahun-tahun sebelumnya berapa donk? yak…jangan pada pingsan ye bacanya… kakak-kakak angkatan kita terdahulu ada loh yang cuma ber-4 doank sekelas…eh tunggu dulu…belum pingsan kan? ada juga deh yang cuma berdua dan bahkan satu orang saja…..huhuhuhu ga ngebayang dah itu gimana suasana kuliahnya ya, dah macam les private aja ya. Andaikan dosennya seganteng Bradley Cooper atau Christian Bale sih mungkin ga masalah, yang ada betah-betah aja. Tapi ya situ tau sendiri ye kenyataan berkata lain. 😀

images (1)

Fakultas pendidikan ini emang paling kurang diminati sih di beberapa universitas. Tapi setau saya, di Kampus Atma Jaya (tempat saya kuliah pasca sarjana dulu) mahisiswa pendidikan nya lumayan banyak loh. Ya tapi tetep ga sebanyak jurusan Akutansi dan kedokteran dan jurusan lain. Yaiyalah ya, orang pasti mikir juga ngapain kuliah mahal-mahal eh endingnya jadi guru.

Tapi ya kalo seseorang punya passion dalam dunia mengajar, dan punya kesempatan untuk mengembangkan kualitas dalam dirinya, kenapa ga jadi tenaga pengajar aja? Yuk, kita sama-sama membangun bangsa ini khususnya dari segi pendidikan, memperbaiki dunia pendidikan indonesia yang udah makin bobrok aja. Kalau bisa sih menghapus cara-cara konvensional itu. Saya sih gemes banget pengen menghapus adanya UN (ujian nasional) Errrrrrr…dan banyak lagilah yang mau dibenahi.

Jadi kalau ada yang kebetulan baca tulisan ini dan merasa punya passion dan kemampuan untuk menjadi tenaga mengajar, ga ada salahnya bergabung menjadi salah satu tenaga pendidik untuk ikut serta memajukan bangsa ini dari segi pendidikan. Mosok seh musti import-import tenaga pengajar dari negara asing melulu? apalagi negara asingnya cuma negara tetangga deket aja.

WHICH IS IN MANY WAYS, WE ARE FAR BETTER THAN THEM! TRUST ME! TRUST ME!

Teacher-Quote_thumb[1]

So, buat yang punya adik-adik or saudara  yang sekiranya masih ragu mau ambil jurusan apa di kuliahnya, Fakultas pendidikan bisa menjadi salah satu alternatif. Iya, masa depan kalian mungkin ga akan secerah para dokter dan insinyiur or para pengacara, tapi sekiranya punya panggilan jiwa untuk mengajar, kenapa nggak kan? *ini kenapa gue kayak maksa dan promosi abis-abisan fakultas gue gini ya?* hahahhahaa ya abissss eikeh desperate bok liat tenaga pengajar asing yang makin buanyakkkk ajeeeee plek-numplek-plek dinegara kita ini. Semoga mereka di hire emang karena kualitas mengajarnya, bukan hanya karena mereka cas-cis-cus eh ternyata class managementnya aja amburadul……bisa moydarrr deh itu yang jadi owner sekolahnya. Rugi bandar bok! udahlah gajinye selangit, musti bayar dan ngurusin ijin kerja, nyediain tiket pp kenegara asalnya minimal setaon sekali, plus nyediain apartemen or tempat tinggal. HAISSSSHHH! 

Tapi ya, sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menunjukkan ketidaksukaan saya terhadap orang asing yang menjadi tenaga pengajar di sekolah kita, tapi kok ya rasanya rugi betul ya bayar mahal-mahal tapi dapat guru asing yang ga punya tanggung jawab or dedikasi terhadap pendidikan. Saya senang dengan kehadiran mereka, karena secara pribadi saya jadi bisa banyak belajar dari mereka (mereka ini yang punya kualitas aje ye, ada juga soale guru expat abal-abal).

Semoga tulisan ini menjadi bahan pengingat buat kita, bahwa dunia pendidikan kita ini masih butuh banyak dan banyak lagi orang-orang muda yang punya passion, punya dedikasi dalam dunia mengajar, supaya nantinya kita dapat bersaing dengan guru-guru asing itu dan ngusir mereka secara perlahan HAHAHAHA….ini piye toh, katanya ga masyalahhh ama guru asing…..eh sekarang pengen ngusir. hihihihi becanda ah! maksud saya gini loh, kalau misalnya semakin banyak tenaga pengajar lokal yang punya kualitas international, buat apa toh hire guru asing yang terlalu banyak? Nggak apa-apa hire guru asing beberapa, tapi harus diseleksi yang bener-bener bagus dan punya dedikasi dalam dunia pendidikan, ga cuma modal cas-cis-cus aje ye!

Uhuyyyyy!!! akhirnya lega bener deh ini udah mencurcolkan isi hati dah kegundah-gulanaan ku!

semoga tulisan ini bisa ditanggpai dengan postif ya. Kalaupun ada yang tidak setuju dengan tulisan saya diatas, please  dimaklumi saja, soale ini cuma mengeluarkan keresahan  hati aja sih. Hihihihi…

Eh sebenernya masih banyak sih aspek-aspek yang berkaitan dengan topik saya kali ini, tapi maap deh, ini aja udah panjang betulllll…ngantuk bo!!!!

So, Siap bersaing? yuk mareeeeeeeee!!!! 😀

xoxo

teacherJoeyz

18

Mencintai Mereka

Pagi tadi saya tiba-tiba keinget Keken, Marti, Azka,Wildan,Kezia, Joshua Rama, Ashley, Mike dan Yang-Yang.

Mereka adalah sebagian murid2 saya dulunya waktu mengajar di sebuah sekolah yang lokasinya di Fatmawati-Cilandak (sekarang udah pindah Gedung)

Bukan sekali-dua kali saya sering teringat mereka. Sering.

Saya selalu merindukan mereka.

Itu adalah momen mengajar yang paling singkat plus paling berkesan sepanjang umur hidup saya.

Saya hanya menghabiskan beberapa bulan mengajar disana.

Well, sebelum saya bahas lebih jauh, saya mau bilang kalo murid-murid yang tadi saya sebut diatas adalah murid-murid yang berkebutuhan khusus.

Ya, mereka yang disebut sebagai penderita Autism (High function)

Awal saya mengajar disana, karena diajak teman yang sudah lebih dahulu mengajar disana, singkat cerita saya diterima dan saya ga nyangka bakal ditempatkan di bagian LEARNING CENTER (LC).

Sekolah ini cukup unik. Mereka punya beberapa kelompok. Tentunya group paling besar adalah kelas mainstream (untuk anak2 pada umumnya)

Ada LC (learning center), untuk anak2 yang menderita Autis-high function. Artinya, anak-anak dikelompok ini masih bisa belajar akademis selayaknya yang di mainstream tapi jumlah maksimal tiap kelas adalah 2 sampai 3 orang. Kebanyakan sih 2 orang, dengan 1 guru.

Ada LSU (learning support Unit) untuk anak2 penderita Autis high function tapi dengan usia yang sudah beranjak remaja (SMP /SMU)

Nah ada juga SN (special need) ini yang memang sangat-sangat berkebutuhan khusus.

Ada juga unit yang khusus buat anak-anak yang punya kesulitan konsentrasi, tapi saya lupa namanya.

Nah sistem belajar disini sangat unik menurut saya. Uniknya adalah karena anak anak di LC atau di LSU ada saatnya akan gabung dengan kelas mainstream.

Btw, kata “mainstream” yang sekarang tenar itu udah dipakai ama sekolah ini dari dulu. Kelas mainstream untuk anak2 pada umumnya.

Ohya, kalo Kelas SN (special need) belum boleh gabung sama mainstream, karena emang masih terlalu sulit buat mereka.

Jadi gini misalnya: Sebut aja Yang-Yang. Usia Yang-yang saat itu adalah 7 tahun, kemampuan berfikirnya sungguh luar biasa, terlebih urusan Math or hitung2an. Nah jadi setiap pelajaran Math di Grade 1 (primary school), Yang-Yang boleh gabung di kelas Mainstream.

Lalu ada Keken yang saat itu usianya sudah sekitar 10 tahun, dan Keken punya sense of art yang tinggi, maka Keken boleh gabung ama kelas mainstream setiap pelajaran ART.

Ashley  jago banget di Language, jadi tiap Jadwal Language dia gabung ke kelas  mainstream.

dan lain-lain………….

Awalnya saya bingung, buat apa sih kok ribet gitu?

Ternyata itu adalah salah satu hal yang melatih mereka juga untuk bersosialisasi dengan anak-anak lain diluar LC. Juga memeberi kesempatan pada mereka untuk merasakan kelas yang sama dengan anak-anak lain. Yah walaupun tetep mereka dengan “dunia”nya sendiri.

Tapi yang bikin saya selalu terharu adalah melihat sikap dari anak-anak lain dikelas mainstream terhadap anak-anak di LC or LSU, bahkan di SN.

Mereka yang di kelas mainstream sangat menghargai anak-anak dari LC, LSU, dan SN. Mereka tidak pernah menertawakan bahkan mengejek murid-murid kami. Mereka bahkan selalu menolong jika ternyata ada yang mengalami kesulitan.

Bisa bayangin kalo diskolah biasa, pada umumnya yang ada anak-anak ini akan jadi sasaran empuk untuk di bully. (pada umumnya loh ya, ga semua juga lah)

Suatu kali, tanpa menyebut nama. Ada anak murid saya dari LC, yang tiba2 mau ketoilet, karena dia usianya sudah 12 tahun, jadi ke Toilet sudah bisa sendiri, nah tiba-tiba ada anak Junior high yang lagi jam P.E di lapangan basket naik ke LC dan lapor kalo murid kami tadi abis buka celana ditengah2 lapangan basket dan dia pamer2 “itu” nya. Hiksssss kita langsung buru2 bawa sianak tadi ke atas. Ya, aksi mereka emang sering ga diduga-duga.

Kadang-kadang ada yang suka lari ke lapangan basket saat jam istirahat dan dia line dancing sendiri. Nah kita sebagai gurunya langsung lari deh bawa si anak keluar dari lapangan.

Ada anak yang lain dari LC yang terobsesi dengan military thingy, bakal lelompatan dan pura2 jadi tentara yang siap menembaki musuhnya. dan dia bisa ngelompatin siapa aja yang posisinya lagi duduk or jongkok. Jadi berasa kayak ada musuh terus dia. Dan ya ampun, pernah juga dia ngelompatin salah satu guru yang lagi hamil tua dan posisinya duduk di bawah. Yahhh emang bikin speechless sih. Tapi anak-anak murid di kelas mainstream aja sangat bisa menghargai mereka. Kitapun harus lebih dari itu. Bahkan kadang kita harus berpikir , bagaimana supaya kejadian serupa gak terulang.

Ada diantara mereka yang terobsesi dengan “brand” or merk. Jadi kalo kemana-mana yang dia perhatiin brandnya. Misalnya Sharp, samsung, hyundai, Nissan dsb. Dia bakal tetep ulang-ulang itu semua sampe dia capek sendiri. Tapi disaat yang bersamaan juga itu tugas kita sebagai guru untuk bisa bikin dia “back to track” lagi terlebih bila saatnya tiba untuk konsentrasi di jam pelajaran.

Ada juga diantara mereka yang sering menceritakan kejadian2 lama secara spontanitas. Jadi istilahnya sia anak suka tiba2 keinget kejadian yang udah terjadi berbulan-bulan lalu. Nah nyeritainnya itu ga pandang waktu. Bisa sesuka-suka dia saat dia ingat. Bisa tiba2 saat dia lagi dipertengahan makan, or nulis or bahkan saat gurunya menerangkan.

Belum lagi kalo saatnya mereka tantrum, wahhh yang bagian ini saya aga sedikit kesulitan karna masih baru dan saat itu saya masih muda banget. Umur saya 22 waktu itu. Saya musti panggil guru senior kalo udah ada anak yang tantrum. Bener2 saya liat bagaimana sabar dan tough nya semua staff pengajar disiana.

Saya inget selalu pesan si atasan saya kalo untuk mennjadi pengajar disini, guru bukan hanya dituntut supaya sabar, melainkan “TOUGH”

Yes, TOUGH!

Gimana ga tough, kalo tiap hari kita mesti mengeluarkan energi yang super untuk bikin mereka bisa tenang saat belajar, bahkan untuk fokus. Bahkan saat jam makan tiba, kita harus duduk bersama-sama mereka sambil supervise mereka makan. Menunya juga ga bisa sembarangan. Kita udah hapal mati menu si anak masing2nya. Belum lagi ada yang harus minum obatnya tiap jam 11 siang. Pokoknya bener2 energi terkuras habis. Kadang ampe ga nyisa. *Nggak lebay! seriusan*

Well, itulah segelintir kenangan waktu saya bekerja sebagai guru anak-anak di Learning Center.

Sungguh singkat memang, tapi saya ga bisa lama-lama disana. Yang pertama, jaraknya yang jauh. Saya tinggal dicengkareng dan harus berangkat jam 6 pagi untuk tiba di Cilandak jam 7.30. Bukan hanya itu, perjuangan mendapatkan bis or angkutannya pun sulit. Sungguh sulit.

Yang kedua, yang seperti saya bilang tadi, bahwa selain saya udah capek dijalan, energi saya bener2 ga bersisa pas udah nyampe rumah. Jadi mama saya yang komplen karena badan saya ini emang agak ringkih.

yang ke 3, hmmmm perlu disebut ga ya? oh jadi emang saya punya boss yang hmmmm….lanjutin sendiri aja deh ya! But I can deal with it….. beneran bukan karena dia saya resign, tapi emang karena energi saya tadi udah abis2an.

………………………………………………………….

Lalu saya resign…………….sedih harus pisah sama anak2 didik tercinta….

……………………………………………………………

2 YEARS LATER…..

iya 2 tahun kemudian, saya udah mengajar di tempat lain, tiba2, saya kangen sama anak2 di LC, lalu saya ke resepsionis di sekolah dan saya nelepon ke LC, and here is the conversation:

Me: Good afternoon Ibu, Its me Ibu Joice

Ibu S :Hey, ouhhh good afternoon Ibu Joice. Really? is this Ibu Joice?

Me: Yes, why? (saya bingung kok kayak kaget gitu)

Ibu S: well, joice kamu punya ikatan batin sama anak2, terutama sama Marti

Me: wah, emang kenapa bu? (bener2 bingung)

Ibu S : Jadi dari tadi pagi si Marti (Salah satu murid di LC warganegara filipin) panggil2 ibu joice terus menerus…gak berhenti2 dia panggil kamu joice

Me: oh really? masa sih bu?

Ibu S: Iya kamipun guru2 heran, terus kita mau hubungi kamu tapi kami takut ganggu karna pasti kamu lagi ngajar juga, dan eh pas banget kamu nelepon. Ya udah, sekarang kamu bicara sama marti ya Joice.

*lalu telepon pindah ke Marti*

Me: Hello Marti……how are you…..its me Ibu Joice…

Marti: Ibu Joice….Ibu Joice… (diulang2 aja gitu)

Me: do you still remember me, Marti? (Sambil mata udah berkaca2 nahan haru)

Marti : “Yes……Ibu Joice…Ibu Joice…. (lagi, diulang2)

Me: ” What did you eat for your lunch today?”

Marti: “rice and tofu”

Me: “Be a good boy okay Marti….I miss you and I love you very much….”

Marti: Yes, Ibu Joice…..Yes Ibu Joice….. (diulang ulang lagi)

Me: “Ok, I have to go now Marti….bye now…”

Marti: “Bye bye Ibu Joice, bye Ibu Joice”

*telepon ditutup*

*lalu mata sembab*

Hiksssss….saya kangen banget…………. MARTI dan yang lainnya….

Sebenernya saya ga terlalu deket dengan Marti, karna jarang ngajar dia. Paling kalo Math gantiin temen saya yang lagi halangan, tapi saya kan selalu nemenin mereka makan tiap hari, dan Marti selalu bawa popcorn buat snacknya. Saya masih ingat betul itu. Marti…..I miss you nak!

Saya suka terheran heran, bagaimana kuatnya memori mereka terhadap hal2 yang sudah lama terjadi….. Marti masih bisa inget saya setelah 2 tahun ga ketemu.

Bukan cuma itu. Suatu hari saya dan uppa lagi jalan-jalan di Plaza Indonesia, saya naik escalator dan ada seorang anak remaja wanita berambut panjang bermata sipit yang digandeng ayahnya turun dari escalator, dari jauh saya merasa wajahnya familiar buat saya. Lalu semakin dekat saya semakin jelas melihat bahwa gadis remaja itu adalah Keken, murid saya di LC dulu. Pas tiba kami berpapasan, si Keken tiba2 teriak,

“Ibu Joice…Ibu Joice……………”

saya kaget, surprise dan karna escalator tetap jalan, saya pun ga sempet berkata2 selain mengucapkan “Kekennnnnnnnn, you are so pretty”

Tapi mungkin dia ga dengar dengan jelas….

Hiksssss….saya terharu dan jadi cerita panjang lebar tentang Keken ke si uppa yang berdiri disamping saya.

Andaikan suatu hari nanti saya ada waktu, pengen bisaketemu mereka lagi…

Mengajar mereka berarti mencintai mereka dengan setulus hati.

Walaupun energi saya habis setiap harinya, tapi saya sangat mencintai mereka. Namun kondisi ga memungkinkan.

Seperti yang dikatakan atasan saya tadi, bahwa untuk menjadi guru buat mereka, bukan hanya sabar, tapi TOUGH!

Dan saya rasa, saya ini kurang TOUGH, menunggu bis berjam-jam, bersesakan untuk mendapatkan angkot, menembus macet dan semua sungguh ga bisa ditolerir……

Saya berdoa semoga mereka tumbuh menjadi orang- orang yang sukses dan bisa lebih independent  dan terlebih mereka bisa bahagia selamanya…Amin!

Oh ya satu lagi harapan saya buat mereka, semoga masyarakat dan orang2 disekitar mereka bisa menerima mereka dengan setulus hati bukan menertawakan bahkan mengejek mereka. Dan hmmmm semoga “kata AUTIS” juga tidak disalahgunakan, seperti yang sudah sering dibahas dimana2, banyak orang yang degan mudahnya bilang “duhhh gw lagi autis nih” padahal lagi asik main candy crush”

hmmm ga maksud nyindir ya, tapi emang kita ga tau bagaimana sakitnya perasaan orangtua terlebih ibu yang melahirkan mereka ketika derita anak mereka dijadikan lelucon bagi orang lain.

Well, enough said!

Saya berterimakasih pada Tuhan bahwa saya pernah diberi kesempatan untuk bersama-sama dengan mereka, melalui mereka saya diajari untuk lebih bersyukur untuk hidup yang saya punya.

Saya ingin kita semua melakukan hal yang sama,

Mencintai Mereka……………………

xoxo

Joice

pic is taken from here: http://edition.cnn.com/2009/HEALTH/03/30/hm.autism.teacher/

pic is taken from here